Thursday, August 13, 2020
Home Militer Analisis Militer Pembangunan Kekuatan TNI AL Jaman Orde Baru, Armada Kaleng Kaleng?

Pembangunan Kekuatan TNI AL Jaman Orde Baru, Armada Kaleng Kaleng?

Pembangunan Kekuatan TNI AL Jaman Orde Baru, Armada Kaleng Kaleng? – HobbyMiliter.com. Dimata sebagian besar netizen, pembangunan kekuatan Angkatan Laut di era Orde Lama merupakan era yang sangat gemilang. Bagaimana tidak, pada masa itu kita cukup banyak mendatangkan kapal kapal perang dari berbagai negara. Sebut saja 2 fregat baru dan 2 korvet baru dari Italia. Sejumlah kapal cepat torpedo dan kapal pemburu ranjau dari Jerman Barat.

KSAL Laksamana TNI R Kasenda (duduk) dengan cermat mendengarkan penjelasan Komandan KRI Oswald Siahaan Letnan Kolonel Laut (P) Abu Hanifah H
KSAL Laksamana TNI R Kasenda (duduk) dengan cermat mendengarkan penjelasan Komandan KRI Oswald Siahaan Letnan Kolonel Laut (P) Abu Hanifah H, 9 Februari 1989.

Kapal Patroli Pantai dan Landing Ship Tank yang direncanakan sebagai kekuatan penyerbu utama dalam mendaratkan pasukan di Irian dari Amerika Serikat. Landing Ship Tank dan Tender Kapal Selam dari Jepang. 2 Kapal Selam Whiskey bekas pakai dari Polandia. Tanker dari Inggris.

Dan terutama, barisan light cruiser, destroyer, fregat, penyapu ranjau, kapal selam kelas Whiskey dan kapal cepat rudal kelas Komar dari Uni Soviet. Tentu saja, sama seperti sekarang dan yang merupakan hal lumrah dalam transaksi keuangan antar negara, semuanya dibeli dengan hutang.

Kekuatan armada Angkatan Laut yang besar tersebut diadakan dalam rangka persiapan atas kemungkinan perang yang terjadi dalam kampanye Trikora dalam membebaskan Irian Barat dari penguasaan Belanda.

KRI Yos Sudarso 353 Pembangunan Kekuatan TNI AL Jaman Orde Baru, Armada Kaleng Kaleng?
KRI Yos Sudarso 353 – Pembangunan Kekuatan TNI AL Jaman Orde Baru, Armada Kaleng Kaleng?

Tentu saja bagi kebanyakan netizen, yang menjadi bintangnya dari armada tersebut adalah KRI Irian 201. KRI Irian sering disebut sebut sebagai kapal kombatan terbesar yang dimiliki Republik Indonesia. Kapal yang dibeli dalam kondisi bekas ini asalnya adalah bagian dari armada Angkatan Laut Uni Soviet.

Nama aslinya adalah Ordzhonikidze, dari kelas Sverdlov. Kapal ini memang besar, panjangnya 210 meter.  Senjatanya 12 pucuk meriam 152 mm dalam 4 turret. Ditambah 12 pucuk meriam 100 mm dalam 6 turret. Untuk pertahanan udaranya, kapal ini masih mengandalkan 32 pucuk meriam 37 mm. Persenjataan tersebut masih ditambah 10 tabung peluncur torpedo khas Soviet 533 mm.

Namun sayangnya, kapal yang dimaksudkan sebagai senjata penggentar armada Belanda di kampanye Trikora ini datang terlambat sama sekali. Sebagai hasil diplomasi, Belanda dan Indonesia menyetujui bahwa Irian Barat akan diserahkan ke badan khusus PBB bernama UNTEA sesuai usulan dari diplomat Amerika Ellsworth Bunker, yang kemudian akan menyerahkannya ke Indonesia.

