Monday, November 23, 2020
Home Blog Militer Sejarah Mengenal Tokoh dan Sejarah Muhammadiyah

Mengenal Tokoh dan Sejarah Muhammadiyah

Mengenal Tokoh dan Sejarah Muhammadiyah – HobbyMiliter.com – Sejarah Muhammadiyah sebagai organisasi Islam yang besar di Indonesia dimulai sejak didirikan tahun 1912 oleh K. H. Ahmad Dahlan.

Sejarah Muhammadiyah

Latar belakang berdirinya Muhammadiyah adalah untuk memurnikan ajaran Islam yang menurut anggapan orang banyak dipengaruhi berbagai hal mistik. Hingga dengan begitu K. H. Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah di Kampung Kauman Yogyakarta pada tanggal 18 November 1912 dan sejak itu ditetapkan sebagai tanggal lahir Muhammadiyah.

Lahirnya Muhammadiyah diawali dengan pendirian basis dakwah untuk wanita dan kaum muda yang berupa pengajian Sidratul Muntaha. Nama Muhammadiyah sendiri awalnya diusulkan Muhammad Sangidu, Ketib Anom Kraton Yogyakarta seorang tokoh pembaruan. Usul tersebut kemudian disetujui Kyai Dahlan setelah sholat istikharah.

Semasa kepemimpinan Kyai Dahlan, peranan Muhammadiyah terbatas pada karesidenan seperti Yogyakarta, Pekalongan, Surakarta, dan juga Pekajangan yang berdiri sejak tahun 1922. Setelah itu Abdul Karim Amrullah menyebarkan Muhammadiyah ke Sumatera Barat dengan pembukaan cabang di Sungai Batang Agam. Dari sanalah Muhammadiyah kemudian menyebar ke seluruh Sumatera Barat dalam tempo relatif singkat. Hingga pada akhirnya pada tahun 1938, Muhammadiyah sudah tersebar bahkan sampai ke seluruh nusantara.

Faktor yang Mempengaruhi Didirikannya Muhammadiyah

Faktor yang mempengaruhi berdirinya Muhammadiyah bisa dilihat dari dua faktor utama, yaitu:

  • Faktor subyektif

Berawal dari kerisauan Kyai Dahlan akan berbagai permasalahan yang dihadapi umat Islam, seperti kebodohan, keterbelakangan serta kemiskinan. Baginya Surat al-Ma’un merupakan perintah bagi umat Islam untuk lebih merealisasikan kepedulian sosial lewat tindakan nyata.

  • Faktor Obyektif

Faktor obyektif ini juga terdiri dari dua faktor, yaitu

    • Lemahnya pemahaman umat Islam dalam mempraktekkan ajaran Islam.
      Mereka masih berpegang kuat pada berbagai tradisi peninggalan jaman purba, Hindu, dan Budha serta tidak berani melakukan pembaharuan. Mereka masih berpikir konservatif serta sangat formal dalam beragama, dimana berbagai siklus perjalanan kehidupan manusia selalu ditandai dengan ritual keagamaan, seperti misalnya saat seseorang lahir, khitan, menikah, meninggal. Sementara kesemarakan keagamaan lebih cenderung bersifat perayaan atau seremoni.

      Hingga akhir abad ke-19 mayoritas penduduk Jawa masih belum memahami Islam dengan baik, mereka lebih dekat dengan Islam cuma pada praktek sunatan, puasa, larangan makan daging babi, peringatan hari besar. Selain itu mereka juga masih percaya pada roh halus, karma, kualat, bidah, khurafat, serta takut pada tempat angker.

    • Lemahnya pendidikan Islam.
      Dalam sistem pendidikan saat itu terjadi dualisme yaitu sekolah dan pesantren, serta ilmu pengetahuan umum dan ilmu pengetahuan agama. Belanda mengembangkan model sekolah yang cuma memberikan pelajaran umum dengan pengantar bahasa Belanda hingga dianggap kafir. Sementara pesantren sebagai lembaga pendidikan tertua diselenggarakan pribumi cuma memberikan pelajaran agama karena menganggap mempelajari sesuatu yang berasal dari kafir yaitu pelajaran umum berarti menyerupai orang kafir dan bisa dianggap sebagai orang kafir.
    • Persoalan Kristenisasi yang dilakukan Belanda.
      Berdasar asumsi bahwa Kristenisasi akan memperlunak perlawanan pribumi, Belanda memberikan dukungan penuh bagi berbagai kegiatan misionaris, entah itu dalam bentuk kebijakan maupun finansial. Kyai Dahlan menganggap fakta tersebut mesti dihindari serta dihambat agar umat Islam terhindar dari pemurtadan.
    • Terjadinya gelombang pembaharuan di Timur Tengah.
      Ibnu Taimiyah, Muhammad bin Abdul Wahab, Ibnu Qoyyim, Jamaluddin al Afghany, Rasyid Ridha, Muhammad Abduh dan lainnya memelopori gelombang pembaharuan di Timur Tengah yang kemudian sangat mempengaruhi serta mendorong Kyai Dahlan untuk mendirikan Muhammadiyah.

