Friday, August 14, 2020
Home Militer Teknologi Militer Radio Compass, Penuntun Navigasi Pesawat Terbang

Radio Compass, Penuntun Navigasi Pesawat Terbang

Radio Compass, Penuntun Navigasi Pesawat Terbang – HobbyMiliter.com – Puluhan tahun, penuntun arah atau posisi pesawat menjadi instrumen navigasi yang paling vital bagi sebuah pesawat terbang. Pesawat biasa memiliki dua jenis kompas, yakni magnetic compass dan radio compass. Keduanya begitu populer, terutama sebelum piranti Global Positioning System (GPS) yang keseluruhannya mengandalkan satelit militer Amerika bisa dibeli oleh kalangan non-militer.

Tak terbayangkan memang sebuah pesawat tanpa peralatan navigasi. Itu sebabnya, di antara lebih dari 70 instrumen yang terpampang di kokpit, magnetic compass dan radio compass telah menjadi alat bantu navigasi (navigation aid) yang paling sering dilihat. Maksudnya jelas, yakni agar arah penerbangan tidak melenceng.

Kedua jenis compass punya kelemahan, sehingga keduanya selalu saling mendukung dalam membantu penerbang menentukan posisi dan arah. Ketika pada titik-titik tertentu magnetic compass tak mampu menunjukkan arah yang pasti, penerbang akan mengecek radio compass mengingat penunjuk arahnya telah diset secara internasional. Penunjuk arahnya tak lain adalah pemancar gelombang radio yang telah tersebar rapat hampir di semua pelosok dunia.

Hingga kini ada empat pemancar penunjuk arah radio compass yang telah distandarisasi secara intemasional. Keempat pemancar ini, adalah: Automatic Direction Finder (ADF), Non Directional Beacon (NDB), Very Omni Range (VOR) dan Instrumen Landing System (ILS). Sebagai pemancar yang dipasang di darat, NDB akan memancarkan gelombang radio yang kemudian diterima ADF yang terpasang di pesawat.

BACA JUGA :  Foto - Foto Dokumentasi Pendudukan Tentara Soviet di Perang Afghanistan Era 80-an

Berbeda dengan VOR dan ILS. Kedua alat dipasang di darat, namun dengan nama yang sama, pesawat juga memiliki piranti penentu arah dengan nama yang sama.

Namun, karena menggunakan gelombang radio compass, alat-alat tersebut sangat dipengaruhi oleh kondisi cuaca. Daerah pegunungan dan perbatasan darat dan laut akan mempengaruhi peralatan penunjuk arah tersebut. Awan Comulonimbus (CB) juga dapat mengganggu keakuratannya, khususnya untuk ADF.

Dua huruf untuk pengenal NDB

Untuk menuntun penerbangan pesawat-pesawat mencapai tujuannya dengan tepat, di tempat-tempat tertentu di darat dipasang alat radio compass NDB dan VOR untuk dijadikan patokan oleh para penerbang pesawat sipil maupun pesawat militer. Seperti di daerah Indramayu, Jawa Barat, dipasang sebuah VOR dengan kode IMU. Pemancar gelombang penentu arah radio compass ini telah lama menjadi patokan pesawat yang akan terbang menuju Jakarta.

BACA JUGA :  Oman Akan Membeli 70+ MBT Leopard 2 dari Jerman

Sementara itu di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, selain VOR, juga ada NDB. Piranti terakhir umumnya dipasang 15 km di daerah perpanjangan landasan pacu sebuah bandar udara atau pangkalan udara. Sebuah radio compass NDB, menurut aturan intemasional, biasanya diberi kode dua huruf. NDB di perpanjangan landasan Halim Perdanakusuma, misalnya, diberi nama AL (Alfa-Lima). NDB di Cirebon, CA (Charlie-Alfa), di Bandara Husein Sastranegara Bandung OY (Oscar-Yankee), sementara yang ada di Bandara Ngurah Rai Bali OR (Oscar-Romeo).

