Thursday, September 17, 2020
Home Militer Kisah Militer Kisah Operasi Trikora: Pesawat Pak Harto Nyaris Ditembak Belanda!

Kisah Operasi Trikora: Pesawat Pak Harto Nyaris Ditembak Belanda!

Kisah Operasi Trikora: Pesawat Pak Harto Nyaris Ditembak Belanda! – HobbyMiliter.com. Pada saat operasi Trikora komando pembebasan Irian Barat digelar, sebuah pesawat transport Convair CV-340 nyaris disergap pesawat Neptune Belanda. Padahal di dalam pesawat yang sedang melakukan terbang patroli malam itu terdapat Panglima Komando Mandala Trikora, Mayjen Soeharto.

Di medan tempur yang makin memanas, keberadaan para panglima perang atau komandan tertinggi menjadi demikian penting karena sangat menentukan jalannya pertempuran. Para komandan tempur yang sukses memimpin anak buahnya selain menjadi tokoh kunci juga menjadi target utama pasukan musuh.

Untuk melindungi keberadaan dan mobilitas para panglima perang selain dijaga oleh pasukan terlatih juga didukung oleh informasi yang serba rahasia pada setiap sepak terjang para panglima perang. Tapi misi melindungi para panglima perang menjadi sangat riskan ketika mereka sedang melaksanakan mobilitas menggunakan pesawat terbang. Ingat dengan nasib Isoroku Yamamoto yang tewas disergap musuh dalam Operation Vengeance?

Ketika pecah konflik militer antara Indonesia dan Belanda untuk memperebutkan wilayah Irian Barat (Papua) pada tahun 1962, para pilot maskapai penerbangan Garuda turut dilibatkan dalam operasi militer untuk menerbangkan pesawat-pesawat transport. Sebelum melaksanakan tugas di medan tempur, mereka dilatih terlebih dahulu dengan latihan dasar militer dan selanjutkan mendapatkan pangkat perwira penerbang tituler.

Pesawat-pesawat transport yang diterbangkan oleh para pilot Garuda yang kemudian dikenal sebagai Wing Garuda (WG) dan Wing Garuda 011 (WG 011) itu antara lain C-47 Skytrain, DC-3 Dakota, dan Convair CV-340. Pesawat pesawat buatan Amerika Serikat inilah yang menjadi tulang punggung transportasi militer dalam Operasi Trikora.

Misi tempur yang harus dilaksanakan para pilot WG dan WG 011 di Operasi Trikora tidak selalu berjalan mulus, karena penerbangan mereka kerap dihadang cuaca buruk serta sergapan pesawat-pesawat tempur Belanda yang cukup canggih pada saat itu, Hawker Hunter Mk.6, Firefly AS-4, Neptune P2V-7 dan B-26 Invander.

Selain sergapan pesawat tempur, para pilot WG juga harus mampu menghindari radar Belanda yang telah dipasang di sejumlah strategis di kawasan Irian Barat. Guna menghindari pantauan radar dan sergapan radar serta cuaca buruk, pesawat kerap terbang di ketinggian rendah (tree top) di atas hutan lebat atau di atas perairan yang ganas. Demikian tinggi risiko yang harus dihadapi para awak WG dan WG 011, sehingga misi mereka sering disebut sebagai misi sekali jalan, one way ticket.

“Jadi sebagai pilot WG dan WG 011, kami memang sudah menandatangani surat untuk siap mati dalam misi mendukung operasi tempur TNI di Operasi Trikora untuk membebaskan Irian Barat. Kami waktu itu memang masih muda dan memiliki semangat menyala-nyala. Sehingga perasaan takut sama sekali hilang, apalagi kami juga mendapat pelatihan militer dan merasa sangat percaya diri,” papar salah satu pilot WG, Captain Syafei.

Salah satu misi tempur menantang maut itu adalah penerbangan rahasia pesawat Convair-340 yang dipiloti Kapten Udara Pratowo Dirdjopranoto. Misi tempurnya adalah menerbangkan sejumlah pejabat Komando Mandala Siaga (Kolaga) Operasi Trikora Pembebasan Irian Barat seperti Panglima Kolaga Mayjen Soeharto, Panglima AL Mandala Komodor Sudomo, Panglima AU Mandala Komodor Leo Wattimena, Kolonel Saleh Basarah yang saat itu menjabat Direktur Operasi Mabes AU, dan lainnya.

Kisah Operasi Trikora: Pesawat Pak Harto Nyaris Ditembak Belanda!
Kisah Operasi Trikora: Pesawat Pak Harto Nyaris Ditembak Belanda!

