Thursday, July 9, 2020
Home Blog Militer Mortir: Pendukung Infanteri Bermobilitas Tinggi

Mortir: Pendukung Infanteri Bermobilitas Tinggi

HobbyMiliter.com – Mortir: Pendukung Infanteri Bermobilitas Tinggi. Di tengah peperangan yang sesungguhnya, sudah menjadi hal yang wajar apabila pergerakan pasukan infanteri selalu diiringi dengan tembakan pendukung (fire support) yang berasal dari artileri medan. Meriam dengan proyektil berdaya ledak besar mampu menjebol system pertahanan dan posisi lawan. Dengan begitu pasukan infanteri pun menjadi lebih gampang menyapu bersih hingga ke pusat pertahanan musuh. Tapi pada kenyataannya, tembakan pendukung dari unit artileri medan tak sepenuhnya bisa diharapkan, juga butuh waktu untuk meminta bantuan tembakan pendukung dari udara (close air support).

mortir 1

Maka dari itu unit infanteri pun membutuhkan dukungan artileri secara mandiri di level batalyon, kompi dan peleton. Tanpa harus sepenuhnya bergantung pada dukungan satuan lain. Sehingga muncullah senjata yang disebut mortir. Mortir memiliki laras yang cukup ramping dan halus (smoothbore) dengan daya ledak yang lebih rendah, sehingga sangat cocok ditempatkan sebagai senjata pendukungan jarak dekat. Mortir sebenarnya sudah digunakan sejak Perang Dunia I, seiring dnegan kemajuan teknologi, mortir pun tetap berkembang  sebagai senjata andalan pendukung infanteri. Bentuknya yang ringkas membuatnya mudah dibawa saat pertempuran apapun. Sangat bermanfaat disaat pasukan garis depan tak mendapat tembakan pendukung dari artileri, mortir hadir untuk menutupi kekurangan itu. Bagi TNI, penggunaan mortir sudah begitu lekat sejak puluhan tahun. Hampir semua satuan TNI yang punya predikat infanteri, apa pun angkatannya saat ini dibekali unit mortir dalam beberapa kaliber yang berbeda. Kaliber mortir yang digunakan TNI ada 3 jenis, yakni kaliber 81 mm, 60 mm, dan 40 mm. Perbedaan kaliber tentu membawa pengaruh pada jarak tembak, hulu ledak dan bobot dari senjata tersebut.

BACA JUGA :  Indo Defence 2016 : PT. PAL Tandatangani MoU Dengan Boustead Untuk Membuat MRSS Pesanan AL Malaysia Di Indonesia

mortir 2

Meskipun TNI juga mempunyai mortir dengan kaliber cukup besar, seperti mortir kaliber 120 mm, 160 mm, atau bahkan 240 mm, akan tetapi mortir paling populer digunakan adalah di kaliber 81 mm. Alasannya adalah yang pertama, mortir 81 mm mempunyai jangkauan tembakan yang cukup memadai di luar jangkauan musuh, sehingga kru nya lebih aman dari serangan balasan. Daya ledaknya pun juga relatif memadahi, dan beratnya pun juga cukup mudah dibawa kemana-mana. Jenis mortir 81 mm sering dipakai oleh infanteri TNI salah satunya mortir 81 mm yang telah dimodifikasi dari mortir produksi Salgat dengan jenis Tampella. Penggunaan mortir terbilang unik jika dibandingkan dengan meriam tank ataupun howitzer. Secara garis besar, struktur mortir terdiri dari lima komponen. Yaitu landasan penahan (baseplate), bipod, sistem bidik, tabung peuncur dan termasuk juga proyektil beserta sumbunya (fuse). Struktur tabung peluncur dan baseplate bergantung pada besar kaliber proyektil.

