Monday, November 23, 2020
Home Militer Kisah Militer Kiprah Detasemen Bomber Nuklir Handley Page Victor RAF Di Masa Konfrontasi RI-Malaysia

Kiprah Detasemen Bomber Nuklir Handley Page Victor RAF Di Masa Konfrontasi RI-Malaysia

Kiprah Detasemen Bomber Nuklir Handley Page Victor RAF Di Masa Konfrontasi RI-Malaysia – HobbyMiliter.com – Mungkin sebagian diantara anda pernah membaca artikel di beberapa media cetak dan media daring / media online soal kondisi Indonesia pada masa Konfrontasi dengan Malaysia yang kala itu begitu genting hingga Ibukota Jakarta bahkan nyaris akan di bom nuklir oleh pihak Inggris jika kekuatan militer Indonesia berupaya menguasai semenanjung Malaya dan mencoba mengambil alih juga wilayah Federasi Malaysia yang berada di daratan pulau Borneo (Kalimantan,red).

Pada masa genting tersebut, Angkatan Udara Inggris atau Royal Air Force (disingkat RAF,red) menyiagakan kekuatan tempurnya untuk melindungi negara Federasi Malaysia yang baru terbentuk kala itu dengan mengirimkan elemen pesawat tempur Gloster Javelin yang digunakan untuk menghadang pesawat tempur milik AURI kala itu, elemen pesawat pencegat Electric Lighting yang disiapkan untuk menghadang (dan bila mungkin melumpuhkan atau menjatuhkan) armada pesawat pembom strategis Tupolev Tu-16 Badger milik AURI, elemen pesawat angkut untuk memenuhi kebutuhan logistik pasukan darat yang sering kali terlibat kontak tembak dengan milisi sukarelawan bentukan Indonesia, serta elemen pesawat pembom strategis Avro Vulcan dan Handley Page Victor.

Elemen sistem senjata terakhir yang disebut oleh penulis inilah yang akan dibahas lebih lanjut dalam artikel kali ini. Pada masa kampanye Dwikora, yang oleh Inggris disebut sebagai masa Konfrontasi, pihak Inggris menganggap bahwa pemerintah Republik Indonesia yang kala itu dipimpin oleh Presiden Soekarno tidak main – main dengan ide menggunakan kekuatan militer yang dimiliki Indonesia untuk menggagalkan pembentukan negara Federasi Malaysia. Sebagai bentuk komitmen Kerajaan Britania Raya dalam melindungi negara bentukannya tersebut, dikirimkan kekuatan militer untuk “menandingi” dominasi militer Indonesia di kawasan Asia Tenggara kala itu.

Kali ini, HobbyMiliter.com akan menghadirkan kepada anda kiprah aset pesawat pembom strategis Handley Page Victor dalam menunjang operasi militer RAF di masa Konfrontasi RI-Malaysia.

Kiprah Detasemen Bomber Nuklir Handley Page Victor RAF Di Masa Konfrontasi RI-Malaysia
Kiprah Detasemen Bomber Nuklir Handley Page Victor RAF Di Masa Konfrontasi RI-Malaysia. Sebuah Gambar Cutaway Pesawat Pembom Strategis Handley Page Victor.
Sumber : Weapons and Warfare

Sejarah Singkat Pembom Strategis Handley Page Victor

Handley Page Victor adalah salah satu dari tiga varian pesawat pembom strategis “V-Bomber” yang dimiliki dan dioperasikan oleh AU Inggris / RAF. Merupakan jenis pesawat ketiga sekaligus yang terakhir dari program “V-Bomber”, Handley Page Victor dioperasikan bersama dengan Avro Vulcan dan Vickers Valiant. Terbang perdana pada tanggal 24 Desember 1952, Victor kemudian diperkenalkan ke layanan dinas AU Inggris / RAF pada bulan April 1958 setelah dibentuknya Skuadron No.10 di pangkalan udara RAF Cottesmore, Inggris.

Menjadi pesawat pembom terakhir yang melengkapi kelas “V-Bomber” di tubuh RAF, Victor menjalankan misi yang tidak jauh berbeda dari dua pesawat pendahulunya yakni Vickers Valiant dan Avro Vulcan. Didesain sebagai pesawat pembom yang mampu melakukan misi pemboman nuklir terhadap wilayah atau target penting di Uni Soviet, Handley Page Victor pada masa operasionalnya di Inggris disiapkan dengan kemampuan untuk dapat mengudara hanya empat menit setelah perintah serangan dengan bom nuklir dikeluarkan oleh pemerintah Inggris kala itu.

Selain didesain dengan kemampuan untuk menjatuhkan bom nuklir dari ketinggian penerbangan yang cukup tinggi, Handley Page Victor pada akhirnya juga mampu membuktikan kehandalannya untuk dapat mendekati area sasaran pada ketinggian rendah untuk menghindari deteksi sistem radar dan sistem senjata berbasis rudal pertahanan udara yang dikembangkan Uni Soviet kala itu.

Sistem radar dan rudal pertahanan udara Soviet yang oleh pihak intelijen Inggris kala itu disebut dapat mendeteksi Victor dari jarak 200 mil (321 kilometer) jauhnya membuat para pengawak bomber strategis besutan Handley Page ini harus mampu beradaptasi dengan taktik penyerangan yang menyusur ketinggian rendah dalam proses mendekati area sasaran.

