Monday, November 23, 2020
Home Alutsista Kapal Perang KRI Rencong 622, Kapal Legendaris TNI AL

KRI Rencong 622, Kapal Legendaris TNI AL

Seri Kapal Legendaris TNI AL : KRI Rencong 622 – HobbyMiliter.com – Cuaca cerah dan kondisi perairan yang tenang menemani pelayaran sebuah kapal perang dari jenis Kapal Cepat Rudal atau KCR milik TNI AL itu. Saat itu, Selasa pagi, 11 September 2018, semuanya nampak biasa – biasa saja.

Tidak ada tanda – tanda yang mencurigakan sebelum pelayaran kapal perang itu berubah menjadi pelayaran terakhirnya di jajaran Armada TNI Angkatan Laut. Pagi itu, sekitar pukul 07.00 WIT, TNI Angkatan Laut harus kehilangan satu kapal legendaris yang dimilikinya. Adalah KRI Rencong 622 yang mengalami nasib nahas tersebut. Api membakar habis badan kapal perang tersebut.

Sebagai bentuk penghormatan kami, kali ini, HobbyMiliter.com menghadirkan kisah pengabdian salah satu kapal perang legendaris di tubuh TNI Angkatan Laut tersebut. Inilah kisah pengabdian KRI Rencong 622 dalam jajaran TNI Angkatan Laut.

Seri Kapal Legendaris TNI AL : KRI Rencong 622
KRI Mandau dengan nomor lambung 621 merupakan unit Lead Ship dari kapal perang kelas Mandau milik TNI AL.

Sejarah Singkat KRI Rencong 622

KRI Rencong dengan nomor lambung 622 merupakan satu dari empat unit kapal perang jenis Kapal Cepat Rudal atau KCR yang dibeli dari Korea Selatan di masa pemerintahan Orde Baru. Dirunut dari kelas nya, kapal ini termasuk dalam kelas Mandau, sesuai dengan nama Lead Ship yang ada yakni KRI Mandau dengan nomor lambung 621. Sebanyak empat unit kapal dibeli dalam kondisi baru dari Korea Selatan pada medio tahun 1979 hingga 1980-an.

Kapal Cepat Rudal yang oleh dunia internasional diklasiffikaikan sebagai Patrol Ship Multi-Mission atau PSMM ini diproduksi di galangan kapal Korea Tacoma Shipyard, yang terletak di wilayah Masan, Korea Selatan. Sebagai informasi tambahan, galangan kapal tersebut adalah juga merupakan galangan kapal yang sama yang memproduksi kapal perang jenis Landing Ship Tank atau LST kelas Teluk Semangka.

KRI Mandau 621 dan KRI Rencong 622 diserahkan kepada pemerintah Republik Indonesia pada tanggal 20 Juli 1979, sedangkan KRI Badik 623 dan KRI Keris 624 diserahkan kepada pemerintah Republik Indonesia pada tanggal 1 Februari 1980.

Seri Kapal Legendaris TNI AL : KRI Rencong 622
KRI Rencong 622 saat melaksanakan latihan Cast and Recovery yakni menerjunkan personel pasukan Taifib TNI AL dengan posisi kapal melaju dalam kecepatan tinggi.

Berdinas Di Jajaran Armada TNI AL

KRI Rencong yang memiliki nomor lambung 622 mulai memasuki masa layanan dinas aktif di jajaran armada TNI AL pada medio tahun 1980-an. Beragam operasi militer perang maupun operasi militer selain perang pernah dilaksanakan oleh kapal yang mengambil namanya dari senjata tradisional khas masyarakat Aceh tersebut.

Kapal perang dari jenis Kapal Cepat Rudal ini pernah turut terlibat dalam operasi militer pengamanan Konferensi Tingkat Tinggi Asia-Pacific Economic Cooperation atau biasa disebut KTT APEC yang diadakan di Bali pada tahun 2013 yang lalu. Ia bersama 13 unit kapal perang lainnya milik TNI AL disiagakan sebagai unsur pengamanan wilayah laut sekitar pulau Bali yang dijadikan lokasi KTT APEC tersebut.