Markas komando Operasi Trikora di udara

Kapten Udara Pratowo rupanya tidak hanya menerbangkan Convair-340 sebagai pesawat transport belaka, melainkan merupakan pesawat yang sudah dimodifikasi menjadi pesawat komando. Modifikasi yang dilakukan tampak pada ruang kabin karena kursi-kursi penumpang antara lain kursi-kursi sudah dikeluarkan dan diganti meja-meja besar dengan tempelan yang menggambarkan peta kawasan Nusa Tenggara, Maluku, dan Irian Jaya. Daerah Operasi Trikora.

Sejumlah perangkat komunikasi berupa headset dan mike tampak tergantung di pinggir meja. Kapten Pratowo sempat berjumpa dengan perwira Angkatan Udara yang bertanggung jawab terhadap modifikasi yang telah dilakukan dan dikenal sebagai Mayor Udara The Tjing Hoo. Saat itu The Tjing Hoo menjabat sebagai Asisten Direktorat Perhubungan dari Direktorat Navigasi dan Komuniasi TNI AU.

BACA JUGA :  Dassault Etendard Dan Super Etendard Si Kembar Yang Berbeda

Diajuga merupakan seorang ahli teknik komunikasi radio dan navigator pesawat. The Tjing Hoo adalah seorang perwira Angkatan Udara yang pertama tama dikirim belajar ke luar negeri. Mayor The Tjing Hoo belajar navigasi di lembaga penerbangan TALOA, Amerika Serikat bersama generasi kedua pilot pilot AURI lainnya.

Pada Maret 1962, sekitar pukui 06.00 pagi, Kapten Pratowo bersama satu set crew Convair melapor ke Briefing Office Lanud Halim Perdanakusuma, karena akan melaksanakan misi penerbangan rahasia dalam rangka dukungan Operasi Trikora. Mereka dibriefing oleh seorang perwira menengah mengenai rute penerbangan yang akan ditempuh dan dijelaskan paling lambat pukul 15.00 WIT, Convair harus tiba di Lanud Pattimura, Ambon.

Kapten Pratowo dan rekannya kemudian menerima sejumlah surat dan sebuah amplop tertutup bertulisan “Rahasia”. Berdasar perintah yang disampaikan secara tegas dan keras, amplop tertutup hanya boleh dibuka setelah tiba dan dilaksanakan briefing di Pattimura.

Usai briefing, Pratowo dan kru lainnya segera melakukan persiapan terbang (flight operation) dan menuju ke Convair. Seorang perwira sempat menghampiri Pratowo dan sambil berbisik memberi tahu mengenai frekuensi apa saja yang ditambahkan pada sistem komunikasi radio VHF Convair.

Perwira itu menegaskan bahwa sistem komunikasi VHF yang dipasang bersifat sangat rahasia, sehingga membuat Pratowo takut mengetesnya. Apalagi kru lain yang notabene pasukan tempur sudah diperintahkan untuk merahasiakan perangkat komunikasi yang terpasang sehingga merupakan hal sulit bagi Pratowo untuk mencoba alat komunikasi bersangkutan tanpa ketahuan. Namun, tidak ditesnya perangkat ini kemudian menjadi sumber petaka.

Ketika para kru Convair memasuki kokpit untuk keperluan preflight, mereka terkejut karena melihat tiga pucuk senjata laras panjang G3 telah disiapkan untuk para kru bersama sejumlah kotak peluru. Kapten Pratowo lalu bertanya kepada seorang bintara berpangkat sersan yang membantu menyiapkan pesawat, mengenai persenjataan yang siap digunakan itu. Dia menjawab, bahwa senjata-senjata itu untuk dipakai jika sewaktu-waktu diperlukan.

Maklum, di kawasan Operasi Trikora sedang panas. Pratowo pun kemudian menandatangani surat penyerahan senjata dengan pesan, agar supaya semua persenjataan diserahkan kembali jika tugas sudah usai. Menyadari bahwa keberadaan senjata api di kokpit sangat berbahaya, Pratowo selanjutnya meletakan semua senjata agak jauh dari kokpit di ruang compartment.

Tiga orang kru sudah siap di kokpit, masing-masing Kapten Pratowo (pilot), kopilot Letnan Udara Muda (Cad) Udiyono dan flight engineer Serda Udara (Cad) Yusuf. Selain kru pesawat, turut pula sejumlah anggota AURI yang berada di kabin dan akan terbang hingga Lanud Pattimura. Sesuai rencana penerbangan, rute penerbangan yang akan ditempuh adalah Lanud Halim – Lanud Makasar (Ujung Pandang) – Lanud Pattimura.

