Wednesday, May 18, 2022
HomeMiliterTeknologi MiliterRadio Compass, Penuntun Navigasi Pesawat Terbang

Radio Compass, Penuntun Navigasi Pesawat Terbang

Radio Compass, Penuntun Navigasi Pesawat Terbang – HobbyMiliter.com – Puluhan tahun, penuntun arah atau posisi pesawat menjadi instrumen navigasi yang paling vital bagi sebuah pesawat terbang. Pesawat biasa memiliki dua jenis kompas, yakni magnetic compass dan radio compass. Keduanya begitu populer, terutama sebelum piranti Global Positioning System (GPS) yang keseluruhannya mengandalkan satelit militer Amerika bisa dibeli oleh kalangan non-militer.

Tak terbayangkan memang sebuah pesawat tanpa peralatan navigasi. Itu sebabnya, di antara lebih dari 70 instrumen yang terpampang di kokpit, magnetic compass dan radio compass telah menjadi alat bantu navigasi (navigation aid) yang paling sering dilihat. Maksudnya jelas, yakni agar arah penerbangan tidak melenceng.

Kedua jenis compass punya kelemahan, sehingga keduanya selalu saling mendukung dalam membantu penerbang menentukan posisi dan arah. Ketika pada titik-titik tertentu magnetic compass tak mampu menunjukkan arah yang pasti, penerbang akan mengecek radio compass mengingat penunjuk arahnya telah diset secara internasional. Penunjuk arahnya tak lain adalah pemancar gelombang radio yang telah tersebar rapat hampir di semua pelosok dunia.

BACA JUGA :  Ukraina Kembangkan IFV VARAN-30

Hingga kini ada empat pemancar penunjuk arah radio compass yang telah distandarisasi secara intemasional. Keempat pemancar ini, adalah: Automatic Direction Finder (ADF), Non Directional Beacon (NDB), Very Omni Range (VOR) dan Instrumen Landing System (ILS). Sebagai pemancar yang dipasang di darat, NDB akan memancarkan gelombang radio yang kemudian diterima ADF yang terpasang di pesawat.

Berbeda dengan VOR dan ILS. Kedua alat dipasang di darat, namun dengan nama yang sama, pesawat juga memiliki piranti penentu arah dengan nama yang sama.

Namun, karena menggunakan gelombang radio compass, alat-alat tersebut sangat dipengaruhi oleh kondisi cuaca. Daerah pegunungan dan perbatasan darat dan laut akan mempengaruhi peralatan penunjuk arah tersebut. Awan Comulonimbus (CB) juga dapat mengganggu keakuratannya, khususnya untuk ADF.

BACA JUGA :  Indo Defence 2016 : ILSV Diproduksi 2017

Dua huruf untuk pengenal NDB

Untuk menuntun penerbangan pesawat-pesawat mencapai tujuannya dengan tepat, di tempat-tempat tertentu di darat dipasang alat radio compass NDB dan VOR untuk dijadikan patokan oleh para penerbang pesawat sipil maupun pesawat militer. Seperti di daerah Indramayu, Jawa Barat, dipasang sebuah VOR dengan kode IMU. Pemancar gelombang penentu arah radio compass ini telah lama menjadi patokan pesawat yang akan terbang menuju Jakarta.

Sementara itu di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, selain VOR, juga ada NDB. Piranti terakhir umumnya dipasang 15 km di daerah perpanjangan landasan pacu sebuah bandar udara atau pangkalan udara. Sebuah radio compass NDB, menurut aturan intemasional, biasanya diberi kode dua huruf. NDB di perpanjangan landasan Halim Perdanakusuma, misalnya, diberi nama AL (Alfa-Lima). NDB di Cirebon, CA (Charlie-Alfa), di Bandara Husein Sastranegara Bandung OY (Oscar-Yankee), sementara yang ada di Bandara Ngurah Rai Bali OR (Oscar-Romeo).

BACA JUGA :  Protector USV, Drone Laut Bersenjata Berteknologi Plug and Play

NDB digunakan untuk menuntun pesawat yang menuju bandara setempat. Selain dipasang di sekitar bandara, NDB juga bisa dipasang di tempat-tempat tertentu yang memang dianggap strategis untuk menuntun pesawat. Di Blora, JawaTengah, misalnya, telah ditempatkan sebuah radio compass NDB dengan kode BA (Bravo-Alfa). BA digunakan sebagai acuan penerbangan yang mengarah ke Timur. Sementara yang terpasang di Purwakarta, Jawa Barat, berkode PW (Papa-Wiskhy) untuk menuntun penerbangan yang mengarah ke Barat.

Pemancar-pemancar tersebut menggunakan gelombang radio frekwensi AM. Tak heran jika alat bantu navigasi seperti radio compass ADF yang terpasang di pesawat dapat menerima pula pancaran siaran radio umum. Di wilayah Indonesia, misalnya, ADF bisa pula digunakan untuk mendengar siaran Radio Republik Indonesia. Sehingga tak heran jika pancaran RRI yang tersebar di hampir seluruh kota di Indonesia kerap dijadikan pula sebagai penentu arah bagi pesawat terbang.

Hanung Jati Purbakusumahttps://www.hobbymiliter.com/
Sangat tertarik dengan literatur dunia kemiliteran. Gemar mengkoleksi berbagai jenis miniatur alutsista, terutama yang bertipe diecast dengan skala 1/72. Koleksinya dari pesawat tempur hingga meriam artileri anti serangan udara, kebanyakan diecast skala 1/72.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Baca Juga

radar APG 1

Helikopter AH-64D Apache Longbow Mengusung Radar AN/APG-78

0
HobbyMiliter.com – Helikopter AH-64D Apache Longbow Mengusung Radar AN/APG-78. Melalui program FMS (Foreign Military Sales) yang dikeluarkan tahun 2012 lalu, Indonesia akan kedatangan 8...

Recent Comments