Wednesday, September 23, 2020
Home Blog Militer Biografi Biografi Agus Supriatna, KSAU Ke 20 TNI AU Periode 2015 - 2017

Biografi Agus Supriatna, KSAU Ke 20 TNI AU Periode 2015 – 2017

Biografi Agus Supriatna, KSAU Ke 20 TNI AU Periode 2015 – 2017 – HobbyMiliter.com. Presiden Rl Joko Widodo melantik Marsekal Madya TNI Agus Supriatna menjadi Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) di Istana Negara pada 2 Januari 2015. Selanjutnya “Dingo” (callsign) Agus Supriatna selaku penerbang tempur TNI AU, resmi mengemban tugas sebagai KSAU ke-20 sejak 15 Januari 2015 hingga 18 Januari 2017.

Sebelumnya sudah banyak yang menduga sebelumnya bila salah satu lulusan Akademi Angkatan Udara (AAU) 1983 akan menjadi KSAU. Hal ini didasarkan pada “tradisi” di tubuh TNI AU bahwa jabatan KSAU selalu diraih oleh lulusan AAU angkatan ganjil. Akan tetapi, bisa jadi juga hal itu karena faktor kebetulan semata.

Toh, pemilihan KSAU merupakan hak preogratif Presiden Republik Indonesia. “Kalau sudah bintang dua, kapabilitas relatif dianggap sama. Siapa yang akan menjadi KSAU, itu adalah takdir,” ujar salah seorang perwira tinggi TNI AU.

Dan, baru kali ini penerbang tempur F-16 Fighting Falcon menjabat KSAU setelah seperempat abad burung besi F-16A/B Block 15 OCU mengabdi di TNI AU. Hingga saat ini F-16 pun masih menjadi salah satu alat pukul utama TNI AU di udara.

Atas pertimbangan efektivitas, tingkat deteren, dan faktor perawatannya yang mudah, Pemerintah Indonesia bahkan menambah 24 unit F-16C/D 52ID buatan Lockheed Martin untuk mengisi kekuatan baru Skadron Udara 16 di Pekanbaru, Riau serta mempertajam taring Skadron Udara 3 di Madiun, Jawa Timur.

BACA JUGA :  Ngeteng, Cara Angkatan Udara Singapura Memperbanyak F-16 RSAF

Diberi Callsign “Dingo” oleh komandan

Terlahir di Bandung pada 28 Januari 1959, perjalanan karier Letda Pnb Agus Supriatna di TNI AU dimulai dengan penugasan pertamanya di Skadron Udara 11 Lanud Iswahjudi (saat itu) yang berkekuatan pesawat A-4 Skyhawk.

Lulusan AAU 1983 ini bergabung dengan skadron serang darat A-4 usai menamatkan Sekolah Penerbang TNI AU di tahun yang sama. Kala itu Skadron Udara 11 dipimpin oleh Letkol Pnb Donan Sunanto dan Agus Supriatna langsung diberi callsign “Dingo” oleh sang komandan.

Apa itu “Dingo”, Agus pun sempat bertanya kepada komandannya. “Sudahlah, kamu tidak usah pilih-pilih callsign” jawab sang komandan seraya menjelaskan bahwa “Dingo” adalah sejenis anjing galak dari Australia yang menyerupai serigala abu-abu dan mampu hidup di berbagai medan, mulai dari padang pasir hingga hutan. “Ha-ha-ha, ya mungkin beliau melihat saya orangnya begitu,” ujar Agus di kemudian hari.

Di pesawat A-4 Agus Supriatna menapaki karier hingga menjadi element leader (1985). Empat tahun kemudian, 1989, ia mengikuti Sekolah Instruktur Penerbang di Yogyakarta dan kemudian menjadi Instruktur Penerbang di Skadron Pendidikan (Skadik) 102 dengan Jupiter Number 221.

Tiga tahun kemudian ia mengikuti pendidikan Sekkau di Jakarta (1992) dan setelah itu ditarik ke Skadron Udara 3 untuk menjadi penerbang jet
tempur fly-by-wire F-16.

Agus Supriatna
Agus Supriatna

Tahun 1994 Agus Supriatna yang kala itu telah berpangkat Mayor dikirim ke Amerika Serikat bersama penerbang F-16 lainnya, Mayor Pnb Muhammad “Wild Geese” Syaugi (AAU 1984), untuk mengikuti pendidikan Advanced Weapon Tactical Course (AWTC) selama sembilan bulan.

BACA JUGA :  Foto Air to Air Refueling F-16C TNI AU

Di tahun yang sama, turun perintah dari KSAU Marsekal TNI Rilo Pambudi yang menginginkan TNI AU membentuk tim aerobatik F-16 untuk tampil di Hari Emas ABRI, 5 Oktober 1995. Komandan Skadron Udara 3 Letkol Pnb Rodi Suprasodjo yang ditunjuk menjadi leader tim aerobatik itu segera mencari penerbang terbaiknya.

Agus dan Syaugi yang masih mengikuti pendidikan di Negeri Paman Sam, dipilih Rodi bersama tiga penerbang lainnya. Setelah pulang dari Amerika terbentuklah Elang Biru berkekuatan enam F-16 dengan personel Letkol Pnb Rodi “Cobra” Suprasodjo (Leader), Mayor Pnb Bambang “Puffin” Samoedro (Slot), Mayor Pnb Agus “Dingo” Supriatna (Lead Solo), Mayor Pnb Muhammad “Wild Geese” Syaugi (Opposing Solo), Kapten Pnb Tatang “Phyton” Harlyansyah (Right Wing), dan Kapten Pnb Anang “Morgan” Nurhadi Susilo (Left Wing).

