Friday, August 7, 2020
Home Militer Kisah Militer Operasi Haik, Campur Tangan CIA Dalam Pemberontakan PRRI dan Permesta

Operasi Haik, Campur Tangan CIA Dalam Pemberontakan PRRI dan Permesta

Operasi Haik, Campur Tangan CIA Dalam Pemberontakan PRRI dan Permesta – HobbyMiliter.comPada tahun 1957, keadaan Negara Kesatuan Republik Indonesia sangat terancam. Muncul dua bibit pemberontakan yang didasari atas kekecewaan beberapa golongan masyarakat dan perwira militer di daerah terhadap kebijakan – kebijakan yang dibuat oleh pemerintah pusat yang kala itu berkedudukan di Jakarta.

Pemberontakan pertama diawali di daerah Sumatra Barat, dimana diumumkan sebuah gerakan yang bernama Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia yang selanjutnya disingkat PRRI yang dipimpin oleh seorang perwira militer, Letnan Kolonel Ahmad Husein. PRRI yang menyatakan diri memutus hubungan dengan pemerintah pusat Republik Indonesia menyatakan bahwa mereka menguasai wilayah barat dan tengah pulau Sumatra.

Seolah tidak mau kalah, sekelompok masyarakat yang juga terdiri dari kalangan perwira militer di daerah Sulawesi Selatan juga mendeklarasikan bahwa mereka bersimpati atas perjuangan yang dilakukan oleh kelompok PRRI dan mendeklarasikan berdirinya kelompok lainnya yakni Perdjuangan Rakyat Semesta atau disingkat Permesta.

Kelompok ini kemudian dipimpin oleh seorang perwira militer yang juga berpangkat Letnan Kolonel, yakni Letnan Kolonel H.N Ventje Sumual, salah satu perwira yang berperan besar dalam serangan umum 1 Maret di Yogyakarta. Permesta menyatakan diri mendukung perjuangan yang dilakukan PRRI, dan oleh karena kesamaan maksud dan tujuan, menyatakan diri memutus hubungan dengan pemerintah pusat Republik Indonesia.

Sebagai reaksi atas dideklarasikannya dua kelompok perlawanan terhadap pemerintah pusat RI, Jakarta menyiapkan kekuatan militernya yang masa itu masih sangat muda usianya, yakni Angkatan Darat, Angkatan Laut, dan Angkatan Udara, untuk memulai rangkaian operasi militer gabungan dalam rangka menumpas gerakan separatis yang oleh pemerintah pusat disebut sebagai “Saudara Sebangsa Setanah Air yang Mbalelo” tersebut. 

Kala itu, tidak dapat dipungkiri juga bahwa kondisi dan keadaan yang ada membuat pemerintah pusat RI lebih fokus untuk melaksanakan pembangunan di wilayah pulau Jawa, yang memicu timbulnya kecemburuan sosial dari daerah lain bagian dari Republik Indonesia yang berada di luar pulau Jawa.

Operasi Haik, Campur Tangan CIA Dalam Pemberontakan PRRI dan Permesta. Allen Pope Didepan Pesawat B-26 Yang Digunakan Oleh AUREV.
Operasi Haik, Campur Tangan CIA Dalam Pemberontakan PRRI dan Permesta. Allen Pope Didepan Pesawat B-26 Yang Digunakan Oleh AUREV.

Menariknya, kedua pemberontakan ini rupanya berhasil menarik perhatian negara adikuasa Amerika Serikat, yang kemudian memberikan dukungannya secara sembunyi – sembunyi, dengan cara mengirimkan berbagai persenjataan dan menyediakan pelatihan militer bagi pemuda yang tergabung dalam Angkatan Perang Permesta. Selain memberikan bantuan persenjataan dan pelatihan dalam pembentukan Angkatan Perang Permesta, Amerika Serikat rupanya juga memprakarsai berdirinya Angkatan Udara Revolusioner atau AUREV yang kemudian menjadi sayap militer matra udara dari pemberontakan PRRI dan Permesta ini.

