Monday, June 27, 2022
HomeBlog MiliterSejarahMengenal Tokoh dan Sejarah Muhammadiyah

Mengenal Tokoh dan Sejarah Muhammadiyah

Mengenal Tokoh dan Sejarah Muhammadiyah – HobbyMiliter.com – Sejarah Muhammadiyah sebagai organisasi Islam yang besar di Indonesia dimulai sejak didirikan tahun 1912 oleh K. H. Ahmad Dahlan.

Sejarah Muhammadiyah

Latar belakang berdirinya Muhammadiyah adalah untuk memurnikan ajaran Islam yang menurut anggapan orang banyak dipengaruhi berbagai hal mistik. Hingga dengan begitu K. H. Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah di Kampung Kauman Yogyakarta pada tanggal 18 November 1912 dan sejak itu ditetapkan sebagai tanggal lahir Muhammadiyah.

Lahirnya Muhammadiyah diawali dengan pendirian basis dakwah untuk wanita dan kaum muda yang berupa pengajian Sidratul Muntaha. Nama Muhammadiyah sendiri awalnya diusulkan Muhammad Sangidu, Ketib Anom Kraton Yogyakarta seorang tokoh pembaruan. Usul tersebut kemudian disetujui Kyai Dahlan setelah sholat istikharah.

Semasa kepemimpinan Kyai Dahlan, peranan Muhammadiyah terbatas pada karesidenan seperti Yogyakarta, Pekalongan, Surakarta, dan juga Pekajangan yang berdiri sejak tahun 1922. Setelah itu Abdul Karim Amrullah menyebarkan Muhammadiyah ke Sumatera Barat dengan pembukaan cabang di Sungai Batang Agam. Dari sanalah Muhammadiyah kemudian menyebar ke seluruh Sumatera Barat dalam tempo relatif singkat. Hingga pada akhirnya pada tahun 1938, Muhammadiyah sudah tersebar bahkan sampai ke seluruh nusantara.

BACA JUGA :  Serangan Kelompok Bersenjata Yaman Di Aden, 17 Perawat Panti Jompo Tewas

Faktor yang Mempengaruhi Didirikannya Muhammadiyah

Faktor yang mempengaruhi berdirinya Muhammadiyah bisa dilihat dari dua faktor utama, yaitu:

  • Faktor subyektif

Berawal dari kerisauan Kyai Dahlan akan berbagai permasalahan yang dihadapi umat Islam, seperti kebodohan, keterbelakangan serta kemiskinan. Baginya Surat al-Ma’un merupakan perintah bagi umat Islam untuk lebih merealisasikan kepedulian sosial lewat tindakan nyata.

  • Faktor Obyektif

Faktor obyektif ini juga terdiri dari dua faktor, yaitu

    • Lemahnya pemahaman umat Islam dalam mempraktekkan ajaran Islam.
      Mereka masih berpegang kuat pada berbagai tradisi peninggalan jaman purba, Hindu, dan Budha serta tidak berani melakukan pembaharuan. Mereka masih berpikir konservatif serta sangat formal dalam beragama, dimana berbagai siklus perjalanan kehidupan manusia selalu ditandai dengan ritual keagamaan, seperti misalnya saat seseorang lahir, khitan, menikah, meninggal. Sementara kesemarakan keagamaan lebih cenderung bersifat perayaan atau seremoni.

      Hingga akhir abad ke-19 mayoritas penduduk Jawa masih belum memahami Islam dengan baik, mereka lebih dekat dengan Islam cuma pada praktek sunatan, puasa, larangan makan daging babi, peringatan hari besar. Selain itu mereka juga masih percaya pada roh halus, karma, kualat, bidah, khurafat, serta takut pada tempat angker.

    • Lemahnya pendidikan Islam.
      Dalam sistem pendidikan saat itu terjadi dualisme yaitu sekolah dan pesantren, serta ilmu pengetahuan umum dan ilmu pengetahuan agama. Belanda mengembangkan model sekolah yang cuma memberikan pelajaran umum dengan pengantar bahasa Belanda hingga dianggap kafir. Sementara pesantren sebagai lembaga pendidikan tertua diselenggarakan pribumi cuma memberikan pelajaran agama karena menganggap mempelajari sesuatu yang berasal dari kafir yaitu pelajaran umum berarti menyerupai orang kafir dan bisa dianggap sebagai orang kafir.
    • Persoalan Kristenisasi yang dilakukan Belanda.
      Berdasar asumsi bahwa Kristenisasi akan memperlunak perlawanan pribumi, Belanda memberikan dukungan penuh bagi berbagai kegiatan misionaris, entah itu dalam bentuk kebijakan maupun finansial. Kyai Dahlan menganggap fakta tersebut mesti dihindari serta dihambat agar umat Islam terhindar dari pemurtadan.
    • Terjadinya gelombang pembaharuan di Timur Tengah.
      Ibnu Taimiyah, Muhammad bin Abdul Wahab, Ibnu Qoyyim, Jamaluddin al Afghany, Rasyid Ridha, Muhammad Abduh dan lainnya memelopori gelombang pembaharuan di Timur Tengah yang kemudian sangat mempengaruhi serta mendorong Kyai Dahlan untuk mendirikan Muhammadiyah.

Muhammadiyah berusaha menyatukan pendekatan normatif-doktrinal yang cenderung rasional dan intelektual dengan pendekatan historis-empiris-praktis. Dengan begitu terbentuk karakteristik Muhammadiyah yaitu tuntutan beragama secara murni dan juga kritis mengamalkan ajaran Islam berdasar sumber asli dan meninggalkan taqlid serta terbuka akan perubahan dan juga kemajuan di aspek implementasi serta operasional.

Hanung Jati Purbakusuma
Hanung Jati Purbakusumahttps://www.hobbymiliter.com/
Sangat tertarik dengan literatur dunia kemiliteran. Gemar mengkoleksi berbagai jenis miniatur alutsista, terutama yang bertipe diecast dengan skala 1/72. Koleksinya dari pesawat tempur hingga meriam artileri anti serangan udara, kebanyakan diecast skala 1/72.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Baca Juga

Recent Comments