Kisah Operasi Trikora: Pesawat Pak Harto Nyaris Ditembak Belanda!
Kisah Operasi Trikora: Pesawat Pak Harto Nyaris Ditembak Belanda!

Melakukan Penerbangan Rahasia

Penerbangan dari Halim menuju Makassar berlangsung lancar dan Convair melaksanakan pendaratan untuk pengisian bahan bakar. Selain itu para kru juga mendapat komplimen berupa sejumlah bungkusan makanan ringan, bungkusan nasi dan lauk pauk serta satu termos kopi panas. Karena mengejar waktu, jatah nasi untuk makan siang tidak mereka santap dan diputuskan untuk menyantapnya di udara.

Sebelum terbang menuju Makassar, sejumlah anggota AURI kembali naik dari Lanud Makassar dan jumlahnya melebihi kapasitas kursi karena di ruang kabin hanya tersedia delapan kursi. Kapten Pratowo tidak mau ambil pusing dengan para penumpang yang tidak kebagian kursi. Mereka bisa duduk di lantai atau berdiri saja.

Setibanya di Lanud Pattimura, Kapten Pratowo langsung diarahkan ke ruangan briefing. Ternyata di sini telah berkumpul sejumlah pejabat penting AURI yang ditugaskan pada Komando Mandala Operasi Trikora yakni Komodor Leo Wattimena dan Kolonel Saleh Basarah.

BACA JUGA :  Operasi Haik, Campur Tangan CIA Dalam Pemberontakan PRRI dan Permesta

Dalam briefingnya Saleh Basarah menjelaskan bahwa pesawat Convair akan melaksanakan operasi rahasia dan terbang pada pukul 00.00 WIT menyusuri rute pantai utara pulau Seram lalu terus terbang menuju timur dan selanjutnya ganti arah ke selatan menuju Merauke.

Jika penerbangan sudah sampai di atas Bula, Convair diharuskan menghubungi stasiun radar menggunakan saluran komunikasi rahasia yang sudah ditetapkan.

Misi operasi penerbangan rahasia itu akan memakan waktu tiga jam dan Convair diperkirakan tiba kembali ke Lanud Pattimura pada pukul 03.00 WIT dini hari. Sesudah Saleh Basarah memberikan briefing, berikutnya adalah briefing tentang cuaca yang diberikan oleh perwira berpangkat kapten. Cuaca diperkirakan akan hujan gerimis, diwarnai pergerakan awan pada ketinggain 10.000 kaki dan angin berhembus pada kecepatan 10-15 knot.

Pada pukul 23.30 WIT, semua awak Convair sudah siap di kokpit untuk melaksanakan preflight check dengan sangat hati-hati karena di sekitar lapangan sangat gelap. Menjelang penerbangan rahasia memang terbit perintah bahwa tidak boleh ada lampu yang dinyalakan dan pemeriksaan pesawat hanya diperbolehkan menggunakan lampu senter.

Sekitar pukul 23.45 WIT, rombongan perwira yang akan terbang tiba, tapi karena gelap, Kapten Pratowo tidak bisa mengenali seorang perwira pun. Kapten Parwoto bahkan tidak menyadari jika salah satu penumpangnya adalah Panglima Mandala, Mayjen Soeharto. Namun di kegelapan malam yang sangat pekat itu terdengar teriakan yang ditujukan kepada Kapten Parwoto. “Siap untuk go, Cap! Kalau siap silakan take-off.”

Kisah Operasi Trikora: Pesawat Pak Harto Nyaris Ditembak Belanda!
Kisah Operasi Trikora: Pesawat Pak Harto Nyaris Ditembak Belanda!

Pesawat Convair pun mulai bergerak menuju ujung landasan, dan pada pukul 23.55 WIT pesawat sudah airborne dan terus menanjak menuju ketinggian 6.000 kaki. Pesawat kemudian berbelok ke utara menuju pantai utara Pulau Seram dan terus terbang hingga ketinggian 10.000 kaki.

Pada ketinggian itu pesawat sudah keluar dari awan dan terus terbang menjelajah pada ketinggian 12.000 kaki. Karena cuaca pantai utara Seram cerah, pendar sinar bulan pun menyala terang di atas Convair. Sejumlah awan rendah tampak bergerak ke arah barat dan garis pantai Seram juga terlihat jelas. Tidak terasa suasana tegang pada misi penerbangan rahasia itu. Convair kemudian melesat ke arah timur menuju Bula.

Radio mati

Tiba-tiba suasana tenang itu dipecahkan oleh suara kepala intelijen AURI, Letkol Heru Atmojo, yang memperingatkan agar Convair jangan berada di posisi terlalu ke utara mendekati Pulau Misol karena banyak pesawat Belanda yang sedang melaksanakan terbang patroli.