Selain terlibat dalam operasi pengamanan KTT APEC tersebut, kapal perang ini juga terlibat dalam proses pendidikan siswa dari Pendidikan Intai Amfibi atau Diktaifib TNI Angkatan Laut. Adapun kapal perang jenis Kapal Cepat Rudal tersebut terlibat dalam proses pelatihan Cast and Recovery. Cast and Recovery adalah proses atau tahapan untuk melaksanakan pengiriman elemen pasukan khusus ke daerah lawan secara rahasia yang dilakukan dalam kecepatan tinggi.

BACA JUGA :  Bantu Militan Sunni dan Kurdi, Turki Serang Posisi ISIS di Luar Mosul

Seri Kapal Legendaris TNI AL : KRI Rencong 622
KD Kerambit, lawan dari Malaysia yang harus dihadapi dan akhirnya berhasil diusir oleh KRI Rencong keluar dari wilayah Indonesia. Pengusiran dilakukan saat KRI Rencong bertugas di wilayah perairan Ambalat.

Menghadang Dan Mengusir KD Kerambit Di Ambalat

Ternyata, selain pernah melaksanakan serangkaian operasi pengamanan KTT APEC dan operasi pendidikan Cast And Recovery, KRI Rencong juga pernah terlibat dalam operasi militer perang yang sesungguhnya. Adalah konflik Ambalat, yang terjadi di tahun 2005 yang mencatatkan nama KRI Rencong sebagai salah satu kapal yang “battle proven” dalam menghadang dan mengusir kapal perang Tentera Laut Diraja Malaysia atau TLDM yang memasuki wilayah kedaulatan laut Indonesia.

Adalah KD Kerambit, kapal perang milik Tentera Laut Diraja Malaysia yang menjadi lawan KRI Rencong kala itu. Insiden ini merupakan salah satu insiden yang paling memicu peningkatan eskalasi di kawasan Ambalat kala itu. Pasalnya, KD Kerambit memasuki wilayah kedaulatan laut Indonesia dan mengklaim bahwa wilayah laut tersebut merupakan wilayah dari Malaysia. KD Kerambit mengontak KRI Rencong dari radio dan memberitahu bahwa KRI Rencong telah memasuki wilayah perairan Malaysia. KD Kerambit juga menyerukan agar KRI Rencong putar haluan kembali ke wilayahnya.

Mendengar seruan ini, KRI Rencong langsung membalas memberitahukan kepada KD Kerambit bahwa KD Kerambit lah yang memasuki wilayah perairan Indonesia. Pada saat itu, KRI Rencong berada di wilayah Indonesia, posisi koordinat 03.59 Lintang Utara (LU)-118.4 Bujur Timur (BT). Sedangkan KD Kerambit pada saat yang sama berada pada posisi 04.01 LU-118.05 BT. Jarak kedua kapal kurang lebih sudah masuk dalam jangkauan senjata meriam pada masing – masing kapal perang tersebut.

Seperti yang dapat diduga, adu argumen pun terjadi. Kru dari kedua kapal perang tersebut saling beradu argumen menyebut bahwa wilayah tersebut adalah kedaulatan masing – masing negara. Setelah adu argumen yang cukup keras, dan seruan berulang – ulang dari KRI Rencong agar kapal perang milik TLDM tersebut mengubah haluannya, akhirnya KD Kerambit pun mengubah haluan berbalik arah. Tak mau ditipu oleh lawan, KRI Rencong pun mengawal kapal perang milik TLDM ini hingga jarak 900 meter.

Seri Kapal Legendaris TNI AL : KRI Rencong 622
Seri Kapal Legendaris TNI AL : KRI Rencong 622. KRI Rencong kala tampil dengan konfigurasi full combat load lengkap dengan 4 unit rudal anti kapal Exocet MM38.

