Operasi Haik, Campur Tangan CIA Dalam Pemberontakan PRRI dan Permesta

2
8748
Operasi Haik, Campur Tangan CIA Dalam Pemberontakan PRRI dan Permesta
Operasi Haik, Campur Tangan CIA Dalam Pemberontakan PRRI dan Permesta. Ilustrasi Pesawat Tempur P-51D Mustang Milik AURI. Sumber : dc3dakotahunter

Operasi Haik, Campur Tangan CIA Dalam Pemberontakan PRRI dan Permesta РHobbyMiliter.com.  Pada tahun 1957, keadaan Negara Kesatuan Republik Indonesia sangat terancam. Muncul dua bibit pemberontakan yang didasari atas kekecewaan beberapa golongan masyarakat dan perwira militer di daerah terhadap kebijakan Рkebijakan yang dibuat oleh pemerintah pusat yang kala itu berkedudukan di Jakarta.

Pemberontakan pertama diawali di daerah Sumatra Barat, dimana diumumkan sebuah gerakan yang bernama Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia yang selanjutnya disingkat PRRI yang dipimpin oleh seorang perwira militer, Letnan Kolonel Ahmad Husein. PRRI yang menyatakan diri memutus hubungan dengan pemerintah pusat Republik Indonesia menyatakan bahwa mereka menguasai wilayah barat dan tengah pulau Sumatra.

BACA JUGA :  Rusia Hantam Target Darat Dengan Rudal Anti Kapal Onyx Di Suriah

Seolah tidak mau kalah, sekelompok masyarakat yang juga terdiri dari kalangan perwira militer di daerah Sulawesi Selatan juga mendeklarasikan bahwa mereka bersimpati atas perjuangan yang dilakukan oleh kelompok PRRI dan mendeklarasikan berdirinya kelompok lainnya yakni Perdjuangan Rakyat Semesta atau disingkat Permesta.

Kelompok ini kemudian dipimpin oleh seorang perwira militer yang juga berpangkat Letnan Kolonel, yakni Letnan Kolonel H.N Ventje Sumual, salah satu perwira yang berperan besar dalam serangan umum 1 Maret di Yogyakarta. Permesta menyatakan diri mendukung perjuangan yang dilakukan PRRI, dan oleh karena kesamaan maksud dan tujuan, menyatakan diri memutus hubungan dengan pemerintah pusat Republik Indonesia.

BACA JUGA :  Empat Warga Malaysia Terduga Anggota ISIS Ditahan

Sebagai reaksi atas dideklarasikannya dua kelompok perlawanan terhadap pemerintah pusat RI, Jakarta menyiapkan kekuatan militernya yang masa itu masih sangat muda usianya, yakni Angkatan Darat, Angkatan Laut, dan Angkatan Udara, untuk memulai rangkaian operasi militer gabungan dalam rangka menumpas gerakan separatis yang oleh pemerintah pusat disebut sebagai “Saudara Sebangsa Setanah Air yang¬†Mbalelo” tersebut. [Bersambung ke halaman berikut]

2 COMMENTS

  1. Bung Karno main gila dengan komunis. Belum 10 tahun PKI berontak nikam dari belakang di Madiun, ehh, dia mau rangkul lagi. Ngundang begal residivis masuk rumah jadi tamu bahkan anggota keluarga kesayangan lagi. Apa gak geram itu banyak perwira AD (dan juga golongan agama) di daerah utamanya yang dulunya mati matian mereka menumpas PKI di Madiun? Bung Karno dulu dianggap banyak kalangan main api di tengah tumpukan jerigen bensin. AS melihat ini sebagai kesempatan. Menyokong para perwira di daerah tadi, kalo bisa sampai mendongkel Bung Karno yang ngasih angin PKI, musuh besarnya sebagai pentolan kapitalis. Ibarat nasi panas ketemu sambal terasi, klop sudah. Wlau akhirnya “pemebrontakan” ini gagal karena sebagian besar militer “setia” (sampai 1965 tentunya, selewat itu tau sendiri sudah habis sabarnya barangkali liat “cinta kasih” BK kepada PKI) kepada Bung Karno. Dan AS yang ketangkap basah bantuin PRRI/Permesta akhirnya malu sendiri bahkan “diperas” tentara kita sampai “ikhlas” jualan Hercules, AR-15/M16 dan spare part alutsista buatan mereka untuk kita. Kejadian ini boleh lah disebut “blessing in disguise” untuk kita. AS sejak itu gak berani lagi terang terangan “main kayu” sama kita, tapi ganti peran main halus main belakang dengan kekuatan anti komunis di negara ini hingga BK tumbang.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here