Presiden Suharto dan Ibu Tien meninjau KRI Cakra 401. Indonesia adalah pengguna kapal selam di kawasan.
Presiden Suharto dan Ibu Tien meninjau KRI Cakra 401. Indonesia adalah pengguna kapal selam di kawasan.

Pembangunan Kekuatan TNI AL Jaman Orde Baru, Armada Kaleng Kaleng? – HobbyMiliter.com. Dimata sebagian besar netizen, pembangunan kekuatan Angkatan Laut di era Orde Lama merupakan era yang sangat gemilang. Bagaimana tidak, pada masa itu kita cukup banyak mendatangkan kapal kapal perang dari berbagai negara. Sebut saja 2 fregat baru dan 2 korvet baru dari Italia. Sejumlah kapal cepat torpedo dan kapal pemburu ranjau dari Jerman Barat.

KSAL Laksamana TNI R Kasenda (duduk) dengan cermat mendengarkan penjelasan Komandan KRI Oswald Siahaan Letnan Kolonel Laut (P) Abu Hanifah H
KSAL Laksamana TNI R Kasenda (duduk) dengan cermat mendengarkan penjelasan Komandan KRI Oswald Siahaan Letnan Kolonel Laut (P) Abu Hanifah H, 9 Februari 1989.

Kapal Patroli Pantai dan Landing Ship Tank yang direncanakan sebagai kekuatan penyerbu utama dalam mendaratkan pasukan di Irian dari Amerika Serikat. Landing Ship Tank dan Tender Kapal Selam dari Jepang. 2 Kapal Selam Whiskey bekas pakai dari Polandia. Tanker dari Inggris. Dan terutama, barisan light cruiser, destroyer, fregat, penyapu ranjau, kapal selam kelas Whiskey dan kapal cepat rudal kelas Komar dari Uni Soviet. Tentu saja, sama seperti sekarang dan yang merupakan hal lumrah dalam transaksi keuangan antar negara, semuanya dibeli dengan hutang.

Baca juga :   Foto Kapal Tunda Baru TNI-AL, TD Anjasmoro

Kekuatan armada Angkatan Laut yang besar tersebut diadakan dalam rangka persiapan atas kemungkinan perang yang terjadi dalam kampanye Trikora dalam membebaskan Irian Barat dari penguasaan Belanda.

KRI Yos Sudarso 353 Pembangunan Kekuatan TNI AL Jaman Orde Baru, Armada Kaleng Kaleng?
KRI Yos Sudarso 353 – Pembangunan Kekuatan TNI AL Jaman Orde Baru, Armada Kaleng Kaleng?

Tentu saja bagi kebanyakan netizen, yang menjadi bintangnya dari armada tersebut adalah KRI Irian 201. KRI Irian sering disebut sebut sebagai kapal kombatan terbesar yang dimiliki Republik Indonesia. Kapal yang dibeli dalam kondisi bekas ini asalnya adalah bagian dari armada Angkatan Laut Uni Soviet.

Baca juga :   Airbus Serahkan Batch Pertama Heli AKS Panther Ke PT. DI

Nama aslinya adalah Ordzhonikidze, dari kelas Sverdlov. Kapal ini memang besar, panjangnya 210 meter.  Senjatanya 12 pucuk meriam 152 mm dalam 4 turret. Ditambah 12 pucuk meriam 100 mm dalam 6 turret. Untuk pertahanan udaranya, kapal ini masih mengandalkan 32 pucuk meriam 37 mm. Persenjataan tersebut masih ditambah 10 tabung peluncur torpedo khas Soviet 533 mm. [Bersambung ke Halaman Berikut]

23 COMMENTS

  1. jaman orde baru tdk ada satu pulaupun yg lepas dari nkri .coba jmn selanjutnya .kekuatan suatu negara tdk hanya tergantung pd alutsista sj tp juga kepemimpinan/prediden sangat berpengaruh.

  2. pertanyaanx lebih tangguh mana lbh di segani mana lbh beribawa mana ketika tuan ku bapak H.soehartoe jd presiden di masa orba dengan presiden setelah orba/reformasi,,terutama di bandingkan dng pemimpin rezim saat ini.

  3. Jaman orde Baru / jaman peralihan orla, AL itu gak terlihat peran nya di publik.

    Malahan, Banyak Militer Aktif AL yang masih setia sama soekarno semisal yang paling mencolok gubernur Ali Sadikin.

  4. alat perang jaman trikora warisan orla baru diakui dunia paling besar dibumi belahan selatan.orba berkuasa boro2 mau ngerawat,yang ada malah dipretelin sampe gak bs fungsi lagi.setelah itu mana ada kita kuat dengan daya detern yang tinggi.

  5. jaman orba tu jaman keemasan Indonesia,gemah ripah loh jinawi,toto titi tentrem kerto raharjo..saya adalah rkyat yg pernah hidup di jaman Pak Harto…semua pulau2 sengketa tak akan prnah lepas dari NKRI..

  6. Top memang era 70-90an…alutsista kri nya mumpuni…sampai sekarangpun masih gahar , kelas pkr kri owa , blm ada penggantinya ,mungkin penggantinya nunggu pkr martadinata komplit persemnjataannya.Jalesveva Jayamahe.

  7. Kan tergantung prioritasnya saat itu. Yang diutamakan “pembangunan ekonomi”, bukan kekuatan militer. Buat apa punya senjata serba wah, dari serba utang lagi, tapi rakyatnya miskin. Duit pampasan perang dibelikan senjata dan dibuatkan proyek mercusuar pencitraan sementara ekonomi morat marit, buat apa? Mau nyontoh Korut? Lagipula saat itu gak ada yang dianggap ancaman besar. Soviet sibuk di Eropa dan Timteng, dan juga saling cakar dengan RRC. RRC yang ekspansionis masih berkutat sendiri di dalam negeri lewat proyek edan revolusi kebudayaan dan main faksi faksian dalam elitnya. Komunisme, pki, sudah 9/10 mampus. Duri dalam daging Timor Portugis masuk kotak tahun 75. Lagipula Orba sibuk konsolidasi ke dalam. Makanya kekuatan militer diminimkan. Pasukan tempur “cukup” 100 batalyon, “sisanya” (mayoritas mlahan) maen di “pembinaan teritorial”. Alutsista juga otomatis ikut minim. Beli apa apa serba ketengan, asal gak ketinggalan jaman saja. Saat itu Minimum Essential Force nya juga ngikutin persepsi ancaman dari luar. Kalo dianggap minim ya ‘force’nya juga ikut minim.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here