Sunday, August 9, 2020
Home Blog Militer Sejarah Sejarah Serta Tokoh Pergerakan Nasional Indonesia

Sejarah Serta Tokoh Pergerakan Nasional Indonesia

Sejarah Serta Tokoh Pergerakan Nasional Indonesia Indonesia – HobbyMiliter.com – Pergerakan Nasional merupakan salah satu perjuangan organisasi yang bertujuan mencapai perbaikan hajat hidup bangsa Indonesia. Pergerakan Nasional ini sendiri muncul akibat ketidakpuasan terhadap keadaan serta kondisi masyarakat yang ada. Lebih luasnya bukan cuma terbatas pada perbaikan taraf hidup bangsa, tapi juga meliputi berbagai sektor seperti misalnya ekonomi, sosial, pendidikan, agama budaya, pemuda, wanita dan lainnya.

Sejarah Pergerakan Nasional

Sejarah Indonesia merdeka menunjukkan pentingnya peran berbagai organisasi pergerakan nasional yang muncul di Indonesia. Walau ketidakpuasan terhadap penjajah sudah ada sejak masa-masa Pangeran Diponegoro, namun sering mengalami kegagalan. Penyebabnya antara lain karena para pahlawan tersebut belum memahami pentingnya persatuan nasional.

Berbagai kegagalan yang dialami tersebut menyadarkan pemimpin bangsa, termasuk di dalamnya para pahlawan pergerakan nasional buat mengubah strategi perlawanan bangsa Indonesia terhadap penjajahan bangsa Eropa yang menjajah Indonesia demi tercapainya cita-cita Indonesia Merdeka..

Masa pergerakan nasional antara lain ditandai dengan kemunculan berbagai organisasi pergerakan nasional Indonesia seperti diuraikan di bawah ini.

  • Budi Utomo

Dengan harapan munculnya tenaga muda dengan didikan secara Barat, dr. Wahidin Sudirohusodo memaparkan gagasan buat membentuk Budi Utomo. Wahidin menyadari keterbatasan para pemuda Indonesia yang tidak sanggup membiayai diri mereka, karena itu di kumpulkanlah beasiswa atau study fond.

Tanggal 20 Mei 1908 Wahidin bersama Sutomo serta para pelajar Stovia mengadakan rapat dan sepakat membentuk organisasi bernama Budi Utomo dengan Sutomo sebagai ketua. Tujuan Budi Utomo saat pertama dibentuk adalah menjamin kemajuan kehidupan sebagai bangsa terhormat dengan cara mengupayakan perbaikan di sektor pendidikan, pengajaran, kebudayaan, pertanian, peternakan, serta perdagangan.

Seiring perkembangan waktu, Budi Utomo terpecah menjadi dua aliran, yaitu:

    • Pihak Kanan

Pihak ini menginginkan keanggotaan organisasi mereka dibatasi golongan terpelajar, tidak terlibat dalam politik dan membatasi cuma pada pelajaran sekolah.

    • Pihak Kiri

Jumlah anggota pihak ini lebih kecil cuma terdiri dari kaum muda yang berkeinginan ke gerakan kebangsaan demokratik, serta lebih memberi perhatian kepada nasib rakyat yang menderita.

Kemudian saat Perang Dunia I tahun 1914, Budi Utomo mulai aktif terjun ke politik. Berikut beberapa peran aktif mereka:

      • Mengumandangkan pentingnya pertahanan sendiri dalam menghadapi serangan bangsa lain.
      • Mendukung Gagasan Wajib Militer bagi Pribumi.
      • Mengirim Komite Indie Weerbaar ke Belanda demi pertahanan Hindia.
      • Turut aktif dengan menempatkan perwakilan di Dewan Rakyat atau Volksraad.
      • Membentuk Komite Nasional demi menghadapi Pemilihan Anggota Volksraad.
BACA JUGA :  Foto Kapal Tunda Baru TNI-AL, TD Anjasmoro

Kemudian seiring dengan pemahaman kebangsaan Budi Utomo yang kian berkembang, tujuan Budi Utomo pun mengalami perkembangan hingga pada tahun 1932 mereka mencantumkan tujuan baru yang ingin dicapai, yaitu cita-cita Indonesia merdeka.

