Monday, July 15, 2024
HomeMiliterAlutsistaMengenal Littoral Response Group, Grup Siap Tempur Amfibi AL Inggris

Mengenal Littoral Response Group, Grup Siap Tempur Amfibi AL Inggris

Manfaat dan Kekurangan

Littoral Response Group atau LRG merupakan suatu konsep yang cukup baik untuk menjadi bentuk kehadiran negara (dalam hal ini Inggris) dalam menjaga kepentingan nasionalnya di area-area vital dan rawan potensi konflik. Dalam pandangan penulis terdapat beberapa manfaat yang bisa diperoleh dari penerapan konsep LRG ini. Pertama, LRG dapat menjadi bentuk kehadiran negara guna menjamin keamanan dan keselamatan warganya yang berada di wilayah-wilayah yang rawan berpotensi terjadinya konflik keamanan. Disamping menjamin keamanan warga negara, kedaulatan serta kepentingan nasionalnya, LRG juga dapat menjadi bentuk komitmen proyeksi kekuatan militer guna menyampaikan pesan kepada lawan-lawan potensial baik itu aktor negara (State Actor) maupun lawan non-aktor negara (Non-State Actor). LRG dapat memberi kesan bahwa militer negara (dalam hal ini militer negara Inggris,red) selalu hadir secara konsisten dan akan tetap terus mengawal kepentingan nasional dan menjaga stabilitas kawasan tempat mereka bertugas. Pesan ini, dapat membuat calon lawan-lawan potensial Inggris berpikir dua kali jika akan melakukan konfrontasi terbuka atau menyerang aset nasional Inggris apapun bentuknya, yang ada di kawasan tersebut.

Selain sebagai upaya proyeksi kekuatan dan sebagai bukti komitmen pemerintah Inggris terhadap warga nya yang berada di seluruh dunia, LRG juga dapat dimanfaatkan sebagai pasukan reaksi cepat guna merespon krisis kemanusiaan yang bisa timbul bukan hanya dari peperangan atau konflik keamanan. LRG dapat digerakkan bukan hanya sebagai unsur pembantu evakuasi darurat perang bagi warga negara Inggris yang terjebak di area konflik, tetapi juga dapat merespon kondisi kedaruratan akibat bencana alam. LRG dapat memberi bantuan kemanusiaan dan pertolongan pertama terhadap wilayah-wilayah terdampak bencana alam yang luas dan skala kerusakan nya masif (Humanitarian Aid and Disaster Relief/HADR,red). LRG dirancang dengan mengambil basis kepada kapal-kapal perang yang didesain khusus untuk dapat berfungsi bukan hanya sebagai peralatan tempur atau sistem senjata tetapi pada masa damai juga dapat difungsikan sebagai kapal bantuan untuk merespon kondisi-kondisi kedaruratan yang terjadi akibat adanya bencana alam.

Mengenal Littoral Response Group, Grup Siap Tempur Amfibi AL Inggris
Mengenal Littoral Response Group, Grup Siap Tempur Amfibi AL Inggris. HMS Albion Kapal Utama Satuan LRG(N).
Sumber : Navalnews

Disamping dua manfaat umum tersebut, LRG juga dapat memberi manfaat yang signifikan kepada pemerintah Inggris yang saat ini tengah merevolusi doktrin operasi, kemampuan tempur serta konsep penugasan pasukan batalyon komando Marinir Inggris (Royal Marines Commando). Saat ini, LRG dimanfaatkan sebagai pusat/inti penerapan konsep Future Commando Force, sebuah konsep baru yang meningkatkan kemampuan, doktrin serta kapabilitas tempur dari pasukan komando Marinir Inggris melalui pengembangan taktik, strategi, dan teknologi guna mendukung dan meningkatkan efektivitas dan efisiensi dalam setiap operasi yang dilakukan oleh pasukan khusus komando Marinir Inggris. Contoh pemanfaatan kapal-kapal perang khusus operasi amfibi (jenis LPD dan LSD,red) yang ada pada Littoral Response Group atau LRG sebagai inti utama penerapan konsep Future Commando Force adalah dengan menjadikan LRG sebagai pusat komando operasi tempur dan markas terapung untuk pasukan khusus komando Marinir Inggris yang bersifat mobile atau dinamis.

