Kisah Operasi Trikora: Pesawat Pak Harto Nyaris Ditembak Belanda!

0
7868

Pada pukul 23.30 WIT, semua awak Convair sudah siap di kokpit untuk melaksanakan preflight check dengan sangat hati-hati karena di sekitar lapangan sangat gelap. Menjelang penerbangan rahasia memang terbit perintah bahwa tidak boleh ada lampu yang dinyalakan dan pemeriksaan pesawat hanya diperbolehkan menggunakan lampu senter. Sekitar pukul 23.45 WIT, rombongan perwira yang akan terbang tiba, tapi karena gelap, Kapten Pratowo tidak bisa mengenali seorang perwira pun. Kapten Parwoto bahkan tidak menyadari jika salah satu penumpangnya adalah Panglima Mandala, Mayjen Soeharto. Namun di kegelapan malam yang sangat pekat itu terdengar teriakan yang ditujukan kepada Kapten Parwoto. “Siap untuk go, Cap! Kalau siap silakan take-off.”

Kisah Operasi Trikora: Pesawat Pak Harto Nyaris Ditembak Belanda!
Kisah Operasi Trikora: Pesawat Pak Harto Nyaris Ditembak Belanda!

Pesawat Convair pun mulai bergerak menuju ujung landasan, dan pada pukul 23.55 WIT pesawat sudah airborne dan terus menanjak menuju ketinggian 6.000 kaki. Pesawat kemudian berbelok ke utara menuju pantai utara Pulau Seram dan terus terbang hingga ketinggian 10.000 kaki. Pada ketinggian itu pesawat sudah keluar dari awan dan terus terbang menjelajah pada ketinggian 12.000 kaki. Karena cuaca pantai utara Seram cerah, pendar sinar bulan pun menyala terang di atas Convair. Sejumlah awan rendah tampak bergerak ke arah barat dan garis pantai Seram juga terlihat jelas. Tidak terasa suasana tegang pada misi penerbangan rahasia itu. Convair kemudian melesat ke arah timur menuju Bula.

BACA JUGA :  Pesawat Khusus WC-130J, Hercules Pemburu Badai

Radio mati

Tiba-tiba suasana tenang itu dipecahkan oleh suara kepala intelijen AURI, Letkol Heru Atmojo, yang memperingatkan agar Convair jangan berada di posisi terlalu ke utara mendekati Pulau Misol karena banyak pesawat Belanda yang sedang melaksanakan terbang patroli. Setelah berada di atas udara Bula, para awak Convair pun mulai melaksanakan komunikasi dengan stasiun radar. Setelah sekian lama melakukan komunikasi, ternyata sama sekali tak ada jawaban. Bahkan tidak terdengar suara gemerisik sama sekali.

Tidak berapa lama, Letkol Heru menanyakan apakah ada berita penting dari stasiun Bula, dan dijawab para kru Convair bahwa tidak ada jawaban sama sekali. Dengan pandangan setengah tidak percaya, Letkol Heru lalu memasang headset di kepalanya dan kemudian menyuruh Kapten Pratowo memanggil lagi stasiun radar Bula. Setelah berkali-kali memanggil dan tak ada jawaban sama sekali, Letkol Heru kemudian mengumpat, “Sialan,” sambil berpaling ke belakang ke tempat para petinggi Komodor Leo Wattimena dan Mayjen Soeharto duduk.

BACA JUGA :  Kisah Perang Pasukan Rusia: Insiden di Bandara Pristina, 1999

Tak lama kemudian sosok yang paling ditakuti sekaligus disegani, Leo Wattimena maju sambil berteriak marah. “Kok bisa communication failure, siapa yang pasang itu VHF,” ujar Leo sambil marah. Kapten Pratowo langsung menjawab, “Dari pihak teknik AURI Pak,” ujar Pratowo sambil melihat ke belakang dan tampak Letkol Heru berdiri di depan Komodor Leo dan di belakangnya lagi Mayjen Soeharto. Jelas para petinggi Komando Mandala sedang gelisah dan mencium adanya sesuatu yang tidak beres.

Komodor Leo kemudian berpaling kepada Mayjen Soeharto dan menggerutu dalam Bahasa Belanda, “Verdomme, klieren bij elkaar (kurang ajar pada goblok semua).” Letkol Heru dan Mayjen Soeharto lalu kembali ke kabin, sedangkan Komodor Leo yang juga merupakan pilot andal tetap berada di kokpit sehingga suasana jadi makin tegang.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here