Kisah Operasi Trikora: Pesawat Pak Harto Nyaris Ditembak Belanda!

0
7868

Salah satu misi tempur menantang maut itu adalah penerbangan rahasia pesawat Convair-340 yang dipiloti Kapten Udara Pratowo Dirdjopranoto. Misi tempurnya adalah menerbangkan sejumlah pejabat Komando Mandala Siaga (Kolaga) Operasi Trikora Pembebasan Irian Barat seperti Panglima Kolaga Mayjen Soeharto, Panglima AL Mandala Komodor Sudomo, Panglima AU Mandala Komodor Leo Wattimena, Kolonel Saleh Basarah yang saat itu menjabat Direktur Operasi Mabes AU, dan lainnya.

Kisah Operasi Trikora: Pesawat Pak Harto Nyaris Ditembak Belanda!
Kisah Operasi Trikora: Pesawat Pak Harto Nyaris Ditembak Belanda!

Markas komando Operasi Trikora di udara

Kapten Udara Pratowo rupanya tidak hanya menerbangkan Convair-340 sebagai pesawat transport belaka, melainkan merupakan pesawat yang sudah dimodifikasi menjadi pesawat komando. Modifikasi yang dilakukan tampak pada ruang kabin karena kursi-kursi penumpang antara lain kursi-kursi sudah dikeluarkan dan diganti meja-meja besar dengan tempelan yang menggambarkan peta kawasan Nusa Tenggara, Maluku, dan Irian Jaya. Daerah Operasi Trikora.

Sejumlah perangkat komunikasi berupa headset dan mike tampak tergantung di pinggir meja. Kapten Pratowo sempat berjumpa dengan perwira Angkatan Udara yang bertanggung jawab terhadap modifikasi yang telah dilakukan dan dikenal sebagai Mayor Udara The Tjing Hoo. Saat itu The Tjing Hoo menjabat sebagai Asisten Direktorat Perhubungan dari Direktorat Navigasi dan Komuniasi TNI AU. Diajuga merupakan seorang ahli teknik komunikasi radio dan navigator pesawat. The Tjing Hoo adalah seorang perwira Angkatan Udara yang pertama tama dikirim belajar ke luar negeri. Mayor The Tjing Hoo belajar navigasi di lembaga penerbangan TALOA, Amerika Serikat bersama generasi kedua pilot pilot AURI lainnya.

BACA JUGA :  Dassault Etendard Dan Super Etendard Si Kembar Yang Berbeda

Pada Maret 1962, sekitar pukui 06.00 pagi, Kapten Pratowo bersama satu set crew Convair melapor ke Briefing Office Lanud Halim Perdanakusuma, karena akan melaksanakan misi penerbangan rahasia dalam rangka dukungan Operasi Trikora. Mereka dibriefing oleh seorang perwira menengah mengenai rute penerbangan yang akan ditempuh dan dijelaskan paling lambat pukul 15.00 WIT, Convair harus tiba di Lanud Pattimura, Ambon. Kapten Pratowo dan rekannya kemudian menerima sejumlah surat dan sebuah amplop tertutup bertulisan “Rahasia”. Berdasar perintah yang disampaikan secara tegas dan keras, amplop tertutup hanya boleh dibuka setelah tiba dan dilaksanakan briefing di Pattimura.

BACA JUGA :  Kisah Militer: Kali Pertama Pesawat Jatuh Ditembak Rudal Anti Pesawat

Usai briefing, Pratowo dan kru lainnya segera melakukan persiapan terbang (flight operation) dan menuju ke Convair. Seorang perwira sempat menghampiri Pratowo dan sambil berbisik memberi tahu mengenai frekuensi apa saja yang ditambahkan pada sistem komunikasi radio VHF Convair. Perwira itu menegaskan bahwa sistem komunikasi VHF yang dipasang bersifat sangat rahasia, sehingga membuat Pratowo takut mengetesnya. Apalagi kru lain yang notabene pasukan tempur sudah diperintahkan untuk merahasiakan perangkat komunikasi yang terpasang sehingga merupakan hal sulit bagi Pratowo untuk mencoba alat komunikasi bersangkutan tanpa ketahuan. Namun, tidak ditesnya perangkat ini kemudian menjadi sumber petaka.

BACA JUGA :  RUU ANTI TEROR RUSAK KEPASTIAN HUKUM

Ketika para kru Convair memasuki kokpit untuk keperluan preflight, mereka terkejut karena melihat tiga pucuk senjata laras panjang G3 telah disiapkan untuk para kru bersama sejumlah kotak peluru. Kapten Pratowo lalu bertanya kepada seorang bintara berpangkat sersan yang membantu menyiapkan pesawat, mengenai persenjataan yang siap digunakan itu. Dia menjawab, bahwa senjata-senjata itu untuk dipakai jika sewaktu-waktu diperlukan. Maklum, di kawasan Operasi Trikora sedang panas. Pratowo pun kemudian menandatangani surat penyerahan senjata dengan pesan, agar supaya semua persenjataan diserahkan kembali jika tugas sudah usai. Menyadari bahwa keberadaan senjata api di kokpit sangat berbahaya, Pratowo selanjutnya meletakan semua senjata agak jauh dari kokpit di ruang compartment.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here