Dalam perjalanannya mengawal kapal perang lawan, kembali Kapal Perang Republik Indonesia ini mendapat kontak radio dari awak kapal KD Kerambit. Dalam kontak kali ini, awak kapal perang Malaysia itu menyerukan agar pembangunan mercusuar di Takat Unarang atau Karang Unarang yang dilakukan oleh pemerintah RI dihentikan.

Seruan ini tentu tidak digubris baik oleh awak kapal perang TNI Angkatan Laut maupun oleh pemerintah Indonesia saat itu. Proses pembangunan mercusuar justru semakin dikebut dan bahkan para pekerja pembangunan mercusuar tersebut dikawal oleh elemen pasukan Korps Marinir TNI AL dengan ditambah patroli rutin dari KRI – KRI yang disiagakan di wilayah perairan Ambalat saat itu.

Pada kejadian saat itu, jelas KD Kerambit memilih untuk putar haluan mengarah kembali ke wilayah perairan Tawau, Malaysia. Kehadiran KRI Rencong di wilayah tersebut menghadang dan mengusir KD Kerambit tentu memberikan efek deteren tersendiri bagi elemen TLDM di wilayah perairan tersebut. Pasalnya, jika dilihat dari spesifikasi teknis, KD Kerambit bukanlah tandingan bagi KRI Rencong.

BACA JUGA :  Mengintip Video Pesawat Latih SR-10 Buatan Rusia, Baru Dengan Sayap Mutakhir

Berasal dari kelas Keris, kapal patroli milik TLDM ini memiliki ukuran panjang total 31,4 meter, jauh dibawah KRI Rencong yang memiliki panjang total 53,58 meter. Tentu, senjata yang dibawa oleh kedua kapal tersebut juga berbeda jauh. KD Kerambit hanya dipersenjatai dengan dua pucuk senapan mesin berat kaliber 12,7 milimeter dan dua unit meriam Bofors kaliber 40 milimeter.

Persenjataan kapal Malaysia tersebut jauh dibawah persenjataan KRI Rencong yang membawa meriam utama Bofors kaliber 57 milimeter dan rudal anti kapal Exocet MM38. Dari segi kecepatan, KD Kerambit juga tidak lebih cepat dari KRI Rencong. Kecepatan KD Kerambit maksimal 27 knot, sementara KRI Rencong saat itu mampu mencapai kecepatan maksimal 41 knot.

Seri Kapal Legendaris TNI AL : KRI Rencong 622
Seri Kapal Legendaris TNI AL : KRI Rencong 622. Salah satu foto kenang – kenangan hasil jepretan pribadi penulis yang menunjukkan KRI Rencong sedang sandar di dermaga Komando Arnada Timur RI (kini Koarmada II, red). Tampak Radar Pengendali Penembakan Signaal WM28 (bulatan bola warna putih, red) masih terpasang. Disebelahnya masih dari kelas yang sama dengan KRI Rencong, yakni KRI Keris 624.

Spesifikasi Teknis KRI Rencong 622

KRI Rencong 622 memiliki spesifikasi teknis sebagai berikut (konfigurasi awal pada tahun 1980) :

  • Panjang : 53,58 meter
  • Lebar (Beam): 8 meter
  • Draught : 1,63 meter
  • Kecepatan maksimum : 41 knots
  • Kecepatan jelajah : 12 knots
  • Jarak jelajah : 4.630 Km pada kecepatan 17 knots
  • Mesin : 1 – GE-Fiat LM-2500 gas turbine dan 2 – MTU 12V331 TC81 diesel engine
  • Bobot kosong : 255 ton
  • Bobot tempur : 290 ton
  • Rudal : Exocet MM38, kemudian akan digantikan SACCADE C-802
  • Meriam utama : Bofors 57 mm Mk.1
  • Meriam sekunder : Bofors L70 kaliber 40 mm dan dua unit Rheinmettal Rh202 kaliber 20 mm
  • Radar dan sensor : Radar Racal Decca 1226 dan Radar kendali penembakan Signaal WM-28 dan Selenia NA-18 serta sensor peperangan elektronik Thomson CSF DR-2000S Mk1.

