Wednesday, May 29, 2024
HomeBlog MiliterBiografiBiografi Ki Hajar Dewantara, Bapak Pendidikan Nasional Indonesia

Biografi Ki Hajar Dewantara, Bapak Pendidikan Nasional Indonesia

Soewardi menulis Een voor Allen maar Ook Allen voor Een yang diartikan Satu untuk Semua, tetapi Semua untuk Satu juga dan Als ik een Nederlander was yang diartikan Seandainya Aku Seorang Belanda yang dimuat dalam surat kabar De Express pimpinan Douwes Dekker pada tanggal 13 Juli 1913.

Tulisan tersebut menyinggung kalangan pejabat Hindia Belanda yang kemudian memerintahkan penangkapan Soewardi. Atas persetujuan Gubernur Jenderal Idenburg, Soewardi kemudian ditangkap dan diasingkan ke Pulau Bangka atas permintaan Soewardi sendiri. Kedua rekannya, Douwes Dekker dan Cipto Mangunkusumo memprotes kebijakan tersebut hingga mengakibatkan mereka bertiga akhirnya diasingkan ke Belanda di tahun 1913.

BACA JUGA :  Latar Belakang G30SPKI: Puncak Pemberontakan Partai Komunis Indonesia

Selama di masa pengasingannya di Belanda, Soewardi tetap aktif dalam organisasi, seperti di organisasi pelajar asal Indonesia Indische Vereeniging atau Perhimpunan Hindia. Pada tahun 1913 Soewardi mendirikan Indonesisch Pers-bureau atau kantor berita Indonesia. Hal tersebut merupakan pemakaian formal pertama dari istilah Indonesia yang pertama kali diciptakan ahli bahasa asal Inggris, George Windsor Earl dan pakar hukum asal Skotlandia, James Richardson Logan pada tahun 1850.

Kantor berita tersebut merupakan perwujudan cita-citanya memajukan kaum pribumi dengan belajar ilmu pendidikan dan membawanya memperoleh Europeesche Akte, yaitu ijazah pendidikan bergengsi yang di kemudian hari menjadi dasar pijakan baginya dalam pendirian lembaga pendidikan di tahun 1918.

BACA JUGA :  CIA: ISIS Akan Ekspor Senjata Kimia Ke Negara Barat

Saat studinya tersebut, Soewardi terpikat ide beberapa tokoh pendidikan Barat, seperti Montessori dan Froebel serta pergerakan pendidikan Santiniketan, India, dan juga keluarga Tagore. Semua pengaruh tokoh pendidikan Barat tersebut menjadi dasar bagi Soewardi dalam mengembangkan sistem pendidikan ciptaannya sendiri.

Pada bulan September 1919, Soewardi kembali ke Indonesia dan bertekad membebaskan rakyat Indonesia dari kebodohan agar Indonesia merdeka segera terwujud. Soewardi pun kemudian bergabung dalam sekolah binaan saudaranya dimana semua pengalaman yang didapatkan saat mengajar di sekolah tersebut dipakai guna mengembangkan konsep mengajar untuk sekolah Nationaal Onderwijs Instituut Tamansiswa atau Perguruan Nasional Tamansiswa yang didirikan tanggal 3 Juli 1922.

BACA JUGA :  Tontaikam Brigade Infanteri-1 Pengamanan Ibu Kota/Jaya Sakti

Sekolah tersebut bertujuan menanamkan rasa kebangsaan atau nasionalisme serta rasa cinta tanah air agar mendorong keinginan berjuang demi memperoleh kemerdekaan Indonesia. Semboyan dalam sistem pendidikan yang dipakai di sekolah tersebut dalam bahasa Jawa adalah ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani yang diartikan sebagai di depan memberi contoh, di tengah memberi semangat, serta di belakang memberi dorongan. Ketiga semboyan tersebut sangat dikenal dan masih tetap dipakai hingga kini di kalangan pendidikan di Indonesia, terutama di berbagai sekolah Perguruan Tamansiswa. Bahkan semboyan tut wuri handayani hingga kini dijadikan slogan dalam Kementerian Pendidikan Indonesia.

Hanung Jati Purbakusuma
Hanung Jati Purbakusumahttps://www.hobbymiliter.com/
Sangat tertarik dengan literatur dunia kemiliteran. Gemar mengkoleksi berbagai jenis miniatur alutsista, terutama yang bertipe diecast dengan skala 1/72. Koleksinya dari pesawat tempur hingga meriam artileri anti serangan udara, kebanyakan diecast skala 1/72.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Baca Juga

TNI melayani kontak tembak dengan Gerakan Aceh Merdeka, 2003

Foto Foto Darurat Militer Aceh 2003-2004, Operasi Militer Lawan GAM

1
Foto Foto Darurat Militer Aceh 2003-2004, Operasi Militer Lawan GAM - HobbyMiliter.com. Di tahun 2003, pemerintah memutuskan melakukan operasi militer terpadu melawan Gerakan Aceh...

Recent Comments