Nah, kali ini, tim hobbymiliter akan menampilkan sepenggal kisah tentang bagaimana lembaga intelijen Amerika Serikat, yakni CIA dalam mendukung berjalannya pemberontakan PRRI dan Permesta ini. Sebagai catatan tambahan, keberadaan serta keberlangsungan operasi CIA ini hingga detik ini masih tidak diakui secara resmi oleh pemerintah Amerika Serikat.

Operasi Haik, Upaya Mendukung Lahirnya AUREV

Secara politis, Operasi Haik didasari oleh sebuah pola pikir bahwa di mata lembaga intelijen Amerika Serikat, CIA, presiden Republik Indonesia kala itu, yakni Sukarno, sudah “terlalu dekat dengan komunisme” bahkan dicurigai “telah berubah menjadi seorang yang komunis”. Dan beberapa pihak di lembaga intelijen milik negeri Paman Sam tersebut menyimpulkan bahwa solusi terbaik untuk mengembalikan Sukarno ke “jalur pemikiran politik yang benar” alias demokrasi, adalah dengan membuat Sukarno bertempur melawan kekuatan Komunis yang kala itu dekat dengan Sukarno dan cenderung mendominasi perpolitikan Indonesia.

Untuk memuluskan rencana ini maka digunakanlah suatu kesempatan manakala timbul pemberontakan dari kalangan oposisi yang “demokratis” di daerah – daerah diluar pulau Jawa terhadap kebijakan – kebijakan pemerintah pusat Republik Indonesia yang cenderung merugikan daerah dan pro terhadap kubu komunis.

Secara teknis, dilancarkannya operasi Haik memiliki tujuan untuk membantu kelahiran apa yang oleh pihak pemberontak disebut sebagai Angkatan Udara Revolusioner atau disingkat AUREV, yang merupakan sayap militer matra udara yang dimiliki oleh PRRI dan Permesta. Kekuatan fisik AUREV pada masa itu cukup untuk dijadikan lawan tanding bagi kekuatan AURI yang ketika itu masih berusia muda. Secara umum, kekuatan fisik AUREV terdiri dari pesawat pembom B-26 Invader, serta pesawat tempur P-51 Mustang.

Armada P-51D Mustang AURI
Armada P-51D Mustang AURI

Sejak tahap awal berlangsungnya pemberontakan PRRI dan Permesta, AUREV menjalankan setiap misinya dengan bantuan anggota yang bukan saja dari orang Indonesia sendiri melainkan juga orang dari Amerika Serikat, serta sekelompok orang Polandia.

BACA JUGA :  Tiongkok Klaim Chengdu J-20 Setara Dengan F-22 dan F-35

Khusus untuk kelompok pengawak yang saya sebut terakhir, yakni kelompok orang Polandia, mengalami penyusutan jumlah anggota akibat beberapa orang yang kemudian memilih untuk berhenti menjadi pilot AUREV segera setelah pemberontakan dilaksanakan. Selain beranggotakan campuran orang Indonesia dan orang Amerika-Polandia, AUREV dipimpin oleh seorang perwira asal Indonesia yakni Kolonel Muharto.

Kelahiran AUREV cukup banyak dipengaruhi oleh operasi Haik ini, dimana AS melalui tangan CIA, mengirimkan beberapa unit pesawat tempur dan pembom dengan dukungan pelatihan dan pengawak yang juga berasal dari AS. Lebih lanjut diketahui bahwa selain AS, operasi Haik juga didukung oleh beberapa negara yang kala itu menjadi sekutu AS di kawasan Asia-Pasifik.

Tak tanggung-tanggung, beberapa pilot AUREV mendapatkan backing khusus dari CIA, urusan transportasi senjata dan pasukan AUREV juga di back-up oleh armada pesawat C-46 Commando milik AU Taiwan (Republic of China Air Force / ROCAF), kemudian untuk urusan patroli maritim dan angkut taktis amfibi AUREV mendapat dukungan dari armada pesawat PBY Catalina milik AU Filipina (Philippine Air Force) kala itu. 