  • Indische Partij

Organisasi yang dibentuk tanggal 25 Desember 1912 ini sejak awal berdiri sudah menunjukkan sikap radikal mereka. Dr. Danudirja Setiabudi atau Ernest Francois Eugene Douwes Dekker membentuk Indische Partij atas dasar cita-citanya agar orang yang menetap di Hindia Belanda atau Indonesia bisa duduk dalam pemerintahan. Karena itulah Indische Partij memiliki semboyan Indie Voor de Indier atau Hindia bagi orang-orang yang berdiam di Hindia.

Douwes Dekker bertemu dengan Cipto Mangunkusumo, Ki Hajar Dewantara atau Suwardi Suryaningrat serta Abdul Muis dan mengembangkan Indische Partij hingga memiliki 30 cabang dengan 7.300 anggota yang sebagian besar orang Indo-Belanda.

Tujuan Indische Partij buat membangun patriotisme semua Indiers pada Tanah Air terpengaruh juga dengan cita-cita nasionalisme yang kokoh seperti berbagai organisasi pergerakan nasional lain yang keanggotaannya terdiri dari berbagai suku bangsa, seperti Serikat Ambon, Serikat Minahasa, Partai Tionghoa Indonesia, Serikat Selebes, dan lainnya.

Demi mencapai tujuan tersebut, Indische Partij pun memakai beberapa sarana yang mendukung, seperti media majalah Het Tijdschrifc dan juga surat kabar De Expres yang dipimpin Douwes Dekker. Indische Partij berusaha keras mendobrak kenyataan politik rasial yang dijalankan pemerintah kolonial saat itu dengan membangkitkan rasa kebangsaan serta cinta Tanah Air Indonesia.

Indische Partij berakhir saat Douwes Dekker, Suwardi Suryaningrat dan Cipto Mangunkusumo ditangkap pemerintah Belanda dengan alasan Indische Partij dianggap mengganggu serta mengancam ketertiban umum. Mereka pun dibuang ke berbagai daerah hingga akhirnya mereka dibuang ke Belanda.

  • Perhimpunan Indonesia

Sebelum diberi nama Perhimpunan Indonesia, nama saat awal didirikan adalah Indische Vereeniging yang dengan pelopornya Sutan Kasayangan Soripada dan RM Noto Suroto. Beberapa mahasiswa yang terlibat aktif dalam organisasi ini diantaranya adalah R. Pandji Sosrokartono, Natadiningrat, Abdul Rivai, Gondowinoto, Radjiman Wediodipuro atau Wediodiningrat serta Brentel.

Tujuan pembentukan organisasi Indische Vereeniging adalah demi memajukan kepentingan bersama orang-orang yang berasal dari Indonesia. Salah satu sarana yang mereka gunakan buat menyuarakan idealisme mereka adalah majalah Hindia Poetra.

BACA JUGA :  Duterte Beri Pasukan AS 2 Tahun Untuk Angkat Kaki Dari Filipina

Iwa Kusumasumantri selaku ketua baru yang ditunjuk saat Rapat Umum bulan Januari 1923 menjelaskan tiga asas pokok atau dikenal dengan sebutan Manifesto Politik sebagai berikut:

    1. Indonesia mau menentukan nasib sendiri.
    2. Agar dapat melakukan hal tersebut, maka bangsa Indonesia mesti mengandalkan kekuatan serta kemampuan sendiri.
    3. Dengan tujuan utama anti-kolonialisme atau melawan Belanda, maka bangsa Indonesia mesti bersatu.

Seiring perkembangan politik organisasi ini, sekitar tahun 1924 mereka kemudian mengubah nama organisasi menjadi Indonesische Vereeniging yang diikuti dengan perubahan nama Hindia Poetra menjadi Indonesia Merdeka.