Korvet KRI Malahayati 362. 3 kapal kelas ini membuat Indonesia menjadi disegani di kawasan.
Korvet KRI Malahayati 362. 3 kapal kelas ini membuat Indonesia menjadi disegani di kawasan.

Dan Indonesia wajib menyelenggarakan referendum, Irian ikut siapa? Dan dalam referendum yang diadakan, Irian ikut Indonesia. Perjanjian New York yang mengakhiri sengketa Indonesia – Belanda atas Irian Barat sudah ditandatangani pada 15 Agustus 1962. Sedangkan kapal KRI Irian 201 ini baru diserahterimakan dari Angkatan Laut Uni Soviet ke Angkatan Laut Republik Indonesia di tanggal 24 Januari 1963.

Pada masa perang Dunia ke 2 maupun beberapa masa masa sesudahnya, memang doktrin bigger-is-better berlaku di dunia peperangan maritim. Senjata meriam kaliber besar, pada kapal ukuran besar, seperti yang melengkapi KRI Irian, dapat menjangkau jarak yang cukup jauh dan menimbulkan kerusakan pada lapisan baja kapal lawan. Namun semuanya berubah di periode 60-an dengan diperkenalkannya senjata rudal anti kapal.

BACA JUGA :  Roket Hydra 70, Salah Satu Andalan AH-64E Apache Guardian

KRI Oswald Siahaan 354. Kapal ini bersenjatakan rudal harpoon.
KRI Oswald Siahaan 354. Kapal ini bersenjatakan rudal harpoon.

Pelajaran yang diterima Israel dari Mesir ketika kapal kombatan utamanya, Destroyer INS Eliat ditenggelamkan oleh rudal anti kapal Mesir di tanggal 21 Oktober 1967 menjadi pembuktian bahwa senjata senjata kaliber besar di atas kapal bisa dianggap sudah obsolete. Destroyer INS Eliat yang bobotnya nyaris 2000 ton, di tenggelamkan oleh rudal yang diluncurkan dari kapal yang bobotnya hanya 60-an ton saja.

Di era orde lama ini, sering dianggap sebagai jaman keemasan Angkatan Laut Republik Indonesia, dimana di orde baru banyak dianggap lebih condong ke Angkatan Darat dan menganaktirikan pembangunan kekuatan Angkatan Laut, bahkan meminimalisir alutsista Angkatan Laut sehingga armada TNI AL di era orde baru diistilahkan anak jaman now sebagai kaleng kaleng. Benarkah demikian?

Setelah orde lama runtuh dan digantikan oleh orde baru, memang supply sparepart dari Uni Soviet sempat berhenti. Uni Soviet sempat menarik diri dari Indonesia, pertama karena berpalingnya Indonesia dari poros Jakarta-Moscow menjadi Jakarta-Peking (sebutan Beijing di masa itu). Di era 60-an, walaupun sama sama negara Komunis, Uni Soviet berseteru dengan China, bahkan sempat terjadi perang singkat antara keduanya. Kedua karena pemerintah orde baru memang condong menghapuskan pengaruh pengaruh komunis di tahun tahun awal pemerintahannya.

Helikopter Westland Wasp lepas landas dari geladak kapal perang KRI Hasanuddin 333 di Tanjung Priok
Helikopter Westland Wasp lepas landas dari geladak kapal perang KRI Hasanuddin 333 di Tanjung Priok

Namun pada normalisasi hubungan diplomatik di akhir era 60-an dan awal tahun 70-an, Uni Soviet setuju menjual sparepart alutsista militer hanya saja hanya mau menerima pembayaran secara cash keras alias tunai langsung lunas. Sedangkan untuk hutang hutang alutsista orde lama, pemerintah orde baru setuju untuk tetap membayarkannya setelah direstrukturisasi dan dipanjangkan termin pembayarannya menjadi 30 tahun dari tahun 1970.

Salah satu akibat dari normalisasi tersebut, sebagian besar armada eks-Soviet masih bisa berdinas di TNI Angkatan Laut hingga era tahun 80-an. Hingga digantikan oleh armada armada yang lebih modern.