Secara kesiapan operasi dan organisasi tempur, boleh dikatakan AUREV merupakan satu-satunya kelompok separatis di Indonesia yang kemampuan operasionalnya mampu menyamai armada Angkatan Udara Republik Indonesia atau AURI kala itu. Terlepas dari fakta megenai begitu banyaknya dukungan yang diberikan secara klandestin dari berbagai negara tersebut, armada yang dimiliki AUREV mampu melaksanakan misi tempur udara ke udara, misi pengeboman taktis udara ke darat, serta misi transportasi pasukan dan patroli maritim terbatas.

Lahirnya AUREV bersamaan dengan cukup besarnya dukungan yang diterima tentu menjadi ancaman tersendiri bagi kekuatan AURI kala itu. AURI secara umum dapat dikatakan mendapat “lawan tanding” yang cukup lumayan, karena baik AURI maupun AUREV sama – sama menggunakan pesawat tempur P-51 Mustang.

Kondisi ini semakin diperparah dengan tingkat kesiapan tempur AURI yang kala itu masih rendah akibat baru dibentuk dan baru berusia muda. Namun selayaknya sebuah negara yang memang sudah merdeka, mau tidak mau, siap tidak siap, AURI harus tampil mempertahankan kedaulatan NKRI, meski itu berarti mereka akan berhadapan dengan AUREV yang notabene masih beranggotakan beberapa orang saudara sebangsa setanah air.

Operasi Haik, Campur Tangan CIA Dalam Pemberontakan PRRI dan Permesta. Ilustrasi Pesawat Tempur P-51D Mustang Yang Digunakan AUREV.
Operasi Haik, Campur Tangan CIA Dalam Pemberontakan PRRI dan Permesta. Ilustrasi Pesawat Tempur P-51D Mustang Yang Digunakan AUREV. Sumber : dc3dakotahunter

Operasi Haik, Dukungan Pesawat Untuk AUREV

Operasi Haik secara umum terbagi kedalam 3 fase, diantaranya yakni upaya mendatangkan unit pesawat bagi AUREV, misi patroli maritim yang merupakan misi pengintaian dengan tujuan memprediksi dan melaporkan gerak maju pasukan gabungan Angkatan Bersenjata Republik Indonesia, serta misi tempur dimana AUREV melaksanakan aksi pemboman, serangan terhadap pangkalan udara, iring-iringan kapal perang Republik Indonesia dan atau kapal dagang, serta pertempuran udara ke udara dengan unsur – unsur kekuatan Angkatan Udara Republik Indonesia atau AURI kala itu.

Pada tahap pertama, Amerika Serikat melalui tangan CIA berusaha mendatangkan unit – unit pesawat tempur dan pesawat pembom bagi AUREV. Caranya? mengambil dari “kuburan pesawat” atau Boneyard bagi pesawat – pesawat milik AS dan pasukan Sekutu yang kala itu berlokasi di Clark Field Air Base yang berada di Filipina. Tidak kurang dari 6 unit pesawat pembom B-26B dikirimkan dalam dua gelombang pengiriman.

Gelombang pertama terdiri dari dua unit pesawat B-26 yang keseluruhan badan pesawatnya di cat dengan warna hitam. Gelombang kedua terdiri dari empat unit pesawat B-26 yang diambil juga dari Clark Field Air Base, yang dikirimkan dalam kondisi tidak diberi warna kamuflase sehingga warnanya cenderung mirip pesawat yang tidak di cat. Meski tidak memiliki kamuflase khusus, unit pesawat yang  dikirim pada gelombang kedua ini memiliki panel “anti silau” pada bagian depan kokpit pesawat.

Untuk berjaga atas kemungkinan terburuk, disiapkan juga sebanyak 6 unit pesawat pembom B-26 yang dapat digunakan sebagai “suku cadang” bagi 6 unit pembom B-26 yang sudah dikirimkan ke wilayah Sulawesi. Pada perkembangannya, pesawat – pesawat suku cadang ini tidak sempat dipakai karena pemberontakan PRRI / Permesta berhasil diatasi oleh kekuatan militer Republik Indonesia kala itu.

Disamping armada pesawat pembom, AUREV juga mendapatkan dukungan berupa armada pesawat tempur P-51 D Mustang. Sebanyak 6 unit pesawat tempur tersebut diambil dari bekas armada Angkatan Udara Filipina (Philippine Air Force,red). Untuk pesawat – pesawat tempur ini, diberlakukan proses “sanitasi” atau pembersihan nomor – nomor registrasi agar pihak Republik kesulitan melacak asal usul pesawat ini.