BACA JUGA :  KRI Multatuli 561, Kapal Legendaris TNI AL

mortir 3

Spesifikasi Mortir 81 mm Pindad

Diameter : 81,4 mm

Panjang Bipod (dilipat) : 960 mm

Panjang laras : 1.560 mm

Berat lengkap mortir : 49 kg

Berat Bipod : 14 kg

Berat alat bidik : 1,55 kg

Berat dasar plat : 12,5 kg

Akurasi alat bidik : 1 mil

Jarak tembak max : 6500 – 8.000 meter

Jarak elevasi : 45-85 derajat

Cara kerja secara umum adalah sebagai berikut, ketika proyetil dijatuhkan pada tabung peluncur oleh assistant gunner, dengan posisi pantat (sirip) proyektil menghadap kebawah, lalu proyektil akan meluncur hingga ke dasar tabung peluncur. Di dasar tabung peluncur terdapat pena pemukul (firing pin) yang kemudian mengenai pemicu yang berada di ekor proyektil. Lalu ledakan yang terkurung di dalam celah antara proyektil dengan tabung mortir, akan mendorong hebat sehingga proyektil meluncur keluar tabung. Saat proyektil sampai di mulut tabung, ledakkan akan muncul dan menghasilkan bunga api disertai suara yang menggelegar. Sehingga para kru mortir harus memakai penutup telinga memadahi agar terhindar dari gangguan pendengaran, terutama untuk mortir dengan kaliber yang cukup besar.

BACA JUGA :  Radar Meteor 50DX: Radar Cuaca Pendukung Operasi TNI AU

Untuk prosedurnya, pemimpin regu bertugas mengawasi pengoperasian mortir, termasuk menentukan arah dan penempatan tembakan. Penembak (gunner) bertugas untuk membidik target menggunakan perangkat optik serta mengatur sudut elevasi dan simpangan dari mortir. Pembantu penembak (assistant gunner) bertugas memasukan proyektil saat penembak sudah memberikan aba-aba. Laras mortir juga harus dibersihkan setelah 10 kali penembakan, dan ini adalah tugas dari assistant gunner. Ada juga yang bertugas sebagai Pembawa amunisi, tugasnya adalah mempersiapkan proyektil (memasang charge dan menyetel sumbu) lalu diserahkan kepada assistant gunner. Pembawa amunisi juga harus mencatat jumlah proyektil yang ditembakkan per fire mission, serta melindungi posisi kru dari serangan musuh yang tak terduga

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Kisah Kapal Induk Rusia Admiral Kuznetsov

Kisah Kapal Induk Rusia Admiral Kuznetsov - HobbyMiliter.com. Admiral Kuznetsov saat ini merupakan kapal induk satu satunya milik Rusia. Itupun sebetulnya dalam klasifikasi kapal Angkatan...

EA-18G Growler, Pesawat Tempur Australia Spesialis Peperangan Elektronik

EA-18G Growler, Pesawat Tempur Australia Spesialis Peperangan Elektronik - HobbyMiliter.com. Sudah sejak lama, peperangan elektronik dilakukan oleh manusia. Mulai dari penerjunan pelat pelat logam...

Mengenal AWACS, Radar Terbang Koreografer Pertempuran Udara

Mengenal AWACS, Radar Terbang Koreografer Pertempuran Udara - HobbyMiliter.com. Perang udara semakin kompleks dengan melibatkan kekuatan teknologi maju dan penguasaan informasi. Konsep early warning...

Eurosam SAMP/T MAMBA, Rudal Anti Pesawat Eropa

Eurosam SAMP/T MAMBA, Rudal Anti Pesawat Eropa - HobbyMiliter.com. Dinamisnya pertempuran udara membuat payung udara yang mumpuni tidak bisa hanya mengandalkan eksistensi pesawat tempur...

Recent Comments

black donkey{(revolution mindset)}>???? on MARINIR INDONESIA – AMERIKA BERBAGI ILMU DI SITUBONDO
Thomson Sirait on Kehidupan di KRI Makassar 590
Ananda Andriyo on Patroli di Tanah Papua
HobbyMiliter on Patroli di Tanah Papua