Personel TNI AL belajar rudal Seacat
Personel TNI AL belajar rudal Seacat

Setelah 10 tahun-an berkutat memperbaiki kondisi ekonomi negara dengan membuat PELITA 1 dan PELITA 2, dengan ekonomi yang jauh lebih kuat dari pada era 60-an, di akhir era 70-an dan awal 80-an lah pemerintah orde baru mulai membangun kekuatan militernya. Itu dilakukan karena pondasi ekonomi yang sudah kuat sehingga bisa melakukan spending ke militer, ditambah  adanya kenaikan harga minyak dunia di era tersebut.

Di awali dengan pembelian kapal Destroyer Escort (Indonesia – Perusak Kawal) dari Amerika Serikat. 4 kapal perang bekas pakai US Navy ini dibeli pemerintah untuk mempertahankan kemampuan TNI AL. Kapal kapal ini di Indonesia diberi nama KRI Samadikun 341, KRI Martadinata 342, KRI Mongisidi 343 dan KRI Gusti Ngurah Rai 344.  Kapal kapal ini juga menjadi andalan TNI AL dalam operasi militer di Timor Timur. KRI Martadinata 342 memberikan bantuan tembakan dari laut untuk mendukung operasi Seroja.

BACA JUGA :  Perancis Dan Inggris Danai Overhaul Rudal Jelajah Storm Shadow Dan SCALP

Peresmian KRI Wilhelmus Zakarias Yohannes 332, Jumat 7 Maret 1986
Peresmian KRI Wilhelmus Zakarias Yohannes 332, Jumat 7 Maret 1986

KRI Mongisidi 343 juga melakukan show of force di depan pelabuhan Dilli sambil mengevakuasi konsulat RI di Dilli. Setelah era 60-an melakukan operasi blokade laut ke Kuba dan menghadapi kapal kapal Uni Soviet sewaktu masih dimiliki US Navy, kapal kapal ini pun di era 70-an dan 80-an melakukan operasi blokade laut untuk menyekat penyelundupan senjata gelap ke Timor timur ketika beroperasi di TNI AL. Kapal kapal ini digunakan oleh TNI AL hingga era tahun 2000-an.

Kemudian pemerintah melakukan pembelian korvet baru gress yang dinamai kelas Fatahilah. Pada masa korvet ini datang, Indonesia menjadi satu satunya negara yang memiliki korvet bersenjata rudal canggih di kawasan. Dengan rudal Exocet yang kemudian ditangan Argentina berhasil menenggelamkan destroyer Inggris HMS Sheffield di Perang Falkland dan ditangan Irak berhasil melumpuhkan destroyer Amerika USS Stark di Perang Irak – Iran, kapal ini menjadi booster kekuatan maritim Indonesia.

KRI Abdul Halim Perdanakusuma menerima pengisian bahan bakar di tengah laut dari Hr.Ms. Zuiderkruis (
KRI Abdul Halim Perdanakusuma menerima pengisian bahan bakar di tengah laut dari Hr.Ms. Zuiderkruis

Indonesia membeli 3 kapal jenis ini dari Belanda yaitu KRI Fatahilah 361, KRI Malahayati 362 dan KRI Nala 363. Bersama dengan kapal ini juga dibeli Full Function Simulator untuk melatih para awaknya. Adanya kapal ini menjadikan Indonesia unggul diantara tetangga tetangganya. Malaysia, Thailand dan Singapura sendiri saat itu masih mengoperasikan gun boat. Apapun kapalnya, fregat, korvet, senjatanya hanya kanon saja. Sehingga bisa dibilang TNI AL sudah outgunned AL lain di kawasan.

Tidak pakai lama, Indonesia juga membeli Fregat latih KRI Ki Hajar Dewantara dari Yugoslavia. Lagi lagi, kapal ini walau predikatnya sebagai kapal latih, tetap dipersenjatai dengan rudal exocet.