BACA JUGA :  Norinco Sky Dragon 12: Sistem Rudal Berdesain Pantsir S-1

Dari semua nomor seri yang seharusnya tertulis di badan pesawat hingga komponen mesin dan instrumen avionik pesawat, hanya disisakan kode nomor seri kecil yang hanya terpasang pada beberapa unit pesawat, tepatnya dibagian sekitar ekor tegak pesawat.

Operasi Haik, Campur Tangan CIA Dalam Pemberontakan PRRI dan Permesta. SS San Flaviano, Kapal Tanker Berbendera Inggris Yang Tenggelam Akibat Serangan Udara AUREV Di Balikpapan.
Operasi Haik, Campur Tangan CIA Dalam Pemberontakan PRRI dan Permesta. SS San Flaviano, Kapal Tanker Berbendera Inggris Yang Tenggelam Akibat Serangan Udara AUREV Di Balikpapan. Sumber : dc3dakotahunter

Operasi Haik, Kiprah AUREV Dalam Pemberontakan PRRI dan Permesta

Dengan mulai berdatangannya armada pesawat untuk memperkuat AUREV melalui Operasi Haik, tinggal menunggu waktu saja untuk kekuatan AURI dan AUREV bertemu dan bertempur di ruang udara diatas pulau Sulawesi. Pada tanggal 13 April 1958, serangan udara pertama dilancarkan oleh AUREV terhadap kedudukan pasukan AURI.

Pesawat pembom B-26 PERMESTA menyerang pangkalan udara AURI Mandai (sekarang lanud Hasanuddin), yang berada di wilayah Makassar, Sulawesi Selatan. Setelah berhasil melaksanakan serangan udara pertamanya, AUREV kemudian kembali menghajar sasaran yang berada disekitar wilayah Sulawesi Selatan serta wilayah Kalimantan Timur.

Suasana persidangan Pope, Pilot CIA yang menerbangkan pesawat bomber Permesta
Suasana persidangan Pope, Pilot CIA yang menerbangkan pesawat bomber Permesta

Pada tanggal 17 April 1958, sebuah serangan dilancarkan terhadap sebuah kapal tanker pengangkut minyak berbendera Inggris, SS San Flaviano. Kapal pengangkut minyak tersebut sedang sandar di pelabuhan Balikpapan. Kapal tanker ini akhirnya tenggelam di wilayah perairan sekitar pelabuhan Balikpapan setelah dihantam oleh bom yang dijatuhkan dari pesawat pembom milik AUREV.

Selain menenggelamkan sebuah kapal tanker, tempat penyimpanan minyak milik perusahaan minyak Shell juga turut menderita kerusakan akibat serangan ini. Tiga hari berselang, kembali kekuatan AUREV menunjukkan kemampuannya dengan menyerang aset AURI yang sedang berada di pangkalan udara Halmahera.

Meski demikian, sangat sedikit perlawanan dari AURI yang dihadapi oleh kekuatan AUREV kala itu. Ini terjadi karena kekuatan AURI pada waktu itu masih disibukkan dengan operasi militer gabungan untuk menumpas pemberontakan PRRI di wilayah pulau Sumatra, yang berakhir dengan keberhasilan pasukan Republik memadamkan api pemberontakan PRRI di wilayah tersebut.

Kurangnya kehadiran pasukan Republik diatas wilayah udara pulau Sulawesi dimanfaatkan dengan baik oleh AUREV untuk mendatangkan unit – unit pesawat tempur P-51D Mustang dari Filipina. Meski hanya dua dari enam unit yang tercatat berhasil datang memperkuat AUREV, ini sudah lebih dari cukup bagi AUREV untuk melaksanakan misi pengawalan bagi armada pesawat pembom B-26 yang telah lebih dahulu memperkuat AUREV.