Muhammadiyah berusaha menyatukan pendekatan normatif-doktrinal yang cenderung rasional dan intelektual dengan pendekatan historis-empiris-praktis. Dengan begitu terbentuk karakteristik Muhammadiyah yaitu tuntutan beragama secara murni dan juga kritis mengamalkan ajaran Islam berdasar sumber asli dan meninggalkan taqlid serta terbuka akan perubahan dan juga kemajuan di aspek implementasi serta operasional.

Hingga Muhammadiyah diharapkan mampu menegakkan serta menjunjung tinggi agama Islam demi terwujudnya masyarakat Islam yang sejati.

Salah satu peranan Muhammadiyah di bidang pendidikan adalah pendirian sekolah dasar serta sekolah lanjutan yang dikenal dengan Hogere School Moehammadijah yang kemudian berganti menjadi Kweek School Moehammadijah atau sekarang menjadi Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah Jogja khusus untuk pria & Madrasah Mu’allimat Muhammadiyah Yogyakarta yang khusus perempuan dan kini menjadi Sekolah Kader Muhammadiyah yang dibawahi langsung oleh Pimpinan Pusat Muhammadiyah..

Tokoh-tokoh Muhammadiyah

Beberapa tokoh Muhammadiyah antara lain adalah:

  • K. H. Ahmad Dahlan
    Selain merupakan pendiri Muhammadiyah, Kyai Dahlan juga mendapat gelar Pahlawan Nasional atas berkat perjuangan serta jasanya. Selain itu Kyai Dahlan juga seorang ulama yang terkenal sebagai tokoh pembaharuan Islam di Indonesia sekaligus pemimpin Muhammadiyah periode 1912 hingga 1923.
  • K. H. Ibrahim
    Selain seorang ulama dan ahli seni dalam membaca Al-Quran, Ibrahim juga menjabat sebagai pemimpin Muhammadiyah periode 1923 hingga 1934 melanjutkan Kyai Dahlan.
  • Hisyam
    Merupakan murid Kyai Dahlan, Hisyam lahir tanggal 10 November 19883 di Kampung Kauman dan menjabat pemimpin Muhammadiyah periode 1934 hingga 1937 di usia 61 tahun.
  • Mas Mansur
    Sebagai salah satu santri di Pondok Pesantren Demangan, Madura, Mas Mansyur merupakan Pahlawan Nasional sekaligus tokoh Islam. Mas Mansur beserta keluarga pada tahun 1937 pindah ke Yogyakarta saat terpilih menjadi Ketua Pengurus Besar Muhammadiyah.
  • Ki Bagoes Hadikoesoemo
    Sebagai anggota BPUPKI, Ki Bagoes lahir tanggal 24 November 1890 di Yogyakarta. Setelah menjabat sebagai Wakil Ketua Muhammadiyah sejak tahun 1937, Ki Bagoes kemudian menggantikan Mas Mansur menjabat sebagai Ketua Umum Muhammadiyah di tahun 1942.
  • Buya A. R. Sutan Mansur
    Sebagai anak dari pasangan ulama terkenal di Maninjau, Abdul Somad Al-Kusai dan Siti Abbasiyah, Sutan Mansur berprofesi sebagai guru di Kuala Simpang, Aceh dan tergabung dalam perkumpulan Sumatera Thawalib. Hingga akhirnya Sutan Mansur menjabat sebagai Ketua Umum Muhammadiyah periode 1953 hingga 1959.
  • M. Yunus Anis
    Sebagai pembina pemuda Hizbul Wathan, Yunus lahir tanggal 3 Mei 1903 di Yogyakarta. Kemudian Hizbul terpilih memimpin Muhammadiyah dan menggantikan Sutan Mansur di tahun 1959.
  • Ahmad Badawi
    Sebagai putra K. H. Muhammad Fakih, komisaris pengurus Muhammadiyah di tahun 1912, Badawi menuntut ilmu hingga ke pondok pesantren. Potensinya terlihat sejak masih menjadi santri dengan sering membuat kelompok belajar yang terorganisir yang kemudian mendukung kelancaran proses mengajinya. Setelah itu Badawi mulai mengembangkan potensinya tersebut ke wadah Muhammadiyah.
  • Faqih Usman
    Sebagai aktivis Islam dan politikus dari partai Masyumi di Indonesia, Faqih pernah menjabat Menteri Agama. Hingga pada tahun 1968 terpilih menjadi pemimpin Muhammadiyah. Salah satu keberhasilannya adalah dengan diakuinya Muhammadiyah Gresik sebagai cabang Muhammadiyah yang resmi.
  • H. A. R. Fachruddin
    Pernah menjalani misi dakwah Muhammadiyah sebagai guru di sepuluh sekolah serta sebagai mubaligh selama sepuluh tahun di tahun 1934, Fachruddin kemudian pindah ke Muara Meranjat, Palembang saat Jepang datang tahun 1944 dan mengajar di sekolah Muhammadiyah, melatih serta memimpin Hizbul Wathan.
  • Ahmad Azhar Basyir
    Dikenal sebagai pribadi yang setia pada organisasi Muhammadiyah, Basyir diakui sebagai anggota Muhammadiyah yang konsisten hingga pada akhirnya mengantarkannya terpilih sebagai pemimpin Muhammadiyah periode 1990 hingga 1995.
  • Amien Rais
    Dibesarkan di keluarga aktivis Muhammadiyah, Amien Rais memulai kiprah di kancah politik Indonesia pada akhir masa jabatan Presiden Soeharto dan dikenal sebagai orang yang kritis terhadap berbagai kebijakan pemerintah. Hingga pada akhirnya Amien Rais terpilih menjadi pemimpin Muhammadiyah periode 1995 hingga 1998.
  • Ahmad Syafii Maarif
    Lahir pada tanggal 31 Mei 1935 di Sumatera Barat, Ahmad Syafii dikenal sebagai ulama, ilmuwan, pendidik sekaligus pendiri Maarif Institute dan juga tokoh Indonesia yang kritis. Ahmad Syafii kemudian menjabat sebagai Ketua Umum Muhammadiyah periode 1998 sampai 2005.
  • Din Syamsuddin
    Selain menjabat sebagai pemimpin Muhammadiyah selama sepuluh tahun di periode 2005 hingga 2015, Din Syamsuddin juga pernah menjabat sebagai Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat periode 2014 hingga 2015 dan juga sebagai Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat menggantikan Dr. K. H. Sahal Mahfudz.
  • K. H. Haedar Nashir
    Pernah menjabat sebagai sekretaris saat Muhammadiyah dipimpin oleh Ahmad Syafii Maarif, nama Haedar Nashir di kalangan aktivis Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah atau IMM tidaklah asing lagi. Haedar Nashir merupakan pemimpin gerakan Muhammadiyah sejak tahun 2015 hingga saat ini.