PKR KRI Abdul Halim Perdanakusuma 355 di Belanda
PKR KRI Abdul Halim Perdanakusuma 355 di Belanda

Kemudian beruntun datang Kapal Cepat Rudal dari Korea Selatan. Kapal yang dinegeri asalnya di namai Patrol Ship Killer ini juga dipersenjatai rudal Exocet. Indonesia membeli 4 unit KCR ini. Dibanding dengan KCR 60M jaman now yang cuma melesat 28 knot di kondisi tertentu, KCR yang dibeli oleh pemerintah orde baru ini lebih superior. Dengan ditenagai oleh mesin kombinasi diesel dan turbin gas, Kapal Cepat Rudal ini sungguh sungguh memiliki kemampuan yang digariskan oleh kata “Cepat” dalam singkatan KCR.

KRI Mandau bisa ngebut hingga 41 Knot, jauh jauh lebih cepat dari pada KRI Sampari 628 yang hanya 28 Knot saja. Dari sisi senjata pemukul, KCR yang diberi nama KRI Mandau 621, KRI Rencong 622, KRI Badik 623, dan KRI Keris 624 ini juga lebih superior. 4 rudal Exocet menjadi senjata pemukul utamanya. Bandingkan dengan rencana 2 rudal C705 yang melengkapi KCR 60M.

Belajar mengoperasikan radar langsung dari ahlinya
Belajar mengoperasikan radar langsung dari ahlinya

Penambahan 3 korvet rudal, 1 perusak kawal rudal dan 4 kapal cepat rudal ini tentu saja menambah firepower TNI AL berkali kali lipat dari Angkatan Laut negara tetangganya. Misalnya saja, dalam semesta yang lain KRI Irian harus berhadapan dengan KRI Mandau saja, bisa dipastikan KRI Mandau orde baru ini mempunyai firepower yang cukup untuk melumpuhkan KRI Irian dari jarak jauh dengan Exocetnya, sebelum KRI Irian mampu balas menembak dengan kanonnya. 

Pada akhir 80-an, Pemerintah orde baru kembali menambah kekuatan TNI AL dengan mendatangkan 6 fregat dari Belanda. Fregat yang kemudian dinamai Ahmad Yani Class ini dilengkapi dengan senjata pemukul utama berupa rudal Harpoon buatan Amerika Serikat. Rudal Harpoon ini ketika masih beroperasi mampu memukul musuh dari jarak lebih dari 120 kilometer.

BACA JUGA :  Foto Kunjungan Kapal Perang India Ke Surabaya

Belajar mengoperasikan radar langsung dari ahlinya
Belajar mengoperasikan radar kapal langsung dari ahlinya

Rudal ini sudah battle proven di tangan Iran dengan menenggelamkan beberapa kapal perang Irak di perang Irak – Iran. Sebaliknya satu fregat milik Iran juga ditenggelamkan oleh Amerika dengan rudal Harpoon juga. Selain itu juga pemerintah masih menambah armada fregat dari Tribal Class. KRI Martha Christina Tiahahu 331, KRI Wilhelmus Zakarias Yohannes 332 dan KRI Hasanuddin 333 adalah nama yang diberikan untuk 3 kapal fregat yang dibeli lengkap dengan helikopter Wasp ini.

Pengembangan kekuatan buatan dalam negeri juga diperhatikan dengan pembelian lisensi Fast Patrol Boat 57 dari Jerman yang kemudian sebagian dibuat di Indonesia. Kapal kapal ini menjadi Kapal Cepat Torpedo dan Kapal Cepat Rudal dengan senjata rudal Exocet.

Di area peperangan bawah air, hanya Indonesia yang mengoperasikan unit kapal selam canggih di kawasan pada periode tersebut pada periode 80-an. Indonesia membeli kapal selam kelas U209 dari Jerman pada awal 80-an yang hingga sekarang masih aktif. Malaysia baru mempunyai kapal selam pada tahun 2005 dan Singapura baru memiliki kapal selam pada 2001.