Selain mendatangkan dua unit pesawat tempur P-51D Mustang, AUREV juga secara simultan mendatangkan suku cadang dan bantuan amunisi serta persenjataan untuk kebutuhan pasukan darat yang dibentuk oleh Permesta. Bantuan tersebut datang dengan menggunakan satu unit pesawat PBY Catalina milik AU Filipina.

Serangan balasan terhadap kekuatan AUREV mulai dilancarkan oleh AURI pada pertengahan bulan Mei tahun 1958. Pada tanggal 16 Mei 1958 sebuah serangan udara dilaksanakan oleh unsur pesawat pembom B-25 dengan dikawal oleh pesawat tempur P-51D Mustang milik AURI. Sebanyak tiga unit pesawat pembom B-25 dengan dikawal dua unit pesawat tempur P-51D Mustang menghantam sasaran mereka, pangkalan udara AUREV yang berada di kota Manado.

Pihak Republik kala itu mengklaim berhasil menghancurkan tiga unit pesawat tempur P-51D Mustang milik AUREV dan sebuah PBY Catalina. Hingga saat ini klaim atas hancurnya tiga unit pesawat tempur Mustang milik AUREV masih diragukan kebenarannya oleh beberapa peneliti sejarah, karena pada masa itu AUREV masih hanya memiliki dua unit Mustang saja sedangkan empat unit yang rencananya akan dikirim dalam waktu tersebut masih berada di Filipina.

Meski demikian, klaim atas hancurnya sebuah pesawat PBY Catalina yang membawa suku cadang dan persenjataan untuk pasukan darat bentukan Permesta tersebut diperkirakan merupakan sebuah kebenaran, mengingat pada waktu itu AUREV benar – benar memanfaatkan sorti penerbangan PBY Catalina milik AU Filipina untuk mengangkut dukungan logistik suku cadang dan persenjataan bagi pasukan yang mereka tempatkan di seantero wilayah Sulawesi Tengah dan Sulawesi Utara.

CIA akhirnya terpaksa harus memberikan dukungan yang lebih besar untuk memperkuat AUREV. Ini bukan hanya dikarenakan kerugian yang diderita AUREV pasca serangan atas kedudukan mereka oleh pesawat – pesawat AURI, namun juga dikarenakan Indonesia telah mulai menerima pesawat – pesawat tempur dan pesawat pembom jenis baru, bermesin jet. MiG-17, MiG-19, serta beberapa pembom jarak jauh strategis Tupolev Tu-16 yang mulai diterima oleh AURI masa itu. Meski CIA tahu betul bahwa AURI masih belum siap dalam mengoperasikan sistem senjata yang jauh lebih canggih dari yang biasa mereka operasikan tersebut, CIA nampaknya berpikir dua kali untuk mencoba meneruskan dukungan terhadap pasukan Permesta.

BACA JUGA :  Galeri Foto Operasi Tinombala: Kopassus dan Densus 88 Berburu Santoso Cs

Operasi Haik, Campur Tangan CIA Dalam Pemberontakan PRRI dan Permesta. Allen Pope Dalam Perawatan Pasukan Republik.
Operasi Haik, Campur Tangan CIA Dalam Pemberontakan PRRI dan Permesta. Allen Pope Dalam Perawatan Pasukan Republik. Sumber : Historia

Allen Pope Tertembak Jatuh, Titik Balik Operasi Haik

18 Mei 1958 merupakan hari bersejarah bagi AURI dan juga bagi CIA secara khusus. Pagi hari waktu setempat, sebuah B-26 yang diterbangkan oleh seorang pilot bayaran asal AS, Allen Lawrence Pope, mengangkasa dari pangkalan udara AUREV. AUREV kali ini menugaskan Allen Pope untuk menyerang konvoi kapal perang dan kapal pengangkut pasukan milik ALRI (Angkatan Laut Republik Indonesia) yang membawa pasukan gabungan untuk menyerang kedudukan Permesta di Morotai. Hari itu, Pope terbang bersama seorang navigator sekaligus operator radio ex-anggota AURI, Harry Rantung.

