Friday, October 22, 2021
HomeBlog MiliterBerita MiliterRefleksi HUT Ke-76 Tentara Nasional Indonesia-Sebuah Opini

Refleksi HUT Ke-76 Tentara Nasional Indonesia-Sebuah Opini

Hobbymiliter.com – Hari ini, Selasa, 5 Oktober 2021, genap tujuh puluh enam tahun usia dari Tentara Nasional Indonesia (TNI). Begitu banyak pertempuran dan konflik bersenjata yang telah dijalani oleh kekuatan militer Negara Kesatuan Republik Indonesia ini. Disamping juga menjaga dan mempertahankan wilayah kedaulatan negara, TNI yang juga memiliki doktrin pelaksanaan Operasi Militer Selain Perang (OMSP) juga telah banyak terlibat dalam berbagai fase pembangunan bangsa dan negara. Lalu, pertanyaan yang sama yang selalu berulang setiap tahun nya di benak penulis, kembali terngiang. “Mau dibawa kemanakah TNI yang sekarang? Apa visi TNI kedepan? Bagaimana sikap TNI menyikapi keadaan situasi dan kondisi geopolitik regional khususnya ASEAN dan lebih luas lagi Asia-Pasifik pada masa sekarang?”

Pertanyaan yang selalu terulang terus menerus setiap tahun di hari ulang tahun (HUT) TNI tanggal 5 Oktober. Terlepas dari segala pertanyaan tersebut memiliki atau bisa di jawab dengan sebuah jawaban yang sangat jelas atau malah sangat buram hingga sulit dipahami maksud arah dan tujuan TNI kedepan sebagai organisasi utama penyelenggara pertahanan dan keamanan negara Indonesia secara militer, ada beberapa hal yang penulis cermati dan rasanya, perlu penulis tuliskan dalam tulisan singkat kali ini sebagai bukti nyata harapan penulis pada organisasi kekuatan militer Indonesia tersebut.

  1. Perlunya Evaluasi Doktrin Umum Dalam Menyikapi Perkembangan Situasi dan Kondisi di Kawasan

Penulis berpendapat bahwa saat ini, TNI secara keseluruhan perlu mengubah doktrin umum dalam menyikapi perkembangan situasi dan kondisi pertahanan dan keamanan di kawasan. Kawasan yang dimaksud disini adalah tentu saja, Asia-Pasifik secara luas dan ASEAN secara sempit. Bila dalam medio tahun-tahun sebelumnya TNI cenderung bersikap pasif dan mengutamakan urusan “internal” yakni menjaga wilayah kedaulatan negara Republik Indonesia saja, menurut penulis, kini sudah saatnya TNI aktif berperan dalam upaya penciptaan lingkungan Asia-Pasifik dan ASEAN yang aman dengan membangun kerjasama pertahanan yang lebih intensif baik dengan sesama negara ASEAN atau dengan sesama negara Asia-Pasifik yang lain. Inilah saatnya menurut penulis, bahwa TNI harus menyatakan sikap secara tegas untuk mendukung kebebasan dan hak pelayaran bebas di wilayah laut internasional yang berada di wilayah Asia-Pasifik, tentu, maksud penulis secara khusus disini adalah Laut China Selatan atau LCS.

BACA JUGA :  Uni Eropa Kecam Pembangunan Pemukiman Ilegal Israel Terbesar Sepanjang Sejarah

Penulis memandang perlu adanya respon khusus dari TNI dalam upaya menciptakan Free and Open Indo-Pacific sebagai sebuah kondisi dimana kapal-kapal dagang berbagai negara tetap dapat berlayar dengan aman dan tanpa gangguan dari pihak tertentu serta menyatakan sikap terkait upaya klaim sepihak atas wilayah perairan Laut China Selatan oleh negara Tiongkok yang kian hari kian agresif dalam “mempertahankan wilayah” perairan yang diklaim oleh mereka. Tentu, TNI tidak dapat bergerak dan menyatakan sikap sendiri dalam hal ini. Penulis memandang perlu bagi pemerintah Republik Indonesia dalam hal ini Kementerian Luar Negeri, dan Kementerian Pertahanan untuk segera menyatakan sikap secara jelas atas kondisi yang terjadi dan berkembang akhir-akhir ini di LCS. Jangan hanya mengucapkan kata “prihatin” saja, kita, sebagai negara, telah diberi kode oleh berbagai negara (yang terbaru adalah aliansi AUKUS) untuk segera menyatakan sikap atas kondisi eskalasi politik dan militer yang terjadi di LCS, bukan hanya merespon “prihatin” lewat akun twitter saja.

  1. Perlunya Alutsista Baru, Canggih, dan Mempunyai Efek Deteren yang Tinggi Bagi TNI Agar Dapat Meningkatkan Kehadiran / Presence

Bagi penulis, pembelian kapal perang jenis Frigate FREMM dari Italia dan juga pembelian kapal perang jenis Frigate Arrowhead 140 dari Inggris guna memperkuat TNI Angkatan Laut patut dan sangat perlu untuk dilanjutkan. Jika TNI AL mulai mengoperasikan kapal kombatan permukaan jenis Frigate dengan ukuran yang besar tersebut, tidak dapat diragukan lagi, tingkat kehadiran TNI AL di wilayah yang “diperebutkan” akan semakin tinggi dan kita tak lagi dipandang sebelah mata oleh negara-negara lain dan oleh negara yang mencoba “mengklaim” secara sepihak wilayah kedaulatan kita di perairan Laut Natuna Utara.