KRI AHP 355
KRI AHP 355

Bisa dibilang, selama periode akhir tahun 70-an hingga pertengahan tahun 90-an, TNI Angkatan Laut adalah kekuatan maritim terkuat dikawasan ini. Di saat kapal kapal kombatan dari KCR, korvet hingga fregat TNI AL sudah dilengkapi dengan Excocet dan Harpoon, barulah Malaysia mengejar dengan melengkapi armadanya dengan hanya 2 korvet berudal.

Singapura sendiri memasuki zaman rudal anti kapal baru di era pertengahan 90-an dengan masuknya korvet RSS Victory dengan rudal Harpoon di armadanya. Itu belum ditambah fakta bahwa hanya TNI AL yang mempunyai kapabilitas ofensif dengan memiliki 2 divisi pasukan Marinir, lengkap dengan LST yang dibeli dari Amerika, Jepang dan Korea Selatan. Bahkan, masih banyak juga gun boat dari orde lama yang masih beroperasi, termasuk diantaranya kapal selam KRI Pasopati yang kemudian di museumkan di Surabaya.

Jadi, bila dibilang bahwa kekuatan TNI AL tidak mengalami peningkatan kekuatan di zaman orde baru dan selalu berada dibawah bayang bayang ‘jaman keemasan’ 60-an, tentu saja tidak benar. Bisa dibilang, kekuatan maritim Indonesia di penghujung tahun 70-an hingga awal 90-an adalah masa terbaik bagi pengembangan kekuatan TNI AL.

Hanung Jati Purbakusuma
Hanung Jati Purbakusumahttps://www.hobbymiliter.com/
Sangat tertarik dengan literatur dunia kemiliteran. Gemar mengkoleksi berbagai jenis miniatur alutsista, terutama yang bertipe diecast dengan skala 1/72. Koleksinya dari pesawat tempur hingga meriam artileri anti serangan udara, kebanyakan diecast skala 1/72.

25 COMMENTS

  1. jaman orde baru tdk ada satu pulaupun yg lepas dari nkri .coba jmn selanjutnya .kekuatan suatu negara tdk hanya tergantung pd alutsista sj tp juga kepemimpinan/prediden sangat berpengaruh.

    • elu ngomong apaan tong?? komentar yg memaksa antara politik dgn militer.
      ya gini ini kalau tutup botol dikasih nyawa, geblegh-nya minta ampyuuuuun

  2. pertanyaanx lebih tangguh mana lbh di segani mana lbh beribawa mana ketika tuan ku bapak H.soehartoe jd presiden di masa orba dengan presiden setelah orba/reformasi,,terutama di bandingkan dng pemimpin rezim saat ini.

  3. Jaman orde Baru / jaman peralihan orla, AL itu gak terlihat peran nya di publik.

    Malahan, Banyak Militer Aktif AL yang masih setia sama soekarno semisal yang paling mencolok gubernur Ali Sadikin.

  4. alat perang jaman trikora warisan orla baru diakui dunia paling besar dibumi belahan selatan.orba berkuasa boro2 mau ngerawat,yang ada malah dipretelin sampe gak bs fungsi lagi.setelah itu mana ada kita kuat dengan daya detern yang tinggi.

    • Kata siapa ?? Mana artikel luar negri yg menyatakan seperti itu ?? Belanda lari dari papua saja karena Usa sdh melakukan deal deal dgn Soekarno yg sekarang jadi Freeport Garsberg.. tanpa di iming imingi itu mustahil belanda angkat kaki dr papua..
      Perjanjian nya : Usa boleh menambang Garsberg sampai habis tapi hanya wilayah garsberg saja, selain dari itu semua milik NKRI.
      Dan rezim soeharto demi menutupi ini (agar nama proklamator tetap harum) membuat cerita seolah militer kita terkuat di bumi selatan.
      Faktanya jika kita cerdas sedikit saja kita bisa membandingkan Kasus perebutan papua dengan perebutan semenanjung malaya, waktu NKRI vs malaysia/inggris.. toh inggris tdk lari sama sekali.. padahal militer kita “katanya” terkuat dibumi selatan.. entah katanya siapa..
      hahaha.