Pope berhasil menemukan musuh yang harus ia serang di wilayah perairan dekat Ambon, setelah melakukan sedikit kekacauan dengan membombardir kota Ambon, Pope langsung mengarahkan pesawatnya kearah konvoi kapal perang ALRI dan berencana untuk menyerang sasarannya, mencoba merusak formasi kapal perang ALRI yang sedang ber-iringan menuju wilayah Morotai. Memperkirakan bahwa ia tidak bisa dideteksi oleh konvoi kapal ALRI, Pope dengan percaya diri melaju menuju mangsanya, tanpa menyadari kalau awak kapal ALRI sudah mendeteksi keberadaan nya.

AH Nasution dan Alex Kawilarang sedang merundingkan perdamaian Pemerintah Pusat - Permesta
AH Nasution dan Alex Kawilarang sedang merundingkan perdamaian Pemerintah Pusat – Permesta

Namun di saat yang sama, agak jauh dibelakang Pope, muncul sebuah pesawat tempur P-51D Mustang yang dipiloti oleh Kapten Ignasius Dewanto. Kapten Dewanto, yang memang telah mendeteksi keberadaan pesawat AUREV tersebut, berusaha menempatkan diri di belakang lawannya itu.

Kontak tembak pun tidak dapat dihindari, kanon serta senapan mesin Penangkis Serangan Udara (PSU) di konvoi kapal ALRI mulai menyalak, dan di waktu yang nyaris bersamaan, Kapten Dewanto mencoba melumpuhkan bomber ringan AUREV tersebut dengan tembakan roket yang sayangnya meleset. Gagal dengan tembakan roketnya, Kapten Dewanto kembali berusaha menembak jatuh burung besi AUREV tersebut dengan menggunakan senapan mesin berat kaliber 12,7 milimeter yang terpasang di pesawatnya.

Kali ini, tembakan Kapten Dewanto berhasil mengenai sasaran, membakar dan menjatuhkan pesawat pembom milik AUREV tersebut. Allen Pope beserta navigator yang juga sekaligus operator radio, Harry Rantung, berhasil menyelamatkan diri dengan menggunakan parasut.

Allen Pope, yang parasutnya tersangkut di batang pohon kelapa saat akan mendarat, terjatuh dan mengalami patah kaki saat berusaha melepaskan diri dari ikatan parasut yang tersangkut di batang pohon kelapa tersebut. Sementara itu, Harry Rantung sang navigator, mendarat di laut dan berhasil berenang ke tepian. Keduanya segera ditangkap oleh pasukan keamanan Republik. 

Tertembaknya pesawat pembom B-26 yang di piloti oleh Allen Pope menjadi titik balik bagi keseluruhan rangkaian Operasi Haik. Kekuatan AUREV praktis menurun tingkat kesiapannya, kalau tidak ingin disebut lumpuh. Perlahan namun pasti superioritas udara dapat kembali diperoleh  AURI dengan pesawat-pesawatnya. Pemberontakan Permesta kemudian berubah dari yang awalnya pemberontakan dengan dukungan di udara menjadi pemberontakan berbasis gerilya.

Operasi Haik, Campur Tangan CIA Dalam Pemberontakan PRRI dan Permesta. Ilustrasi B-26 Invader TNI AU.
Operasi Haik, Campur Tangan CIA Dalam Pemberontakan PRRI dan Permesta. Ilustrasi B-26 Invader TNI AU.
Sumber : WingsPallette

Berakhirnya Operasi Haik

Tertangkapnya Allen Pope merupakan pukulan terbesar bagi CIA pada Operasi Haik ini. Apa yang sebelumnya merupakan sebuah operasi klandestin untuk mendukung pemberontakan PRRI dan Permesta kini justru berubah menjadi aib bagi Amerika Serikat. Meski Alan Pope tertangkap di bulan Mei tahun 1958, CIA tetap menjalankan Operasi Haik hingga bulan Agustus di tahun yang sama.

Operasi Haik dinyatakan berakhir pada bulan Agustus tahun 1958, setelah pasukan Permesta banyak mengalami kekalahan dari pasukan TNI, dan disusul dengan dibukanya beberapa dialog antara pihak pemerintah Republik Indonesia dengan perwakilan Permesta, yang kemudian bermuara pada berakhirnya pemberontakan Permesta pada tahun 1961 dengan ditandai menyerahnya petinggi Permesta antara lain Kolonel D.J Somba, Mayor Jenderal A.E Kawilarang, serta Letnan Kolonel Ventje Sumual.