Barulah pada tanggal 3 Februari 1925 organisasi tersebut berubah namanya menjadi Perhimpunan Indonesia dengan semboyan Indonesia Merdeka walau dikatakan dalam bahasa Belanda. Para anggota pun memperluas jangkauan politik mereka dengan mengikuti berbagai kegiatan di dunia internasional hingga mendapat perhatian dunia internasional. Beberapa keterlibatan mereka dalam kegiatan internasional antara lain adalah::

    • Mengirim delegasi yang dipimpin Mohammad Hatta pada Kongres ke-6 Liga Demokrasi Internasional buat perdamaian di Paris tahun 1926.
    • Mengirim delegasi yang terdiri dari Mohammad Hatta, Batoto, Nasir Pamuncak, serta Achmad Soebardjo pada Kongres I Liga Penentang Imperialisme dan penindasan kolonial di Berlin tahun 1927.

Namun Perhimpunan Indonesia kerap mendapat tekanan dari pemerintah Belanda, terutama setelah pemberontakan Partai Komunis Indonesia di tahun 1926. Meski demikian, Semaun bersama Mohammad Hatta pada tanggal 25 Desember 1926 menandatangani kesepakatan yang menekankan pada upaya Perhimpunan Indonesia buat tetap pada garis perjuangan kebangsaan serta menghimbau PKI agar tidak menghalangi perwujudan cita-cita Indonesia Merdeka. Kesepakatan tersebut kemudian dikenal dengan Konvensi Hatta-Semaun.

Cita-cita Perhimpunan Indonesia yang dikembangkan sejak tahun 1925 memperhatikan masalah sosial, ekonomi dan menempatkan Kemerdekaan sebagai tujuan politik. Cita-cita tersebut kemudian tertuang dalam empat Pokok Ideologi, yaitu:

    • Kesatuan Nasional
    • Solidaritas
    • Non-Kooperasi
    • Swadaya
  • Partai Nasional Indonesia atau PNI

Pembentukan PNI dilatarbelakangi situasi sosio politik yang kompleks serta rumit, salah satunya adalah pemberontakan PKI tahun 1926 yang membangkitkan semangat buat menyusun kekuatan baru demi menghadapi pemerintah kolonial.

PNI sendiri dibentuk pada tanggal 4 Juli 1927 dalam Rapat Pendirian Partai di Bandung yang dihadiri Ir. Soekarno, Dr. Cipto Mangunkusumo, Mr. Iskaq Cokroadisuryo, Soedjadi, Mr. Budiarto, serta Mr. Soenarjo.

BACA JUGA :  KRI Oswald Siahaan 354, Kapal Legendaris TNI AL

Ir. Soekarno kemudian mengeluarkan Trilogi sebagai pegangan perjuangan PNI dalami mengobarkan semangat perjuangan nasional. Cakupan Trilogi tersebut adalah:

    • Kesadaran Nasional
    • Kemauan Nasional
    • Perbuatan Nasional

Tujuan PNI sendiri adalah serupa dengan kebanyakan organisasi pergerakan nasional Indonesia saat itu, mencapai Indonesia Merdeka. Demi mencapai tujuannya, PNI memakai tiga asas, yaitu:

    • Berjuang dengan usaha sendiri atau self-help dan nonmendiancy
    • Sikapnya terhadap pemerintah juga antipati dan nonkooperasi
    • Dasar perjuangan adalah Marhaenisme

Berbagai kegiatan yang dilakukan PNI dengan cepat menarik minat massa hingga membuat pemerintah kolonial cemas dan memperketat pengawasan terhadap kegiatan politik, seperti melakukan penggeledahan dan penangkapan.

Seiring desas desus PNI bakal lakukan pemberontakan, maka pemerintah kolonial menangkap keempat tokoh PNI, yaitu Ir. Soekarno, R. Gatot Mangkoeprojo, Supriadinata serta Markun Sumodiredjo. Ir. Soekarno melakukan pembelaan yang diberi judul Indonesia Menggugat dalam proses pengadilan.

