Thursday, September 17, 2020
Home Alutsista Drone UAV Menuju Penerbangan Pesawat Tempur Tanpa Awak Pilot

Menuju Penerbangan Pesawat Tempur Tanpa Awak Pilot

Menuju Penerbangan Pesawat Tempur Tanpa Awak Pilot – HobbyMiliter.com – Pada diri seorang pilot tergambar lah berbagai hal yang diidam-idamkan banyak orang: sosok yang sehat di atas rata-rata, tegap, samapta, cerdas, berani, dan terampil-cekatan. Kualifikasi seperti ini tentu saja masuk akal, mengingat di pundak pilot tidak saja di-limpahkan tanggung jawab penumpang – yang untuk pesawat sipil badan lebar bisa mengangkut 400-600 penumpang – dan tanggung jawab melakukan misi misi berbahaya untuk pilot pesawat militer.

Cuaca buruk, kerewelan mesin, dan berbagai tantangan banyak dihadapi pilot pesawat. Sementara khusus pilot pesawat tempur terus-menerus berupaya meningkatkan kecakapan terbangnya guna menghadapi kemungkinan pertempuran udara jarak dekat (dogfight) melawan musuh yang juga semakin canggih. Juga terus menerus melatih ketepatan delivery bom dalam upaya serangan darat.

Dari waktu ke waktu, kokpit pesawat terbang, baik sipil maupun militer, juga semakin kompleks. Dari awalnya yang berupa sekedar tongkat kemudi dan gauge RPM mesin berkembang hingga saat ini yang sudah full LCD bisa menampilkan segala macam informasi mengenai keadaan pesawat dan sekitarnya secara realtime. Memang yang diberikan adalah kemampuan pesawat yang semakin canggih, tetapi seiring dengan itu mungkin beban pilot juga semakin banyak.

BACA JUGA :  TNI Gunakan Drone Untuk Awasi Perbatasan

Lalu ide otomatisasi pun bermunculan. Menghadapi situasi yang mungkin kompleks, autopilot pun sering diminta bantuan. Sementara dalam dunia kemiliteran, ide pesawat tanpa awak – yang sudah hidup selama sekitar 70 tahun – kini mulai banyak mewujud. Memang pesawat telah berhasil menjadi semakin tidak kasat radar (stealthy), sehingga musuh semakin sulit untuk melacak dan menembaknya.

Tetapi, siapa dapat menjamin hal ini? Inggris dan Rusia pernah mengklaim bisa mendeteksi pesawat stealth Amerika seperti F-117 dan B-2. Padahal pesawat-pesawat tersebut dibuat dengan biaya yang sangat mahal. B-2 Spirit kini berharga sekitar satu miliar dollar atau hampir Rp 10 triliun per pesawat.

Menghadapi harga pesawat canggih yang semakin mahal, lalu sistem pertahanan udara musuh yang juga tidak mudah diramalkan tingkat perkembangan kecanggihannya, makin beragamnya tipe sasaran, dan tingginya nilai aset pilot, lalu mendorong berkembangnya pesawat robot atau drone, yang kini juga banyak dikenal sebagai UAV (Unmanned Aerial Vehicle) atau kendaraan udara tanpa awak.

Berbagai jenis UAV telah muncul, untuk berbagai macam misi. Ada yang untuk pengintaian, ada pula yang untuk mengejar sasaran rahasia. Produsennya pun macam macam, dari Amerika, Israel, Perancis, China dan bahkan di dalam negeri sendiri berbagai type UAV sudah diproduksi secara terbatas dan kemampuan sesuai dengan budget.

BACA JUGA :  Panser dan Helikopter Tanpa Awak Hasil Pengembangan Sikorsky

Di palagan Iraq, Afganistan, Yaman dan beberapa tempat lainnya, UAV sudah digunakan untk mengintai sasaran dan mengeliminasinya. Prakteknya, UAV dikirim ke area tertentu berdasarkan data dugaan intel mula mula, setelah ferivikasi sasaran, Lalu UAV ini diperintahkan dari jarak jauh untuk menembakkan rudal Hellfire.

X-47B, Pesawat Tempur Tanpa Awak Masa Depan
X-47B, Pesawat Tempur Tanpa Awak Masa Depan

AS sebagai negara yang paling maju di bidang kedirgantaraan tampaknya sudah mantap mengembangkan UAV, dan hal ini didukung oleh berbagai kemajuan teknologi pendukungnya. Kalau semula ada pertanyaan, seperti otonomi versus kontrol jarak jauh (dibiarkan leluasa sendiri atau sepenuhnya berdasar kendali jarak jauh), kini satu demi satu telah coba dijawab. Adanya bahan komposit baru memungkinkan UAV dibuat ringan untuk terbang lebih lama. Sensor pun kini bisa dibuat lebih kecil, sementara kemampuannya jauh lebih kuat.