Seri Kapal Legendaris TNI AL : KRI Rencong 622
Kondisi KRI Rencong 622 yang terbakar habis di perairan Sorong, Papua Barat. Tampak sebuah KAL memantau situasi sekitar lokasi terbakarnya KRI Rencong 622.

Akhir Tragis Pengabdian KRI Rencong 622

Selasa pagi, 11 September 2018, tepat sehari setelah peringatan HUT TNI Angkatan Laut yang ke 73, KRI Rencong yang sedang bertugas di wilayah perairan Sorong, Papua Barat. Kala itu, KRI Rencong hendak melaksanakan perbekalan ulang atau resupply air tawar di dermaga umum Pelabuhan Sorong. Pagi itu, kondisi cuaca nampak cerah dan lautan tampak bersahabat.

Sekitar pukul 07.00 WIT, kapal melaksanakan proses pemanasan mesin gas turbin. Dimulai dengan tahap start APU (Auxiliary Power Unit), mesin gas turbin pun menyala sejenak, kemudian mati. Merespon kejadian ini, awak kapal melakukan cek pada indikator kontrol mesin gas turbin tersebut dan mendapati tidak terjadi kelainan pada mesin gas turbin berdasarkan tampilan dari indikator kontrol mesin gas turbin tersebut.

Sebagai tindak lanjut, akhirnya dilaksanakan pengecekan langsung terhadap unit mesin gas turbin tersebut. Pada saat dilakukan cek langsung ke ruang mesin gas turbin, secara tiba-tiba muncul api dari ruangan tersebut. Para prajurit pengawak KRI tersebut langsung melakukan upaya pemadaman api yang lazim disebut “Peran Kebakaran”.

Namun demikian ternyata api tidak berhasil dipadamkan dan malah makin membesar. Sembari tetap berupaya mengatasi kebakaran yang terjadi, komandan kapal mengarahkan kapal untuk berlayar menuju daratan terdekat dan akhirnya memutuskan untuk lego jangkar didekat pulau Yefdoif, yang masih berada di wilayah perairan Sorong, Papua Barat.

BACA JUGA :  Gantikan Humvee, Oshkosh Defense Akan Produksi 258 Unit JLTV

Bukannya padam, api malah semakin membesar dan menyebabkan Black Out atau matinya aliran listrik pada kapal. Selain menyebabkan matinya aliran listrik di kapal, api juga mulai merambat mendekati ruang amunisi. Menyadari potensi bahaya meledaknya ruang amunisi kapal yang dapat terjadi kapan saja dan dapat menimbulkan korban jiwa, komandan kapal akhirnya memutuskan untuk mengeluarkan perintah “Peran Peninggalan” agar seluruh awak kapal perang tersebut segera meninggalkan kapal yang sudah terbakar.

Menjelang siang, api telah membakar habis bagian atas kapal dan kapal perlahan mulai tenggelam, salah satu kapal perang legendaris kebanggaan Satuan Kapal Cepat (Satkat) TNI Angkatan Laut tersebut akhirnya tenggelam di dekat pulau Yefdoif yang berada di perairan Sorong tersebut. Tanpa diiringi penghormatan, sang kapal akhirnya menjemput takdirnya tenggelam ke dasar laut setelah kurang lebih 38 tahun memperkuat jajaran armada TNI Angkatan Laut dan menjaga wilayah kedaulatan laut NKRI.

Seri Kapal Legendaris TNI AL : KRI Rencong 622
KRI Sampari dengan nomor lambung 628 yang disebut – sebut akan menggantikan peranan KRI Rencong 622. Tampak dalam foto KRI Sampari 628 sedang berlayar bersama KRI Singa 651 di wilayah perairan Balikpapan.

