
Dari segi fisik, kapal kelas Ahmad Yani memiliki panjang total 113,4 meter, beam 12,5 meter, dan draught 4,2 meter. Kapal ini memiliki bobot 2.880 ton ketika mengangkut beban secara penuh. Jumlah awak yang dapat diangkut adalah sebanyak 180 orang.
Kapal ini dipersenjatai oleh meriam Oto Melara kaliber 76 mm sebagai senjata utama, dan empat unit senapan mesin kaliber 12,7 mm sebagai pertahanan titik. Selain itu, Ahmad Yani juga dapat menyerang kapal selam dengan menggunakan enam tabung torpedo yang dapat meluncurkan torpedo jenis Honeywell Mk 46. Awalnya Kapal kelas Ahmad Yani di perlengkapi dengan rudal Sea Cat sebagai pertahanan anti serangan udara dan rudal Harpoon sebagai senjata anti kapal. Saat ini baik Sea Cat maupun Harpoon sudah pensiun dan digantikan rudal mistral sebagai pertahanan anti serangan udara dan rudal C-802 serta Yakhont (khusus KRI Oswald Siahaan) sebagai senjata anti kapal.
Profil Fregat Kelas Ahmad Yani
Kelas Ahmad Yani adalah fregat bekas Angkatan Laut Belanda dari kelas Van Speijk, yang dibeli Indonesia pada 1986-1990. Lima kapal memperkuat TNI AL: KRI Ahmad Yani 351 (eks Tjerk Hiddes), KRI Slamet Riyadi 352 (eks Van Speijk), KRI Yos Sudarso 353 (eks Van Galen), KRI Oswald Siahaan 354 (eks Van Nes), dan KRI Karel Satsuitubun 356 (eks Isaac Sweers). Dengan bobot sekitar 2.900 ton, persenjataan mereka dalam dinas Indonesia bertumpu pada meriam utama 76 mm, tabung torpedo anti kapal selam, serta pertahanan udara jarak dekat yang pada sebagian unit diperkuat rudal Mistral.
Fregat-fregat ini menjadi tulang punggung armada frigat Indonesia selama tiga dekade: berpatroli dari Natuna sampai Papua, mengikuti latihan bersama angkatan laut asing, dan menjadi sekolah laut bagi ribuan perwira TNI AL. Karena dibangun pada 1960-an di Belanda, usia lambung mereka memang sudah sangat tua ketika rencana pemensiunan yang diberitakan artikel ini diumumkan.
Bagaimana Nasibnya Kini?
Pemensiunan berjalan bertahap sesuai perkiraan. KRI Slamet Riyadi 352 termasuk yang lebih dulu pensiun pada 2019, dan unit-unit lain menyusul atau dialihkan ke peran yang lebih ringan seiring datangnya fregat baru: kelas Martadinata (SIGMA 10514) dan kemudian program fregat Merah Putih serta kapal impor baru. Pergantian ini menutup salah satu babak terpanjang dalam sejarah TNI AL — fregat bekas Belanda yang berdinas lebih lama di Indonesia daripada di negara asalnya.
Pengganti kelas ini datang dari dua arah: fregat kelas Martadinata yang dibangun PT PAL bersama Damen, dan program fregat Merah Putih (berbasis Arrowhead 140) yang mulai dibangun di Surabaya, ditambah rencana mendatangkan fregat bekas Italia kelas Bergamini/FREMM. Kombinasi kapal baru dalam dan luar negeri itu memastikan TNI AL tidak lagi bergantung pada lambung berusia 60 tahun untuk menjaga wilayah lautnya.
Baca juga: KRI Fatahillah 361, fregat seangkatan yang memilih jalan modernisasi, dan KRI Irian.