Menurut jenisnya, kini ada apa yang disebut UAV mikro yang potensial digunakan untuk tugas kepolisian, UAV mini untuk misi terpencil dan berbahaya, atau oleh nelayan untuk melacak kelompok ikan tuna, UAV taktis yang ketinggiai terbangnya bisa 15.000 kaki (dibandingkan UAV mini yang 1.000 kaki). Selain itu ada UAV HALE (High-Altitude, Long-Endurance], dengan ketinggian jelajah 45.000 sampai 65.000 kaki dan terbang terus-menerus selama 24 jam. GlobalHawk adalah salah satu contohnya.

BACA JUGA :  Watchkeeper WK450 Drone yang Battle Proven di Afghanistan

Yang mungkin akan spektakuler adalah UCAV (Unmanned Combat Air Vehicle) seperti yang kini ada dalam prototipe X-47B. UCAV ini diran-cang untuk misi pengeboman jauh di wilayah musuh, bisa saja dilengkapi dengan rudal udara-ke-udara atau meriam untuk dogfight. Ke depan bukan hanya akan ada UCAV, tetapi juga UCAR (Unmanned Combat Armed Rotorcraft].

Saat ini US NAVY sedang mengembangkan Pesawat tempur tanpa awak UCLASS X-47B. Unmanned Carrier-Launched Airborne Surveillance and Strike (UCLASS) ini dimaksudkan sebagai wahana otonom yang bermarkas di kapal induk US NAVY. Pesawat tempur tanpa awak  UCLASS ini diharapkan mampu melakukan pengintaian jarak jauh, serangan presisi jauh di dalam jantung pertahanan lawan, bahkan juga di gadang gadang sebagai wingman F-18E/F yang terbang dari kapal induk.

Wright Bersaudara seandai-nya bisa kembali ke dunia abad ke-21 mungkin akan banyak bertemu dengan berbagai wujud pesawat yang tidak saja aneh, tetapi tidak ada awaknya. Padahal mereka dulu berdua memberanikan diri menempuh risiko untuk menerbangkan The Flyer yang amat primitif untuk ukuran masa kini.

Hanung Jati Purbakusuma
Hanung Jati Purbakusumahttps://www.hobbymiliter.com/
Sangat tertarik dengan literatur dunia kemiliteran. Gemar mengkoleksi berbagai jenis miniatur alutsista, terutama yang bertipe diecast dengan skala 1/72. Koleksinya dari pesawat tempur hingga meriam artileri anti serangan udara, kebanyakan diecast skala 1/72.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Ngeteng, Cara Angkatan Udara Singapura Memperbanyak F-16 RSAF

Beli Ngeteng, Cara Singapura Memperbanyak F-16 RSAF - HobbyMiliter.com. Dalam diskusi diskusi di forum forum militer online maupun di grup grup militer di Facebook,...

Begini Cara Kerja Over The Horizon Radar (OTHR) Jindalee Australia

Begini Cara Kerja Over The Horizon Radar (OTHR) Jindalee Australia - HobbyMiliter.com - Meski telah jutaan tahun membalut Bumi, belum seluruh bagian atmosfer bisa...

Foto – Foto Dokumentasi Pendudukan Tentara Soviet di Perang Afghanistan Era 80-an

Foto - Foto Dokumentasi Pendudukan Tentara Soviet di Perang Afghanistan Era 80-an - HobbyMiliter.com. Perang Soviet di Afghanistan berlangsung selama lebih dari sembilan tahun....

Foto Foto Langka KRI Irian, Kapal Perang Indonesia Asal Soviet

Foto Foto Langka KRI Irian, Kapal Perang Indonesia Asal Soviet - HobbyMiliter.com. Pada saat persiapan operasi Trikora dalam rangka perebutan Irian Barat (sekarang Provinsi...

Recent Comments

black donkey{(revolution mindset)}>???? on MARINIR INDONESIA – AMERIKA BERBAGI ILMU DI SITUBONDO
Thomson Sirait on Kehidupan di KRI Makassar 590
Ananda Andriyo on Patroli di Tanah Papua
HobbyMiliter on Patroli di Tanah Papua