Friday, December 3, 2021
HomePasukan T Ronggolawe, Pasukan Pejuang Pelajar

Pasukan T Ronggolawe, Pasukan Pejuang Pelajar

SOT ini merupakan perpaduan antara program pendidikan perwira dan Sekolah Menengah Tinggi (SMT). Hal ini didasari pemikiran jika nantinya situasi telah pulih maka para pesertanya, yang pada dasarnya merupakan pelajar yang kemudian ikut berjuang, dapat meneruskan pendidikan mereka ke sekolah umum. Mayor Jendral Djatikusumo memerintahkan beberapa orang stafnya, Darsono (eks-Kepala Sekolah Guru), Soemarso (eks-CORO/Cursus voor Opleiding van Reserve Officieren – Sekolah Calon Perwira Cadangan Hindia Belanda) dan Sukamto (eks-PETA/Pembela Tanah Air – Paramiliter bentukan Jepang) untuk menyusun kurikulum SOT.

BACA JUGA :  Profil Satuan Brimob, Unit Paramiliter POLRI

Diperkirakan bila tidak ada halangan para peserta SOT dapat diangkat menjadi perwira dan terampil memimpin sampai tingkat kompi setelah mengikuti pendidikan selama 18 bulan. Mayor Jenderal GPH Djatikusumo sendiri yang memberikan pelajaran tentang kemiliteran sedangkan untuk pelajaran umum diberikan oleh beberapa guru sekolah menengah.

Regi I Pasukan T Ronggolawe
Regi I Pasukan T Ronggolawe.

Selain mendapat teori di kelas dan melakukan praktek lapangan para siswa SOT juga mendapat tugas dari Mayor Jenderal GPH Djatikusumo untuk mengawal pengangkutan para tawanan perang dan interniran Sekutu (APWI) dari Banyubiru (Ambarawa) ke Panasan (sekarang lapangan terbang Adisumarmo, Boyolali) untuk diterbangkan ke Jakarta atau Semarang. Mayor Jenderal GPH Djatikusumo memilih para siswa SOT untuk melaksanakan tugas ini karena lingkupnya internasional. Sebagai pelajar, para siswa SOT ini banyak yang menguasai bahasa Inggris dan Belanda Selain menjadi pengalaman bagi para siswa juga menunjukkan bahwa Indonesia mempunyai tentara yang teratur, disiplin dan mampu berkomunikasi dengan bahasa asing.

BACA JUGA :  Rekaman Penembakan MiG-23 Libya oleh F-14 di Teluk Sidra

Program SOT pun berakhir pada Juni 1946 dan diadakan ujian kemampuan tempur oleh Mayor Jenderal GPH Djatikusumo untuk menentukan kelulusan para siswa. Siswa yang lulus mendapat ijazah SOT yang ditandatangani oleh Letnan Jenderal Urip Sumoharjo sebagai Kepala Markas Besar Umum TKR dan Mayor Jenderal GPH Djatikusumo sebagai Komandan TKR Divisi IV. Kemudian dari peserta SOT ini ada yang melanjutkan ke sekolah umum (ke SMA dan Perguruan Tinggi) dan ada pula yang tetap dalam dinas militer. Hal ini sesuai dengan sifat perwira SOT sebagai perwira cadangan/reserve.

Hanung Jati Purbakusumahttps://www.hobbymiliter.com/
Sangat tertarik dengan literatur dunia kemiliteran. Gemar mengkoleksi berbagai jenis miniatur alutsista, terutama yang bertipe diecast dengan skala 1/72. Koleksinya dari pesawat tempur hingga meriam artileri anti serangan udara, kebanyakan diecast skala 1/72.

2 COMMENTS

  1. Aku bangga almarhum kakek ku dulu menjadi anggota pasukan divisi 5 ronggolawe, di bawah komando bpk sudarmono, aku anak cepu bangga kota cepu dulu menjadi markas divisi 5 ronggolawe.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Recent Comments

black donkey{(revolution mindset)}>???? on MARINIR INDONESIA – AMERIKA BERBAGI ILMU DI SITUBONDO
Thomson Sirait on Kehidupan di KRI Makassar 590
Ananda Andriyo on Patroli di Tanah Papua
HobbyMiliter on Patroli di Tanah Papua