Roket VLS Brazil Saat Diluncurkan.
Roket VLS Brazil Saat Diluncurkan.Sumber : defensanet

HobbyMiliter.com – Missile Technology Control Regime. Setelah beberapa waktu yang lalu telah kita bahas secara singkat terkait apa itu Missile Technology Control Regime, kali ini, HobbyMiliter.com akan kembali membahas tentang Missile Technology Control Regime atau MTCR sebagai lembaga proliferasi senjata pemusnah masal. Kali ini HobbyMiliter.com akan membahas tentang program senjata pemusnah masal apa saja yang berhasil digagalkan oleh MTCR.

A. Proyek Rudal Balistik Condor II

Rudal Condor II Milik Argentina
Rudal Condor II Milik Argentina Yang Juga Dikenal Dengan Badr2000 Oleh Iraq

Pada medio tahun 1980 an, Argentina yang bekerjasama dengan Mesir dan Irak, membangun sebuah rudal balistik yang diberi nama Condor II (Versi Irak dinamai BADR-2000). Rudal Condor II ini, merupakan rudal balistik dengan jarak jangkau maksimal 1.000 kilometer. Pada awal pengembangannya, Argentina menyediakan lahan serta fasilitas riset dan pengembangan bersama fasilitas produksi masal rudal tersebut, sedangkan Irak menjadi penyedia dana dan Mesir menjadi pencari teknologi yang dibutuhkan untuk pengembangan rudal tersebut.

Rudal Condor II Milik Argentina
Rudal Condor II Milik Argentina.

Proyek rudal balistik Condor II berkembang sangat lambat sehingga pada tahun 1989 muncul ketidakpuasan dari Irak sebagai penyedia dana. Lambatnya pengembangan rudal balistik tersebut lebih banyak disebabkan karena kurangnya teknologi untuk riset dan pengembangan rudal balistik dalam negeri yang dimiliki Argentina serta sulitnya mendapatkan alat alat dan teknologi inti yang diperlukan untuk pengembangan rudal tersebut.

Rudal Condor II Milik Argentina
Rudal Condor II Milik Argentina

Proyek rudal balistik Condor II atau BADR-2000 awalnya dibuat untuk dapat menciptakan sebuah rudal dengan 2 stage atau tingkatan yang dapat menghantarkan muatan berupa hulu ledak hingga mencapai jarak jangkau maksimal 1.000 km. Pada versi Condor II, tingkat pertama rudal tersebut ditenagai dengan roket pendorong berbahan bakar padat atau solid fuel engine dan tingkat kedua rudal tersebut ditenagai oleh roket pendorong berbahan bakar cair atau liquid fuel engine. Tidak seperti rudal Condor II, BADR-2000 yang merupakan versi  besutan Irak nantinya akan ditenagai oleh roket pendorong berbahan bakar padat atau solid fuel engine pada kedua tingkatan. Diperkirakan pada saat itu jika proyek rudal Condor II ini tetap berjalan sesuai jadwal, maka setiap rudal Condor II atau BADR-2000 yang diproduksi masal nantinya dapat membawa beban muatan hulu ledak hingga 350 kilogram.

Baca juga :   China Luncurkan Unit Pertama Kapal Perang Type 075 LHD
Rudal Condor II Milik Argentina
Rudal Condor II Milik Argentina

Berhentinya proyek rudal Condor II dan BADR-2000 ini disebabkan oleh tekanan politis dari negara – negara anggota MTCR. Tekanan ini dapat berupa sanksi ekonomi yang akhirnya menyulitkan Argentina, Irak, serta Mesir untuk dapat bertumbuh secara ekonomi. Namun demikian, sudah jelas siapa pemberi sumbangsih terbesar dalam berhentinya proyek Condor II dan BADR-2000 ini, ya, Amerika Serikat memberikan tekanan yang cukup kuat pada Argentina, baik dari segi politik maupun ekonomi, yang memaksa Argentina untuk menghentikan proyek Condor II. Saat tim HobbyMiliter.com menelusuri tautan terkait proyek Condor II, tanpa sengaja tim HobbyMiliter.com menemukan satu dokumen CIA yang sudah dipublikasikan terkait kronologis singkat berhentinya proyek rudal Condor II Argentina ini.

Laporan CIA Terkait Rudal Condor II Argentina
Laporan CIA Terkait Rudal Condor II Argentina.
Sumber : CIA

Dalam dokumen tersebut dijelaskan secara garis besar bahwa Amerika beserta negara – negara anggota MTCR yang lain menekan presiden Carlos Menem untuk sesegera mungkin menghentikan program rudal balistik Condor II. Presiden Menem kemudian mengalihkan aset – aset dalam pengembangan rudal balistik Condor II untuk diarahkan ke penggunaan yang lebih aman dan umum, seperti misalnya untuk riset wahana antariksa luar angkasa. Berhentinya proyek rudal balistik Condor II juga merupakan tolak ukur utama bergabungnya Argentina menjadi Anggota MTCR pada medio tahun 1993.

B. Proyek Rudal Jarak Menengah Arniston

Republic of South Africa RSA Arniston Rocket
Republic of South Africa RSA Arniston Rocket.
Sumber : nuclearweaponarchive

Siapa sangka jika Missile Technology Control Regime pernah menggagalkan proyek rudal nuklir jarak menengah yang digagas oleh Afrika Selatan? Ya, anda tidak salah baca. Pemerintah Afrika Selatan pernah mengembangkan teknologi senjata pemusnah massal berbasis nuklir. Sebuah proyek untuk meneliti kemungkinan pengembangan dan produksi terhadap rudal balistik jarak menengah pernah dibuat oleh pemerintahan Afrika Selatan.

