Foto Foto Darurat Militer Aceh 2003-2004, Operasi Militer Lawan GAM

1
27184
Pasukan TNI di Aceh 2003
Pasukan TNI di Aceh 2003

Pasukan TNI biasanya beroperasi dalam doktrin buddy system. Mereka berpasangan, dimana masing masing saling melindungi satu sama lain. Terlihat seorang prajurit melindungi prajurit lainnya.

Pasukan linud mendarat di Aceh dalam rangka Operasi Darurat Militer Aceh 2003
Pasukan linud mendarat di Aceh dalam rangka Operasi Darurat Militer Aceh 2003

Pada hari pertama operasi darurat militer di Aceh 2003, pasukan TNI diterjunkan dari udara dengan pesawat C-130 Hercules dengan dilindungi oleh pesawat tempur Hawk 209. Sementara itu segerombolan OV-10 Bronco melakukan serangan darat ke target target terpilih, dan kemudian melakukan misi Combat Air Support untuk melindungi pasukan para yang diterjunkan.

PT-76 Marinir TNI AL dalam Operasi Darurat Militer Aceh 2003
PT-76 Marinir TNI AL dalam Operasi Darurat Militer Aceh 2003

Pasukan kavaleri Marinir sedang beristirahat dengan tank amfibi PT-76nya. Tampak warga tetap melakukan aktifitas seperti biasanya. Dengan adanya pasukan marinir di desa mereka, mereka dapat merasa lebih aman dari gangguan keamanan yang sering dilakukan pasukan GAM.

BACA JUGA :  Lagi, Kapal Perusak USS Mason Gagalkan Serangan Rudal C802 Pasukan Houthi
Pasukan TNI di Aceh 2003 masih menggunakan SS-1
Pasukan TNI di Aceh 2003 masih menggunakan SS-1

Pasukan TNI dimasa itu masih diperlengkapi dengan senapan standar SS-1 buatan PT Pindad Bandung. SS-1 dimasa ini konon sering dikeluhkan oleh para penggunanya dengan keluhan larasnya cepat panas dan sering macet. Dari hasil pengalaman di Aceh ini, akhirnya PT Pindad merancang senapan serbu yang sama sekali baru, SS-2 yang kini menjadi standar TNI.

Pasukan TNI di Aceh 2003 masih ada yang tanpa rompi anti peluru.
Pasukan TNI di Aceh 2003 masih ada yang tanpa rompi anti peluru.

Pasukan TNI dimasa itu juga belum semuanya diperlengkapi dengan perangkat keamanan pribadi seperti rompi anti peluru. Tapi tidak lama setelah operasi berlangsung, rompi dengan pelat anti baja peluru depan dan belakang pun mulai dibagikan ke pasukan garis depan. Namun tentu saja, beratnya masih jauh lebih berat dari pada rompi keramik dan kevlar masa kini yang ‘ringan’. [Bersambung ke halaman berikut]

1 COMMENT

  1. Jika Pindad saat itu melakukan reverse engineering terhadap VAB menjadi Anoa 6×6, kapan dilakukan reverse engineering terhadap anti-tank rocket launcher (LRAC F1, PF-98, RPG-7), ATGM (Javelin), MANPADS (Igla, Stinger, RBS-70), truk angkut personel, dll? Semoga kemandirian alutsista semakin meningkat.

Comments are closed.