Demikian ulasan singkat terkait sejarah Muhammadiyah hingga beberapa tokoh pemimpin gerakan Muhammadiyah ini.

Hanung Jati Purbakusuma
Hanung Jati Purbakusumahttps://www.hobbymiliter.com/
Sangat tertarik dengan literatur dunia kemiliteran. Gemar mengkoleksi berbagai jenis miniatur alutsista, terutama yang bertipe diecast dengan skala 1/72. Koleksinya dari pesawat tempur hingga meriam artileri anti serangan udara, kebanyakan diecast skala 1/72.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

SMX-31, kapal selam masa depan Prancis

SMX-31, kapal selam masa depan Prancis- Hobbymiliter.com. SMX-31 adalah suatu konsep kapal selam masa depan dari negeri Baguette. Konsep ini adalah unik karena memperkenalkan...

STRIL, Sistem koordinasi & datalink AU Swedia

Sejarah STRIL, Sistem Koordinasi & datalink AU Swedia- Hobbymiliter.com.  Bahwa Swedia terkenal sebagai salah satu negara di semenanjung Skandinavia yang bersifat independen atau dalam...

Bagaimana drone menaklukkan pertahanan udara ?

Bagaimana drone menaklukkan pertahanan udara ?- Hobbymiliter.com. Bidang Pertahanan udara dewasa ini memiliki sebuah pertanyaan,  utamanya setelah perang Suriah, Libya, serangan drone AS di...

Barbel Class, kapal selam diesel terakhir AS

Barbel Class, kapal selam diesel terakhir AS- hobbymiliter.com. Bahwa dewasa ini kita mengenal Angkatan laut AS utamanya dari armada kapal selam nuklirnya. Nama-nama seperti...

Recent Comments

black donkey{(revolution mindset)}>???? on MARINIR INDONESIA – AMERIKA BERBAGI ILMU DI SITUBONDO
Thomson Sirait on Kehidupan di KRI Makassar 590
Ananda Andriyo on Patroli di Tanah Papua
HobbyMiliter on Patroli di Tanah Papua