Pesan Penulis

Terbakar dan tenggelamnya KRI Rencong 622 sudah sepatutnya menjadi peringatan bagi pihak – pihak yang berwenang untuk sesegera mungkin meremajakan postur armada kapal perang yang dimiliki oleh TNI Angkatan Laut dengan kapal – kapal yang tidak saja baru, tetapi juga berkualitas dan sesuai dengan kebutuhan operasional TNI Angkatan Laut dalam mencapai visi Menjadi World Class Navy. Meskipun pemerintah telah menyebut bahwa KRI Rencong yang terbakar “sudah ada gantinya”, namun dalam opini penulis kapal pengganti KRI Rencong tersebut masih belum sebanding dengan KRI Rencong yang telah terbakar.

Secara singkat, kapal pengganti KRI Rencong yang dimaksud oleh pemerintah adalah KCR 60 M yang dibangun di galangan kapal dalam negeri, PT. PAL Indonesia (Persero). Kapal yang kemudian disebut sebagai kapal perang kelas Sampari ini sebenarnya jika dilihat secara umum melalui spesifikasi teknis yang tersedia, tidak lebih hebat pada beberapa aspek, dari KRI Rencong yang telah terbakar.

Sebut saja soal kecepatan maksimal. Jika dibandingkan, KRI dari kelas Sampari memiliki kecepatan maksimal 28 knot, ini jauh berada dibawah KRI dari kelas Mandau yang merupakan nama kelas dari KRI Rencong 622, yakni 41 knot. Satu-satunya keunggulan yang dimiliki oleh kapal cepat kelas Sampari ada pada persenjataan rudal anti-kapal C-705 yang jarak jangkau maksimalnya melebihi jarak jangkau maksimal dari rudal MM-38 Exocet, yakni sejauh 140 kilometer (Exocet MM-38 hanya memiliki jarak jangkau maksimal 70 kilometer).

Sudah selayaknya pemerintah dalam hal ini Kementerian Pertahanan mulai memikirkan masa depan satuan kapal perang yang ada di jajaran TNI Angkatan Laut. Indonesia mutlak membutuhkan kapal – kapal perang yang lebih besar, lebih kuat, lebih mutakhir, serta lebih berkualitas dari kapal – kapal perang yang telah lama memperkuat jajaran armada Angkatan Laut-nya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

SMX-31, kapal selam masa depan Prancis

SMX-31, kapal selam masa depan Prancis- Hobbymiliter.com. SMX-31 adalah suatu konsep kapal selam masa depan dari negeri Baguette. Konsep ini adalah unik karena memperkenalkan...

STRIL, Sistem koordinasi & datalink AU Swedia

Sejarah STRIL, Sistem Koordinasi & datalink AU Swedia- Hobbymiliter.com.  Bahwa Swedia terkenal sebagai salah satu negara di semenanjung Skandinavia yang bersifat independen atau dalam...

Bagaimana drone menaklukkan pertahanan udara ?

Bagaimana drone menaklukkan pertahanan udara ?- Hobbymiliter.com. Bidang Pertahanan udara dewasa ini memiliki sebuah pertanyaan,  utamanya setelah perang Suriah, Libya, serangan drone AS di...

Barbel Class, kapal selam diesel terakhir AS

Barbel Class, kapal selam diesel terakhir AS- hobbymiliter.com. Bahwa dewasa ini kita mengenal Angkatan laut AS utamanya dari armada kapal selam nuklirnya. Nama-nama seperti...

Recent Comments

black donkey{(revolution mindset)}>???? on MARINIR INDONESIA – AMERIKA BERBAGI ILMU DI SITUBONDO
Thomson Sirait on Kehidupan di KRI Makassar 590
Ananda Andriyo on Patroli di Tanah Papua
HobbyMiliter on Patroli di Tanah Papua