Penangkapan keempat tokoh tersebut menggoyahkan keberlangsungan partai hingga tanggal 25 April 1931 saat Kongres Luar Biasa diambil keputusan buat membubarkan PNI. Keputusan ini menimbulkan pro kontra dimana Mr. Sartono kemudian membentuk Partindo, sementara Mohammad Hatta dan Sutan Syahrir membentuk Pendidikan Nasional Indonesia atau PNI Baru. Walau keduanya masih memakai asas self-help dan nonkooperasi, namun ada perbedaan dalam strategi perjuangan dimana Partindo lebih mengutamakan aksi massa sebagai senjata paling tepat buat mencapai cita-cita Indonesia Merdeka, PNI Baru lebih mengutamakan pendidikan politik dan sosial.

Tokoh Pergerakan Nasional

Beberapa tokoh pergerakan nasional diantaranya adalah:

  • Wahidin Sudirohusodo, pencetus berdirinya Budi Utomo.
  • Sutomo, ketua Budi Utomo.
  • O. S. Cokroaminoto, ketua Serikat Islam.
  • Samanhudi, pendiri Serikat Dagang Islam.
  • Agus Salim, salah satu tokoh Serikat Islam Putih.
  • Cipto Mangunkusumo, Douwes Dekker, dan Suwardi Suryaningrat yang lebih dikenal dengan Tiga Serangkai, pendiri Indische Partij.
  • M. Noto Suroto, pelopor pembentukan Perhimpunan Indonesia serta Manifesto Politik.
  • Soekarno, pelopor Perhimpunan Nasional Indonesia.
  • Mohammad Hatta.
  • Sutan Syahrir.
  • Mohammad Husni Thamrin.
  • Mohammad Yamin.
  • H. Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah.
  • A. Kartini, pejuang emansipasi wanita Indonesia..
  • R. Supratman.
  • Dewi Sartika
  • Maria Walanda Maramis.

Demikianlah artikel terkait sejarah serta tokoh pergerakan nasional di Indonesia. Semoga bisa bermanfaat dan menambah wawasan kamu terkait topik tersebut ya.

Hanung Jati Purbakusuma
Hanung Jati Purbakusumahttps://www.hobbymiliter.com/
Sangat tertarik dengan literatur dunia kemiliteran. Gemar mengkoleksi berbagai jenis miniatur alutsista, terutama yang bertipe diecast dengan skala 1/72. Koleksinya dari pesawat tempur hingga meriam artileri anti serangan udara, kebanyakan diecast skala 1/72.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Ngeteng, Cara Angkatan Udara Singapura Memperbanyak F-16 RSAF

Beli Ngeteng, Cara Singapura Memperbanyak F-16 RSAF - HobbyMiliter.com. Dalam diskusi diskusi di forum forum militer online maupun di grup grup militer di Facebook,...

Begini Cara Kerja Over The Horizon Radar (OTHR) Jindalee Australia

Begini Cara Kerja Over The Horizon Radar (OTHR) Jindalee Australia - HobbyMiliter.com - Meski telah jutaan tahun membalut Bumi, belum seluruh bagian atmosfer bisa...

Foto – Foto Dokumentasi Pendudukan Tentara Soviet di Perang Afghanistan Era 80-an

Foto - Foto Dokumentasi Pendudukan Tentara Soviet di Perang Afghanistan Era 80-an - HobbyMiliter.com. Perang Soviet di Afghanistan berlangsung selama lebih dari sembilan tahun....

Foto Foto Langka KRI Irian, Kapal Perang Indonesia Asal Soviet

Foto Foto Langka KRI Irian, Kapal Perang Indonesia Asal Soviet - HobbyMiliter.com. Pada saat persiapan operasi Trikora dalam rangka perebutan Irian Barat (sekarang Provinsi...

Recent Comments

black donkey{(revolution mindset)}>???? on MARINIR INDONESIA – AMERIKA BERBAGI ILMU DI SITUBONDO
Thomson Sirait on Kehidupan di KRI Makassar 590
Ananda Andriyo on Patroli di Tanah Papua
HobbyMiliter on Patroli di Tanah Papua