Baca juga :   Konflik Suriah: AS-Rusia Resmi Lancarkan Operasi Gabungan dan Terapkan Gencatan Senjata
Denel Overberg Testing Range Tempat Tes Rudal Nuklir Afrika Selatan di wilayah Arniston
Denel Overberg Testing Range Tempat Tes Rudal Nuklir Afrika Selatan di wilayah Arniston.
Sumber : Denel

CIA, lembaga intelijen Amerika Serikat, mengendus hal terjadinya proyek tersebut. Amerika kemudian memberikan kode Arniston untuk proyek tersebut, diambil dari nama wilayah tempat dibangunnnya fasilitas uji tembak rudal milik Afrika Selatan tersebut. Pada masa itu, Afrika Selatan memang masih diragukan dalam hal pembangunan militernya. Meski diragukan banyak kalangan, Afrika Selatan memang secara strategis merupakan negara Adidaya dikawasan benua Afrika. Dengan kemampuan yang dimiliki saat itu, Afrika Selatan kabarnya berhasil mengembangkan wahana rudal balistik jarak menengah dengan daya angkut hulu ledak seberat 1.000 kg dan jarak jangkau maksimal 1.450 km.

Roket Arniston Milik Afrika Selatan
Roket Arniston Milik Afrika Selatan.
Sumber : nuclearweaponarchive

Hadirnya proyek rudal ini tidak bisa dipisahkan dari adanya kontribusi Israel dalam pengembangan rudal taktis ini. Afrika Selatan akhirnya dijatuhi sanksi oleh Amerika Serikat atas tuduhan membeli teknologi rudal dari Israel. Kabarnya, rudal Arniston memiliki karakteristik yang tidak jauh berbeda dengan rudal taktis Jericho yang dikembangkan oleh Israel. Pada tahun 1990, enam dari tujuh unit bom atom telah dibuat oleh Afrika Selatan.

Casing Bom Atom Yang Diproduksi Afrika Selatan
Casing Bom Atom Yang Diproduksi Afrika Selatan.
Sumber : nuclearweaponarchive

Namun kemudian pada tahun yang sama ke-enam bom atom tersebut telah dimusnahkan. Pada tahun 1992 Afrika Selatan secara resmi mengakhiri kerjasama pengembangan rudal dengan Israel. Kemudian pada tahun 1993 Afrika Selatan akhirnya menghentikan pengembangan seluruh rudal balistik dan roket angkasa jarak jauhnya. Afrika Selatan akhirnya menjadi anggota Missile Technology Control Regime pada bulan Oktober tahun 1995.

C. Proyek Roket VLS Brazil

Mock-up Roket VLS Brazil
Mock-up Roket VLS Brazil

Proyek roket VLS merupakan proyek roket untuk membawa wahana satelit dengan bobot maksimal hingga 380 kg. Tercatat Brazil membangun 3 prototype siap luncur untuk proyek ini. Meskipun proyek VLS merupakan proyek untuk membangun roket wahana pembawa satelit, namun proyek ini juga ditengarai ditunggangi kepentingan riset militer untuk dapat menjadikan Brazil sebagai negara dengan kemampuan peluncuran rudal balistik antar benua. Isu ini semakin hangat terdengar, mengingat daya angkut muatan yang cukup lumayan pada roket VLS ini.

Baca juga :   Permintaan Pembelian M109A6 Paladin Arab Saudi Disetujui AS
Roket VLS Brazil Saat Diluncurkan.
Roket VLS Brazil Saat Diluncurkan.
Sumber : defensanet

Satu roket VLS dirancang untuk dapat mengangkut satelit seberat 380kg dengan kemampuan menjangkau orbit bumi jarak rendah atau Low Earth Orbit pada kisaran 70 hingga 160km dari bumi. Secara umum MTCR mampu untuk menghentikan proyek ini akibat Brazil yang melanggar annex dari MTCR dimana annex tersebut menyatakan bahwa MTCR tidak akan mengijinkan negara diluar daftar anggota MTCR untuk membangun wahana nir-awak dengan kemampuan membawa payload atau muatan seberat 300 kilogram dengan jarak jangkau lebih dari 300 km, dalam bentuk roket, rudal, dan bahkan menurut tafsiran terbaru pesawat nir-awak.

Launch Pad Roket VLS di Alcantara Launch Station Setelah Terbakar Akibat Ledakan Roket VLS1 V03
Launch Pad Roket VLS di Alcantara Launch Station Setelah Terbakar Akibat Ledakan Roket VLS1 V03.
Sumber : wikipedia

Namun demikian selain karena desakan Pemerintah Amerika Serikat atas nama MTCR, secara khusus proyek roket VLS milik Brazil juga gagal karena hasil uji coba yang selalu mengalami kegagalan, serta perkembangan riset yang sangat lambat akibat kerjasama antara Brazil dan Ukraina yang berjalan dengan setengah hati. Dalam sejarahnya, Brazil juga akhirnya membatalkan proyek prestisius untuk mencapai penguasaan teknologi dirgantara dan luar angkasa ini dikarenakan salah satu insiden kegagalan uji coba dimana pada tanggal 22 Agustus 2003 sebuah prototype roket VLS Brazil yang hendak di uji coba malah meledak sebelum diluncurkan dan membumihanguskan situs peluncuran di Alcantara Launch Center. Setidaknya 21 orang ilmuwan dan tenaga teknis meninggal dalam insiden ini, membuat Brazil akhirnya menunda proyek VLS ini hingga akhirnya membatalkan proyek ini pada tahun 2016.

D. Penutup

Ingin tahu bagaimana implikasi hadirnya Missile Technology Control Regime bagi perkembangan teknologi roket tanah air Indonesia? Simak kelanjutannya pada bagian 3 yang akan penulis hadirkan dalam waktu dekat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here