Setelah berada di atas udara Bula, para awak Convair pun mulai melaksanakan komunikasi dengan stasiun radar. Setelah sekian lama melakukan komunikasi, ternyata sama sekali tak ada jawaban. Bahkan tidak terdengar suara gemerisik sama sekali.

Tidak berapa lama, Letkol Heru menanyakan apakah ada berita penting dari stasiun Bula, dan dijawab para kru Convair bahwa tidak ada jawaban sama sekali. Dengan pandangan setengah tidak percaya, Letkol Heru lalu memasang headset di kepalanya dan kemudian menyuruh Kapten Pratowo memanggil lagi stasiun radar Bula.

Setelah berkali-kali memanggil dan tak ada jawaban sama sekali, Letkol Heru kemudian mengumpat, “Sialan,” sambil berpaling ke belakang ke tempat para petinggi Komodor Leo Wattimena dan Mayjen Soeharto duduk.

Tak lama kemudian sosok yang paling ditakuti sekaligus disegani, Leo Wattimena maju sambil berteriak marah. “Kok bisa communication failure, siapa yang pasang itu VHF,” ujar Leo sambil marah. Kapten Pratowo langsung menjawab, “Dari pihak teknik AURI Pak,” ujar Pratowo sambil melihat ke belakang dan tampak Letkol Heru berdiri di depan Komodor Leo dan di belakangnya lagi Mayjen Soeharto. Jelas para petinggi Komando Mandala sedang gelisah dan mencium adanya sesuatu yang tidak beres.

Komodor Leo kemudian berpaling kepada Mayjen Soeharto dan menggerutu dalam Bahasa Belanda, “Verdomme, klieren bij elkaar (kurang ajar pada goblok semua).” Letkol Heru dan Mayjen Soeharto lalu kembali ke kabin, sedangkan Komodor Leo yang juga merupakan pilot andal tetap berada di kokpit sehingga suasana jadi makin tegang.

BACA JUGA :  Penerbangan Perdana AgustaWestland AW101 TNI AU

“Sampai di mana ini,” tanya Leo dan langsung dijawab Kapten Pratowo bahwa posisi Convair saat itu sedang berada di atas Pulau Seram. Leo tampak berpikir sejenak lalu memberikan perintah, “Alter course (segera belok) ke arah selatan Merauke.”

Kisah Operasi Trikora: Pesawat Pak Harto Nyaris Ditembak Belanda!
Kisah Operasi Trikora: Pesawat Pak Harto Nyaris Ditembak Belanda!

Setengah jam kemudian Kapten Pratowo diperintahkan terbang kembali menuju ujung Pulau Seram dan selanjutnya melaksanakan holding. Sambil menunggu proses pendaratan, para kru melakukan monitor terhadap stasiun komunikasi Lanud Pattimura melalui radio. Kapten Pratowo tiba-tiba mendengar orang berkomunikasi dalam Bahasa Belanda, dan karena tidak mengerti, hasil monitoring segera diserahkan kepada Komodor Leo.

Ketika memasang headset di kepalanya dan kemudian menyimak, Leo tampak terkejut karena suara berbahasa Belanda itu berasal dari pilot tempur Belanda yang akan menyergap Convair. Leo pun langsung memberikan perintah. “Return to base, ini berarti pesawat Belanda sedang dekat posisi kita. Cepat turun sampai kira-kira 1.000 kaki di atas highest obstacle,” teriak Leo dan langsung dilaksanakan oleh Kapten Prawoto.

Demi menghindari kejaran pesawat Belanda, Kapten Parwoto terus membawa Convair menukik hingga ketinggian 3.000 kaki. Berkat sinar bulan, pulau-pulau di abeam Pattimura mulai tampak jelas dan tak berapa lama kemudian, Convair sudah memasuki Celah Timur Ambon.

Pesawat Nyaris ditembak

Untuk persiapan pendaratan, Kapten Pratowo kemudian menghubungi menara kontrol Lanud Ambon dan mendapat berita bahwa dua C-130 Hercules sedang siap-siap take off. Convair lalu diperintahkan holding di dekat Pulau Buru pada ketinggian 3.000 kaki sampai semua trafik di Lanud Pattimura kosong.

Tepat pukul 02.30, Convair pun mendarat selamat di Lanud Pattimura dan para kru Convair segera bersiap untuk briefing. Sampai di depan pintu ruang briefing, Kapten Parwoto ditahan oleh Kolonel Saleh Basarah sambil berkata, “Sekarang sebaiknya istirahat dulu. Nanti jam 7 siap berangkat lagi ke Amahai. Pak Harto mau ke sana,” ujar Saleh Basarah dan langsung dijawab oleh Kapten Pratowo, “Siap Pak!”