BACA JUGA :  Duterte Ancam Coret Pakta Kerjasama Militer Filipina Dengan AS

Contoh lain dari penerapan konsep Future Commando Force yang dapat ditemui pada pengembangan serta operasional dari konsep Littoral Response Group atau LRG adalah penggunaan kapal-kapal yang menjadi formasi inti suatu LRG sebagai kapal induk atau mothership bagi aset-aset wahana nir awak/wahana tanpa awak baik itu UAV/PUNA/PTTA (Unmanned Aerial Vehicle/Pesawat Udara Nir Awak/Pesawat Terbang Tanpa Awak,red) maupun USV (Unmanned Surface Vessel) atau kapal tanpa awak yang kesemuanya dapat mendukung pelaksanaan operasi tempur dari elemen pasukan komando khusus Marinir Inggris jika dibutuhkan. Konsep LRG menurut penulis telah berhasil menjadi suatu bentuk revolusioner dari Angkatan Bersenjata Inggris khususnya dalam hal ini Angkatan Laut Inggris (Royal Navy) dan Marinir Inggris (Royal Marines) dalam mengimplementasikan pembaharuan taktik, strategi, perlengkapan tempur serta pemanfaatan teknologi yang lebih jauh lagi guna mewujudkan terciptanya Future Commando Force yang sesuai dengan keinginan para pengambil kebijakan di Inggris.

Mengenal Littoral Response Group, Grup Siap Tempur Amfibi AL Inggris
Mengenal Littoral Response Group, Grup Siap Tempur Amfibi AL Inggris. Ilustrasi Prajurit Future Commando Force Royal Marines Commando.
Sumber : Forces

Sayangnya, meski datang dengan sederet manfaat, konsepsi Littoral Response Group atau LRG juga masih memiliki beberapa kekurangan yang menurut penulis perlu diperhatikan dan diperbaiki. Kekurangan ini, menurut penulis juga dapat menggambarkan secara tidak langsung kondisi keseluruhan kekuatan Angkatan Laut Inggris yang masih harus terus berjuang mengejar ketertinggalan dominasi di lautan global. Kekurangan pertama terkait pengoperasian dan penerapan konsep LRG adalah tidak adanya unit kapal perang jenis Frigate atau Destroyer yang disediakan secara permanen untuk mengawal grup tempur LRG yang tengah beroperasi di lautan. Kondisi ini, yang juga dianggap sebagai salah satu motif fleksibilitas LRG, juga dapat berdampak pada rentannya grup tempur LRG saat sedang berlayar di lautan lepas disaat menjalankan tugas operasionalnya. Karena LRG bersifat fleksibel, akan sulit menyediakan pengawalan bagi LRG apabila kapal-kapal kombatan utama milik Royal Navy (Frigates dan Destroyers,red) semuanya tengah beroperasi sesuai dengan area penugasan dan misi yang telah diperintahkan komando atas. Memang, Royal Navy akan dengan mudah mengalihkan penugasan suatu aset kapal perang kombatan permukaan utamanya jika dibutuhkan untuk mendukung deployment LRG, tetapi apabila hal itu tetap dilakukan secara konsisten, dengan sebaran unit-unit kapal perang kombatan utama Inggris yang saat ini juga harus mengawal kepentingan nasional Inggris di seluruh dunia, tentu hal ini akan menjadi suatu kelemahan taktis bagi Royal Navy yang dapat di ekspos oleh calon lawan potensial Inggris. Dalam dunia Angkatan Laut, penting bagi negara-negara yang banyak memiliki kepentingan nasional di wilayah perairan laut untuk menjaga sebaran kapal-kapal perangnya guna menjamin keamanan dan stabilitas di area-area yang berdampak langsung terhadap kepentingan nasional negara tersebut. Dalam konteks tersebut, penulis melihat kondisi saat ini Inggris dengan Royal Navy nya masih berupaya mengejar dan kembali menunjukkan bahwa mereka masih mampu untuk menjaga kepentingan nasional mereka di perairan lautan di seluruh dunia, meskipun dengan sebaran unit kapal perang yang “cukup tipis”.