NDB digunakan untuk menuntun pesawat yang menuju bandara setempat. Selain dipasang di sekitar bandara, NDB juga bisa dipasang di tempat-tempat tertentu yang memang dianggap strategis untuk menuntun pesawat. Di Blora, JawaTengah, misalnya, telah ditempatkan sebuah radio compass NDB dengan kode BA (Bravo-Alfa). BA digunakan sebagai acuan penerbangan yang mengarah ke Timur. Sementara yang terpasang di Purwakarta, Jawa Barat, berkode PW (Papa-Wiskhy) untuk menuntun penerbangan yang mengarah ke Barat.

Pemancar-pemancar tersebut menggunakan gelombang radio frekwensi AM. Tak heran jika alat bantu navigasi seperti radio compass ADF yang terpasang di pesawat dapat menerima pula pancaran siaran radio umum. Di wilayah Indonesia, misalnya, ADF bisa pula digunakan untuk mendengar siaran Radio Republik Indonesia. Sehingga tak heran jika pancaran RRI yang tersebar di hampir seluruh kota di Indonesia kerap dijadikan pula sebagai penentu arah bagi pesawat terbang.

BACA JUGA :  ISIS Bersiap Kembangkan Angkatan Lautnya Sendiri

Penerbang TNI AU biasanya memiliki daftar frekwensi stasiun RRI yang ada di sejumlah kota. Frekwensi itu dapat dimanfaatkan untuk memastikan posisi pesawat. Pancaran sinyalnya bisa digunakan untuk menentukan posisi pesawat, apakah ada di kanan atau kiri, di utara atau selatan sebuah kota.

Saat pesawat yang pilot awaki terbang dari Jakarta menuju Surabaya, misalnya, tatkala mendekati Semarang, misalnya, pilot bisa memutar RRI Semarang di alat navigasi radio compass ADF. Saat itu pulalah, sambil menunaikan tugas sebagai pilot, ia mendengarkan siaran RRI di head set yang melingkar di kepalanya.

Manakala jarum pada radio compass ADF mengarah ke kiri, itu artinya posisi pesawat berada di Selatan kota. Semakin mendekati Semarang, jarum akan menunjuk sudut yang semakin besar, yang selanjutnya akan mengarah ke belakang ketika pesawat sudah melewati kota.

Hanung Jati Purbakusuma
Hanung Jati Purbakusumahttps://www.hobbymiliter.com/
Sangat tertarik dengan literatur dunia kemiliteran. Gemar mengkoleksi berbagai jenis miniatur alutsista, terutama yang bertipe diecast dengan skala 1/72. Koleksinya dari pesawat tempur hingga meriam artileri anti serangan udara, kebanyakan diecast skala 1/72.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Ngeteng, Cara Angkatan Udara Singapura Memperbanyak F-16 RSAF

Beli Ngeteng, Cara Singapura Memperbanyak F-16 RSAF - HobbyMiliter.com. Dalam diskusi diskusi di forum forum militer online maupun di grup grup militer di Facebook,...

Begini Cara Kerja Over The Horizon Radar (OTHR) Jindalee Australia

Begini Cara Kerja Over The Horizon Radar (OTHR) Jindalee Australia - HobbyMiliter.com - Meski telah jutaan tahun membalut Bumi, belum seluruh bagian atmosfer bisa...

Foto – Foto Dokumentasi Pendudukan Tentara Soviet di Perang Afghanistan Era 80-an

Foto - Foto Dokumentasi Pendudukan Tentara Soviet di Perang Afghanistan Era 80-an - HobbyMiliter.com. Perang Soviet di Afghanistan berlangsung selama lebih dari sembilan tahun....

Foto Foto Langka KRI Irian, Kapal Perang Indonesia Asal Soviet

Foto Foto Langka KRI Irian, Kapal Perang Indonesia Asal Soviet - HobbyMiliter.com. Pada saat persiapan operasi Trikora dalam rangka perebutan Irian Barat (sekarang Provinsi...

Recent Comments

black donkey{(revolution mindset)}>???? on MARINIR INDONESIA – AMERIKA BERBAGI ILMU DI SITUBONDO
Thomson Sirait on Kehidupan di KRI Makassar 590
Ananda Andriyo on Patroli di Tanah Papua
HobbyMiliter on Patroli di Tanah Papua