Kisah Operasi Trikora: Pesawat Pak Harto Nyaris Ditembak Belanda!

0
7868
Kisah Operasi Trikora: Pesawat Pak Harto Nyaris Ditembak Belanda!
Kisah Operasi Trikora: Pesawat Pak Harto Nyaris Ditembak Belanda!

Kisah Operasi Trikora: Pesawat Pak Harto Nyaris Ditembak Belanda! – HobbyMiliter.com. Pada saat operasi Trikora komando pembebasan Irian Barat digelar, sebuah pesawat transport Convair CV-340 nyaris disergap pesawat Neptune Belanda. Padahal di dalam pesawat yang sedang melakukan terbang patroli malam itu terdapat Panglima Komando Mandala Trikora, Mayjen Soeharto.

Di medan tempur yang makin memanas, keberadaan para panglima perang atau komandan tertinggi menjadi demikian penting karena sangat menentukan jalannya pertempuran. Para komandan tempur yang sukses memimpin anak buahnya selain menjadi tokoh kunci juga menjadi target utama pasukan musuh. Untuk melindungi keberadaan dan mobilitas para panglima perang selain dijaga oleh pasukan terlatih juga didukung oleh informasi yang serba rahasia pada setiap sepak terjang para panglima perang. Tapi misi melindungi para panglima perang menjadi sangat riskan ketika mereka sedang melaksanakan mobilitas menggunakan pesawat terbang. Ingat dengan nasib Isoroku Yamamoto yang tewas disergap musuh dalam Operation Vengeance?

BACA JUGA :  Amerika Pinjamkan Senjata Nuklir Ke Anggota NATO, Termasuk Turki

Ketika pecah konflik militer antara Indonesia dan Belanda untuk memperebutkan wilayah Irian Barat (Papua) pada tahun 1962, para pilot maskapai penerbangan Garuda turut dilibatkan dalam operasi militer untuk menerbangkan pesawat-pesawat transport. Sebelum melaksanakan tugas di medan tempur, mereka dilatih terlebih dahulu dengan latihan dasar militer dan selanjutkan mendapatkan pangkat perwira penerbang tituler. Pesawat-pesawat transport yang diterbangkan oleh para pilot Garuda yang kemudian dikenal sebagai Wing Garuda (WG) dan Wing Garuda 011 (WG 011) itu antara lain C-47 Skytrain, DC-3 Dakota, dan Convair CV-340. Pesawat pesawat buatan Amerika Serikat inilah yang menjadi tulang punggung transportasi militer dalam Operasi Trikora.

BACA JUGA :  Pasukan T Ronggolawe, Pasukan Pejuang Pelajar

Misi tempur yang harus dilaksanakan para pilot WG dan WG 011 di Operasi Trikora tidak selalu berjalan mulus, karena penerbangan mereka kerap dihadang cuaca buruk serta sergapan pesawat-pesawat tempur Belanda yang cukup canggih pada saat itu, Hawker Hunter Mk.6, Firefly AS-4, Neptune P2V-7 dan B-26 Invander. Selain sergapan pesawat tempur, para pilot WG juga harus mampu menghindari radar Belanda yang telah dipasang di sejumlah strategis di kawasan Irian Barat. Guna menghindari pantauan radar dan sergapan radar serta cuaca buruk, pesawat kerap terbang di ketinggian rendah (tree top) di atas hutan lebat atau di atas perairan yang ganas. Demikian tinggi risiko yang harus dihadapi para awak WG dan WG 011, sehingga misi mereka sering disebut sebagai misi sekali jalan, one way ticket.

BACA JUGA :  KRI Multatuli 561 Semarakkan Festival Pesona Kebangsaan Di Ende

“Jadi sebagai pilot WG dan WG 011, kami memang sudah menandatangani surat untuk siap mati dalam misi mendukung operasi tempur TNI di Operasi Trikora untuk membebaskan Irian Barat. Kami waktu itu memang masih muda dan memiliki semangat menyala-nyala. Sehingga perasaan takut sama sekali hilang, apalagi kami juga mendapat pelatihan militer dan merasa sangat percaya diri,” papar salah satu pilot WG, Captain Syafei.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here