Semua kru Convair memang butuh istirahat setelah semalaman terbang dan nyaris disergap pesawat tempur Belanda. Setelah istirahat, semua kru dan para penumpang segera terbang menuju Amahai dan tiba di lokasi pada pukul 07.30 WIT.

Kisah Operasi Trikora: Pesawat Pak Harto Nyaris Ditembak Belanda!
Kisah Operasi Trikora: Pesawat Pak Harto Nyaris Ditembak Belanda!

Ketika bertemu sejumlah kru pesawat lain yang sedang berada di Amahai, Kapten Pratowo dibuat terkejut karena salah satu pesawat AURI tadi malam ditembak jatuh Neptune Belanda ketika sedang mengantar pasukan infiltran dan masuk laut. Mujur semua kru selamat dan menjadi tawanan perang. Dan setelah Operasi Trikora selesai, kru Dakota AURI yang ditembak jatuh Belanda itu, kemudian dikembalikan ke Indonesia.

Kapten Pratowo akhirnya sadar jika semalam Komodor Leo tidak segera mengambil alih kendali pesawat dan secepatnya terbang menuju Lanud Pattimura, bisa saja Convair yang sedang membawa para petinggi Komando Operasi Trikora jadi korbannya.

Sekitar pukul 10.00 WIT, Convair mendarat lagi di Lanud Pattimura untuk istirahat dan standby for duty call. Semua awak Convair akhirnya bergembira sewaktu esok harinya mereka diizinkan pulang ke Jakarta dan tiba di Lanud Halim Perdanakusuma dengan selamat. Semua kru segera melapor ke Perwira Operasi Halim, Letkol (Pnb) Rusmin Nuryadin yang kelak akan menjabat Menteri Perhubungan RI.

Rusmin Nuryadin ternyata memberikan ucapan selamat sambil memberi tahu bahwa Convair ternyata telah lolos dari sergapan pesawat Neptune ketika terbang di atas Pulau Ceram.

Kapten Pratowo mengangguk dan sekaligus mengiyakan peristiwa yang nyaris merenggut nyawa para petinggi Komando Mandala Operasi Trikora, khususnya Mayjen Soeharto. Jika Convair tertembak jatuh dan masuk laut, sejarah Operasi Pembebasan Irian Barat dan perjalanan bangsa Indonesia pasti tidak berlangsung seperti sekarang ini.

Hanung Jati Purbakusuma
Hanung Jati Purbakusumahttps://www.hobbymiliter.com/
Sangat tertarik dengan literatur dunia kemiliteran. Gemar mengkoleksi berbagai jenis miniatur alutsista, terutama yang bertipe diecast dengan skala 1/72. Koleksinya dari pesawat tempur hingga meriam artileri anti serangan udara, kebanyakan diecast skala 1/72.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Ngeteng, Cara Angkatan Udara Singapura Memperbanyak F-16 RSAF

Beli Ngeteng, Cara Singapura Memperbanyak F-16 RSAF - HobbyMiliter.com. Dalam diskusi diskusi di forum forum militer online maupun di grup grup militer di Facebook,...

Begini Cara Kerja Over The Horizon Radar (OTHR) Jindalee Australia

Begini Cara Kerja Over The Horizon Radar (OTHR) Jindalee Australia - HobbyMiliter.com - Meski telah jutaan tahun membalut Bumi, belum seluruh bagian atmosfer bisa...

Foto – Foto Dokumentasi Pendudukan Tentara Soviet di Perang Afghanistan Era 80-an

Foto - Foto Dokumentasi Pendudukan Tentara Soviet di Perang Afghanistan Era 80-an - HobbyMiliter.com. Perang Soviet di Afghanistan berlangsung selama lebih dari sembilan tahun....

Foto Foto Langka KRI Irian, Kapal Perang Indonesia Asal Soviet

Foto Foto Langka KRI Irian, Kapal Perang Indonesia Asal Soviet - HobbyMiliter.com. Pada saat persiapan operasi Trikora dalam rangka perebutan Irian Barat (sekarang Provinsi...

Recent Comments

black donkey{(revolution mindset)}>???? on MARINIR INDONESIA – AMERIKA BERBAGI ILMU DI SITUBONDO
Thomson Sirait on Kehidupan di KRI Makassar 590
Ananda Andriyo on Patroli di Tanah Papua
HobbyMiliter on Patroli di Tanah Papua