  5. jaman orba tu jaman keemasan Indonesia,gemah ripah loh jinawi,toto titi tentrem kerto raharjo..saya adalah rkyat yg pernah hidup di jaman Pak Harto…semua pulau2 sengketa tak akan prnah lepas dari NKRI..

  6. Top memang era 70-90an…alutsista kri nya mumpuni…sampai sekarangpun masih gahar , kelas pkr kri owa , blm ada penggantinya ,mungkin penggantinya nunggu pkr martadinata komplit persemnjataannya.Jalesveva Jayamahe.

  7. Kan tergantung prioritasnya saat itu. Yang diutamakan “pembangunan ekonomi”, bukan kekuatan militer. Buat apa punya senjata serba wah, dari serba utang lagi, tapi rakyatnya miskin. Duit pampasan perang dibelikan senjata dan dibuatkan proyek mercusuar pencitraan sementara ekonomi morat marit, buat apa? Mau nyontoh Korut? Lagipula saat itu gak ada yang dianggap ancaman besar. Soviet sibuk di Eropa dan Timteng, dan juga saling cakar dengan RRC. RRC yang ekspansionis masih berkutat sendiri di dalam negeri lewat proyek edan revolusi kebudayaan dan main faksi faksian dalam elitnya. Komunisme, pki, sudah 9/10 mampus. Duri dalam daging Timor Portugis masuk kotak tahun 75. Lagipula Orba sibuk konsolidasi ke dalam. Makanya kekuatan militer diminimkan. Pasukan tempur “cukup” 100 batalyon, “sisanya” (mayoritas mlahan) maen di “pembinaan teritorial”. Alutsista juga otomatis ikut minim. Beli apa apa serba ketengan, asal gak ketinggalan jaman saja. Saat itu Minimum Essential Force nya juga ngikutin persepsi ancaman dari luar. Kalo dianggap minim ya ‘force’nya juga ikut minim.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Ngeteng, Cara Angkatan Udara Singapura Memperbanyak F-16 RSAF

Beli Ngeteng, Cara Singapura Memperbanyak F-16 RSAF - HobbyMiliter.com. Dalam diskusi diskusi di forum forum militer online maupun di grup grup militer di Facebook,...

Begini Cara Kerja Over The Horizon Radar (OTHR) Jindalee Australia

Begini Cara Kerja Over The Horizon Radar (OTHR) Jindalee Australia - HobbyMiliter.com - Meski telah jutaan tahun membalut Bumi, belum seluruh bagian atmosfer bisa...

Foto – Foto Dokumentasi Pendudukan Tentara Soviet di Perang Afghanistan Era 80-an

Foto - Foto Dokumentasi Pendudukan Tentara Soviet di Perang Afghanistan Era 80-an - HobbyMiliter.com. Perang Soviet di Afghanistan berlangsung selama lebih dari sembilan tahun....

Foto Foto Langka KRI Irian, Kapal Perang Indonesia Asal Soviet

Foto Foto Langka KRI Irian, Kapal Perang Indonesia Asal Soviet - HobbyMiliter.com. Pada saat persiapan operasi Trikora dalam rangka perebutan Irian Barat (sekarang Provinsi...

Recent Comments

black donkey{(revolution mindset)}>???? on MARINIR INDONESIA – AMERIKA BERBAGI ILMU DI SITUBONDO
Thomson Sirait on Kehidupan di KRI Makassar 590
Ananda Andriyo on Patroli di Tanah Papua
HobbyMiliter on Patroli di Tanah Papua