Sudah saatnya Satuan Kapal Eskorta TNI AL dapat hadir di perairan terluar Indonesia dengan dilengkapi kapal yang berukuran lebih besar, memiliki persenjataan yang lebih lengkap, dan tentunya memiliki durasi waktu berlayar yang lebih lama. Sudah saatnya kita sebagai negara berdaulat melindungi keberadaan nelayan kita di Laut Natuna Utara, dengan kapal perang yang kuat baik secara spesifikasi persenjataan maupun secara ketahanan berlayar.

BACA JUGA :  Latihan PHH Batalyon Komando 466 Paskhas

Disamping memperkuat TNI AL dengan kapal perang baru yang lebih besar, lebih canggih, dan lebih kuat disbanding kapal kombatan permukaan yang saat ini dimilikinya, TNI AU juga harus diperkuat dengan lebih banyak pesawat tempur, dan aset-aset pesawat yang memiliki kemampuan C4ISR (Command, Control, Communication, Computer, Intelligence, Surveillance, and Reconnaissance). Kombinasi kemampuan dan kekuatan yang dimiliki TNI AL dan TNI AU akan sangat berguna sebagai ujung tombak pertahanan negara di wilayah kontestasi kedaulatan tersebut (Laut Natuna Utara,red).

Tak hanya memperkuat TNI AU dan TNI AL, sebagai masyarakat awam, penulis juga memandang perlunya diadakan perkuatan di satuan pertahanan udara milik TNI AD dan TNI AU. Sudah saatnya kita mulai mengoperasikan peluru kendali pertahanan udara atau Rudal Hanud dengan jarak jangkau menengah hingga jarak jangkau jauh. Jika dahulu kita mampu mengoperasikan sistem pertahanan udara sekelas SA-2 “Guideline” atau S-75 “Dvina” di TNI AU yang pada waktu itu bernama AURI, serta sistem pertahanan udara sekelas Rapier di TNI AD, penulis menganggap bahwa inilah saat yang tepat untuk kembali mengoperasikan sistem senjata pertahanan udara berbasis rudal jarak menengah dan jarak jauh sebagai salah satu unsur utama kekuatan pertahanan udara nasional.

  1. Perlunya Menerapkan Sistem Pertahanan Negara Yang Terintegrasi Antar Matra

Dalam upaya menyelenggarakan pertahanan negara yang baik dan tepat guna, dalam pendapat penulis sebagai masyarakat awam diperlukan adanya sebuah sistem yang mengkoordinasi penyelenggaraan pertahanan negara yang terintegrasi antar matra dan mampu memberikan respons yang cepat terhadap perkembangan situasi dan kondisi di kawasan sekitar negara Republik Indonesia. Penulis melihat selama ini upaya integrasi sistem pertahanan negara antar matra dalam tubuh TNI masih kurang. Skenario – scenario Latgab TNI selalu menitik beratkan pada pelaksanaan upaya perebutan kembali wilayah dengan memanfaatkan segenap kekuatan yang ada. Diperlukan adanya suatu sistem yang mengakomodir kemampuan tiap matra dalam menyelenggarakan pertahanan negara dan mampu membuat kemampuan tersebut tersalurkan secara cepat dan tepat.

BACA JUGA :  Foto Foto Darurat Militer Aceh 2003-2004, Operasi Militer Lawan GAM

Secara umum, penulis amat menaruh harapan pada pembentukan Kogabwilhan (Komando Gabungan Wilayah Pertahanan) yang belakangan ini dilaksanakan oleh TNI. Kogabwilhan jika dimanfaatkan dengan baik maka akan mampu menjadi satuan Komando Utama Operasi yang mampu merespons eskalasi konflik militer bersenjata dari skala kecil hingga skala besar dengan cepat dan tepat. Pemanfaatan Kogabwilhan beserta aset-aset yang tergabung didalamnya dari tiap-tiap matra sebagai salah satu unsur Kotama-Ops TNI dapat menghasilkan respons yang baik dan cepat dalam menyikapi Build Up situasi dan kondisi yang terjadi di sekitar wilayah kedaulatan NKRI.

Dengan dimanfaatkannya Kogabwilhan TNI secara maksimal, maka, penulis yakin bahwa penyelenggaraan pertahanan negara yang ideal dapat terjadi dan dapat disempurnakan secara bertahap kedepannya sehingga jika terjadi eskalasi atau konflik militer di kawasan, TNI selaku Organisasi Militer Negara Indonesia siap merespon dan mampu merespon dengan cepat dan tepat.

 

Penutup

Penulis tidak bisa mengungkapkan banyak hal secara teknis terkait penyelenggaraan pertahanan negara Indonesia oleh TNI. Selain begitu banyak aspek yang harus diperbaiki dan ditingkatkan kembali agar menjadi lebih baik, bagi penulis, tiga issue tersebut diatas lah yang saat ini menurut penulis secara garis besar harus menjadi perhatian Pemerintah RI dalam hal ini Kementerian Pertahanan, dan TNI selaku organisasi militer penyelenggara pertahanan dan keamanan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Akhir kata, Selamat Ulang Tahun TNI, kiranya tetap Jaya, Di Darat, Laut, dan Udara !

Tri Dharma Eka Karma !

 

Note : Tulisan merupakan opini ringan dari penulis sebagai bentuk kecintaan dan apresiasi atas kinerja TNI dalam mempertahankan wilayah kedaulatan negara Republik Indonesia, dan bukan merupakan pernyataan sikap resmi dari www.hobbymiliter.com.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Recent Comments

black donkey{(revolution mindset)}>???? on MARINIR INDONESIA – AMERIKA BERBAGI ILMU DI SITUBONDO
Thomson Sirait on Kehidupan di KRI Makassar 590
Ananda Andriyo on Patroli di Tanah Papua
HobbyMiliter on Patroli di Tanah Papua