Awalnya Elang Biru belajar aerobatik secara otodidak dan tampil perdana 9 April 1995 pada HUT TNI AU ke-49 di Lanud Halim Perdanakusuma. Menjelang Hari Emas ABRI, Elang Biru mendapat pelatihan langsung dari suhu aerobatik AU AS (USAF) Thunderbirds dipimpin Kolonel Steve “Boss” Trent, mantan Komandan Thunderbirds (1988-1990) yang membukukan lebih 200 misi tempur di Perang Vietnam.

Hasilnya bisa diduga, Elang Biru tampil sangat memukau di hadapan Presiden Soeharto beserta jajaran menteri Kabinet Pembangunan IV, Panglima ABRI Jenderal TNI Feisal Tanjung, dan Menhankam Jenderal (Purn) Edi Sudrajat.

Tahun berikutnya, Elang Biru tampil lagi pada HUT Emas TNI AU, 9 April 1996, sekaligus pemanasan sebelum tampil di perhelatan dunia, Indonesia Air Show, Juni 1996. Di tahun itu, F-16 Elang Biru telah berubah warna dari kelir loreng menjadi biru-kuning yang sangat mencolok. Di IAS 1996 Elang Biru menampilkan 16 manuver aerobatik dan mendapat peliputan yang besar hingga ke mancanegara.

BACA JUGA :  TNI AU Setujui Kontrak Suku Cadang Pesawat, Senilai Rp 323 Miliar

Mendapat Tugas Sebagai Lead Solo

Agus Supriatna melakukan duet aerobatik dengan Opposing Solo yakni M. Syaugi. Dua manuver yang sangat bikin decak kagum dan mendebarkan adalah Calypso dan Cross Over Break. Pada saat Calypso, Agus menerbangkan F-16 dengan posisi terbalik, sementara Syaugi yang terbang di bawahnya menempel pesawat Agus sehingga kedua pesawat tampak seperti dalam sebuah cermin.

Sedangkan pada Cross Over Break, kedua penerbang mempertontonkan dua F-16 yang terbang bersilangan dalam kecepatan tinggi 765 km/jam sehingga tampak seperti akan bertabrakan.

Agus Supriatna, Salah satu dari penerbang Tim Aerobatic Elang Biru TNI AU
Agus Supriatna, Salah satu dari penerbang Tim Aerobatic Elang Biru TNI AU

Usai bergabung dengan tim Elang Biru, Agus Supriatna melanjutkan pendidikan di Seskoau dan setelah lulus dipercaya menjabat Komandan Skadik 102 untuk melatih para penerbang TNI AU (1998). Setelah itu ia menjadi Atase Pertahanan RI di Singapura (2003) selama tiga tahun dan kembali ke Indonesia sebagai Paban Utama B-3 Direktorat “B” Badan Intelijen Strategis TNI (2006).

Jenjang karier berikutnya ia menjadi Komandan Lanud Sultan Hasanuddin (2010), Kepala Staf Koopsau I (2011), Pangkoopsau II (2012), Wakil Irjen TNI dan Kasum TNI (2014) serta terakhir adalah KSAU.

Hanung Jati Purbakusuma
Hanung Jati Purbakusumahttps://www.hobbymiliter.com/
Sangat tertarik dengan literatur dunia kemiliteran. Gemar mengkoleksi berbagai jenis miniatur alutsista, terutama yang bertipe diecast dengan skala 1/72. Koleksinya dari pesawat tempur hingga meriam artileri anti serangan udara, kebanyakan diecast skala 1/72.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Ngeteng, Cara Angkatan Udara Singapura Memperbanyak F-16 RSAF

Beli Ngeteng, Cara Singapura Memperbanyak F-16 RSAF - HobbyMiliter.com. Dalam diskusi diskusi di forum forum militer online maupun di grup grup militer di Facebook,...

Begini Cara Kerja Over The Horizon Radar (OTHR) Jindalee Australia

Begini Cara Kerja Over The Horizon Radar (OTHR) Jindalee Australia - HobbyMiliter.com - Meski telah jutaan tahun membalut Bumi, belum seluruh bagian atmosfer bisa...

Foto – Foto Dokumentasi Pendudukan Tentara Soviet di Perang Afghanistan Era 80-an

Foto - Foto Dokumentasi Pendudukan Tentara Soviet di Perang Afghanistan Era 80-an - HobbyMiliter.com. Perang Soviet di Afghanistan berlangsung selama lebih dari sembilan tahun....

Foto Foto Langka KRI Irian, Kapal Perang Indonesia Asal Soviet

Foto Foto Langka KRI Irian, Kapal Perang Indonesia Asal Soviet - HobbyMiliter.com. Pada saat persiapan operasi Trikora dalam rangka perebutan Irian Barat (sekarang Provinsi...

Recent Comments

black donkey{(revolution mindset)}>???? on MARINIR INDONESIA – AMERIKA BERBAGI ILMU DI SITUBONDO
Thomson Sirait on Kehidupan di KRI Makassar 590
Ananda Andriyo on Patroli di Tanah Papua
HobbyMiliter on Patroli di Tanah Papua