X-47B, Pesawat Tempur Tanpa Awak Masa Depan
X-47B, Pesawat Tempur Tanpa Awak Masa Depan

HobbyMiliter.com – Menuju Penerbangan Pesawat Tempur Tanpa Awak Pilot. Pada diri seorang pilot tergambar lah berbagai hal yang diidam-idamkan banyak orang: sosok yang sehat di atas rata-rata, tegap, samapta, cerdas, berani, dan terampil-cekatan. Kualifikasi seperti ini tentu saja masuk akal, mengingat di pundak pilot tidak saja di-limpahkan tanggung jawab penumpang – yang untuk pesawat sipil badan lebar bisa mengangkut 400-600 penumpang – dan tanggung jawab melakukan misi misi berbahaya untuk pilot pesawat militer.

Cuaca buruk, kerewelan mesin, dan berbagai tantangan banyak dihadapi pilot pesawat. Sementara khusus pilot pesawat tempur terus-menerus berupaya meningkatkan kecakapan terbangnya guna menghadapi kemungkinan pertempuran udara jarak dekat (dogfight) melawan musuh yang juga semakin canggih. Juga terus menerus melatih ketepatan delivery bom dalam upaya serangan darat.

Dari waktu ke waktu, kokpit pesawat terbang, baik sipil maupun militer, juga semakin kompleks. Dari awalnya yang berupa sekedar tongkat kemudi dan gauge RPM mesin berkembang hingga saat ini yang sudah full LCD bisa menampilkan segala macam informasi mengenai keadaan pesawat dan sekitarnya secara realtime. Memang yang diberikan adalah kemampuan pesawat yang semakin canggih, tetapi seiring dengan itu mungkin beban pilot juga semakin banyak.

Baca juga :   TNI Gunakan Drone Untuk Awasi Perbatasan

Lalu ide otomatisasi pun bermunculan. Menghadapi situasi yang mungkin kompleks, autopilot pun sering diminta bantuan. Sementara dalam dunia kemiliteran, ide pesawat tanpa awak – yang sudah hidup selama sekitar 70 tahun – kini mulai banyak mewujud. Memang pesawat telah berhasil menjadi semakin tidak kasat radar (stealthy), sehingga musuh semakin sulit untuk melacak dan menembaknya. Tetapi, siapa dapat menjamin hal ini? Inggris dan Rusia pernah mengklaim bisa mendeteksi pesawat stealth Amerika seperti F-117 dan B-2. Padahal pesawat-pesawat tersebut dibuat dengan biaya yang sangat mahal. B-2 Spirit kini berharga sekitar satu miliar dollar atau hampir Rp 10 triliun per pesawat.

Menghadapi harga pesawat canggih yang semakin mahal, lalu sistem pertahanan udara musuh yang juga tidak mudah diramalkan tingkat perkembangan kecanggihannya, makin beragamnya tipe sasaran, dan tingginya nilai aset pilot, lalu mendorong berkembangnya pesawat robot atau drone, yang kini juga banyak dikenal sebagai UAV (Unmanned Aerial Vehicle) atau kendaraan udara tanpa awak.

Baca juga :   Kembangkan Combat Drone, Prancis dan Inggris Kucurkan Dana 28 Triliun

Berbagai jenis UAV telah muncul, untuk berbagai macam misi. Ada yang untuk pengintaian, ada pula yang untuk mengejar sasaran rahasia. Produsennya pun macam macam, dari Amerika, Israel, Perancis, China dan bahkan di dalam negeri sendiri berbagai type UAV sudah diproduksi secara terbatas dan kemampuan sesuai dengan budget. Di palagan Iraq, Afganistan, Yaman dan beberapa tempat lainnya, UAV sudah digunakan untk mengintai sasaran dan mengeliminasinya. Prakteknya, UAV dikirim ke area tertentu berdasarkan data dugaan intel mula mula, setelah ferivikasi sasaran, Lalu UAV ini diperintahkan dari jarak jauh untuk menembakkan rudal Hellfire.

lanjut halaman berikut
1
2
Jangan lupa isi form komentar di bawah
ARTIKEL MENARIK LAINNYA UNTUK ANDA