BACA JUGA :  C-390M Millennium Dipilih Belanda Gantikan C-130 Hercules

Disamping potensi kekurangan armada kapal perang pengawal, salah satu kekurangan lain dari konsep LRG menurut penulis adalah turunnya kemampuan dan kapabilitas tempur baik dari segi aset kapal perang amfibi maupun pasukan amfibi milik Royal Navy dan Royal Marines. Secara taktis, LRG mungkin memiliki keunggulan dimana mereka mampu merespon dengan cepat terkait krisis yang mungkin bisa timbul di area penugasan masing-masing LRG baik di belahan bumi utara maupun selatan. Namun, secara strategis, kita dapat melihat bahwa kondisi aktual kemampuan dan kapabilitas tempur untuk operasi amfibi yang dapat dilaksanakan oleh Royal Navy dengan elemen Royal Marines sendiri secara umum dapat dikatakan menurun. Hal ini didasari pada kondisi kapal-kapal utama yang menjadi pusat atau inti dari kedua LRG yang mulai berumur. LRG(N) masih dapat dikatakan cukup “aman” karena HMS Albion yang merupakan kapal utama dari satuan tersebut masih berumur 20 tahun. Nasib kurang baik dialami oleh LRG(S) karena RFA Argus yang merupakan kapal utama dari satuan tersebut sudah berumur hampir 43 tahun (Argus awalnya selesai dibangun pada tahun 1981 dan dioperasikan oleh perusahaan sipil sebelum diakuisisi oleh Kementerian Pertahanan Inggris guna memperkuat militer Inggris pada Perang Falklands). Masalah utama dari faktor usia kedua kapal ini adalah nasib kapal pengganti yang masih belum jelas. Program Multi-Role Support Ship atau MRSS yang rencananya jika lancar akan dibangun bersama antara Inggris dan Belanda juga hingga saat ini masih sebatas konsep dan belum ada kepastian akan desain dari perusahaan manakah yang dipilih.

BACA JUGA :  India Setujui Pengiriman Rudal Jelajah BrahMos Ke Perbatasan Tiongkok

Selain dua kekurangan tersebut diatas, penulis mengamati bahwa komposisi dan struktur organisasi tugas pada konsep LRG cenderung mengerucut pada kekuatan pasukan khusus amfibi matra laut dengan tingkat mobilisasi taktis. Artinya, kekuatan yang saat ini dimiliki 2 LRG lebih condong kepada kekuatan untuk operasi pasukan khusus atau operasi amfibi taktis. Sehingga, apabila Royal Navy dan Royal Marines harus menghadapi kekuatan konvensional dari pasukan militer negara lawan dengan kekuatan skala penuh atau full scale force baik itu dari pasukan Marinir milik negara lawan atau pasukan tentara matra darat milik negara lawan yang mempertahankan kedudukan pantai, maka Royal Navy tidak bisa bertumpu hanya pada 2 gugus tugas LRG saja, tetapi harus mampu mengerahkan aset-aset lainnya guna mengangkut dan melakukan operasi amfibi skala besar. Hal ini membatasi fungsi LRG yang meski didesain untuk memiliki kesiapan tinggi dan berada di depan/pangkalan aju guna merespon potensi krisis, hanya mampu bertindak sebagai pasukan respon pertama, yang dalam operasinya mau tidak mau harus di dukung oleh pasukan tambahan entah itu dari militer Inggris sendiri atau dari pasukan militer negara sekutu Inggris yang terdekat dari area operasi.

Kristian Prasetyo Lobo
Kristian Prasetyo Lobohttps://www.facebook.com/Achtung.sniper
Just an ordinary person who loves diecast and military related-stuffs. Enjoy my writings as you enjoy your daily delicious food. Wanna put some suggestion? Don't hesitate to comment on my posts or you can sending me message on my facebook profile. ^^

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Baca Juga

62-anggaran-belanja-negara-anggota-nato

Hanya 5 dari 28 Negara Anggota NATO Yang Belanja Militernya Ideal

1
Hobbymiliter.com - Amerika Serikat adalah satu dari lima negara anggota Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) yang memenuhi persentase anggaran pertahanan ideal, demikian menurut para...

Recent Comments