Satu hal unik dari berakhirnya Operasi Haik adalah bahwa pihak AURI justru terkesan dengan penampilan dan kiprah pesawat pembom B-26 milik AUREV. Ini juga yang akhirnya membuat Indonesia meminta beberapa unit pembom B-26 produksi baru alias gress kepada pemerintah AS sebagai salah satu dari beberapa imbal balik atas permintaan pembebasan Allen Pope.

Lebih uniknya lagi, justru armada pembom ringan B-26 AURI-lah yang lebih awet dan tahan lama dibandingkan dengan kelompok pesawat yang didapat dari Uni Soviet. Armada B-26 milik AURI baru dipensiunkan beberapa tahun setelah armada jet tempur MiG, dan pesawat pembom strategis Tu-16 dipensiunkan.

2 COMMENTS

  1. Bung Karno main gila dengan komunis. Belum 10 tahun PKI berontak nikam dari belakang di Madiun, ehh, dia mau rangkul lagi. Ngundang begal residivis masuk rumah jadi tamu bahkan anggota keluarga kesayangan lagi. Apa gak geram itu banyak perwira AD (dan juga golongan agama) di daerah utamanya yang dulunya mati matian mereka menumpas PKI di Madiun? Bung Karno dulu dianggap banyak kalangan main api di tengah tumpukan jerigen bensin. AS melihat ini sebagai kesempatan. Menyokong para perwira di daerah tadi, kalo bisa sampai mendongkel Bung Karno yang ngasih angin PKI, musuh besarnya sebagai pentolan kapitalis. Ibarat nasi panas ketemu sambal terasi, klop sudah. Wlau akhirnya “pemebrontakan” ini gagal karena sebagian besar militer “setia” (sampai 1965 tentunya, selewat itu tau sendiri sudah habis sabarnya barangkali liat “cinta kasih” BK kepada PKI) kepada Bung Karno. Dan AS yang ketangkap basah bantuin PRRI/Permesta akhirnya malu sendiri bahkan “diperas” tentara kita sampai “ikhlas” jualan Hercules, AR-15/M16 dan spare part alutsista buatan mereka untuk kita. Kejadian ini boleh lah disebut “blessing in disguise” untuk kita. AS sejak itu gak berani lagi terang terangan “main kayu” sama kita, tapi ganti peran main halus main belakang dengan kekuatan anti komunis di negara ini hingga BK tumbang.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Ngeteng, Cara Angkatan Udara Singapura Memperbanyak F-16 RSAF

Beli Ngeteng, Cara Singapura Memperbanyak F-16 RSAF - HobbyMiliter.com. Dalam diskusi diskusi di forum forum militer online maupun di grup grup militer di Facebook,...

Begini Cara Kerja Over The Horizon Radar (OTHR) Jindalee Australia

Begini Cara Kerja Over The Horizon Radar (OTHR) Jindalee Australia - HobbyMiliter.com - Meski telah jutaan tahun membalut Bumi, belum seluruh bagian atmosfer bisa...

Foto – Foto Dokumentasi Pendudukan Tentara Soviet di Perang Afghanistan Era 80-an

Foto - Foto Dokumentasi Pendudukan Tentara Soviet di Perang Afghanistan Era 80-an - HobbyMiliter.com. Perang Soviet di Afghanistan berlangsung selama lebih dari sembilan tahun....

Foto Foto Langka KRI Irian, Kapal Perang Indonesia Asal Soviet

Foto Foto Langka KRI Irian, Kapal Perang Indonesia Asal Soviet - HobbyMiliter.com. Pada saat persiapan operasi Trikora dalam rangka perebutan Irian Barat (sekarang Provinsi...

Recent Comments

black donkey{(revolution mindset)}>???? on MARINIR INDONESIA – AMERIKA BERBAGI ILMU DI SITUBONDO
Thomson Sirait on Kehidupan di KRI Makassar 590
Ananda Andriyo on Patroli di Tanah Papua
HobbyMiliter on Patroli di Tanah Papua