Victor mampu melaksanakan serangan dengan taktik “baru” ini meski pada awalnya bomber tersebut hanya didesain untuk melakukan misi serangan dengan bom nuklir dari ketinggian jelajah yang sangat tinggi. Pendekatan terhadap area sasaran dengan menggunakan taktik ini dapat berhasil dilakukan berkat adanya perangkat Electronic Countermeasure atau ECM yang terpasang pada pesawat pembom nuklir tersebut.

Kiprah Detasemen Bomber Nuklir Handley Page Victor RAF Di Masa Konfrontasi RI-Malaysia
Kiprah Detasemen Bomber Nuklir Handley Page Victor RAF Di Masa Konfrontasi RI-Malaysia. Sebuah Pesawat Handley Page Victor Sedang Terbang Rendah Di Atas Semenanjung Malaya.
Sumber : finesthourwarbirds

Sejarah Singkat Konfrontasi RI – Malaysia

Pada medio tahun 1963 hingga 1966, Inggris terseret dalam konflik antara Indonesia dan Malaysia yang kala itu masih bernama Federasi Malaya, suatu negara yang belum terlalu lama berdiri. Indonesia melihat pembentukan Federasi Malaysia sebagai suatu niatan penyebaran paham Neo Kolonialisme dan Neo Imperialisme oleh blok Barat, khususnya Inggris pada masa itu. Presiden Soekarno mengancam akan menggagalkan segenap upaya untuk membentuk negara Federasi Malaysia ini.

Terlebih, upaya membentuk negara Federasi Malaysia ini dilakukan dengan melanggar Perjanjian Manila yang mana salah satu isinya adalah Federasi Malaya tidak akan membentuk negara Federasi Malaysia sebelum dilakukan jajak pendapat atau referendum dan atau pemilu untuk mengetahui kehendak masyarakat di Sabah dan Sarawak yang berada di daratan pulau Kalimantan.

Pemerintah Indonesia yang juga turut menandatangani perjanjian tersebut, merasa bahwa Federasi Malaya melanggar perjanjian tersebut dengan membentuk negara Federasi Malaysia secara sepihak tanpa mengadakan jajak pendapat atau pemilu di Sabah dan Sarawak. Federasi Malaysia dideklarasikan sebagai suatu negara pada tanggal 16 September 1963. Federasi ini beranggotakan negara Malaya, Singapura, Sabah, dan Sarawak.

Pemerintah Indonesia merespon pembentukan negara Federasi Malaysia itu sebagai suatu tindakan pelanggaran atas Perjanjian Manila yang sebelumnya telah ditandatangani oleh pemimpin tiga negara yakni Republik Indonesia, Federasi Malaya, dan Filipina. Sikap Filipina atas tindakan Federasi Malaya ini adalah memutuskan hubungan diplomatik. Tidak seperti Filipina, Republik Indonesia akhirnya mengambil langkah penyelesaian secara militer.

Soekarno menganggap pembentukan Federasi Malaysia sebagai suatu upaya penyebaran paham Neo-Kolonialisme dan Neo-Imperialisme Inggris. Kampanye militer Dwikora (Dwi Komando Rakyat) kemudian dimulai ditandai oleh pidato Soekarno yang terkenal kala itu yakni pidato Ganjang Malaysia.

Serangkaian aksi militer mulai dilakukan oleh Indonesia. Milisi Sukarelawan yang menyusup ke wilayah Sabah dan Sarawak mulai melancarkan aksi sabotase dan penyebaran propaganda. Konflik bersenjata semakin intens terjadi pada bulan – bulan berikutnya. Belasan Batalyon yang terdiri dari unsur KKO (Marinir kala itu), AURI (PGT – Pasukan Gerak Tjepat, cikal bakal Korpaskhas,red), dan RPKAD (cikal bakal Kopassus TNI AD), serta Menpor (Resimen Pelopor, Mobile Brigade, cikal bakal Korps Brimob) disiapkan untuk mulai menduduki wilayah Sabah, Sarawak, serta semenanjung Malaya. Selain menyiapkan pasukan militer dan membentuk milisi sukarelawan, Indonesia juga mulai menyiapkan Alutsistanya. Jet – jet tempur MiG-19 dan MiG-21, serta pesawat pembom strategis Tupolev Tu-16 Badger pun disiapkan untuk menyerang Malaysia dari udara.

BACA JUGA :  Indo Defence 2016 : PT. PAL Tandatangani MoU Dengan Boustead Untuk Membuat MRSS Pesanan AL Malaysia Di Indonesia

Menyikapi pergerakan militer Indonesia ini, akhirnya Inggris pun mengirimkan bantuan militernya untuk negara yang baru terbentuk itu. Selain mengirimkan pasukan militer nya ke daratan semenanjung dan pedalaman Kalimantan, militer Inggris juga mengirimkan aset – aset Alutsista yang dimilikinya ke wilayah “hotspot” tersebut. Angkatan Udara Inggris atau Royal Air Force kemudian juga mengerahkan sebagian kekuatan yang mereka miliki ke area tersebut.

Jet tempur Gloster Javelin dikirimkan dengan misi menghadang petempur MiG-19 yang dimiliki AURI, sementara jet tempur sergap English Electric Lghtning dikirimkan dengan misi menghadang petempur MiG-21 serta pembom strategis Tu-16 Badger. Apabila dibutuhkan pesawat-pesawat tempur tersebut diperbolehkan untuk menjatuhkan Tu-16 Badger milik AURI kala itu.

Dan tidak lupa sebagai pelengkap sekaligus pengimbang daya gentar (Detterence), RAF mengirimkan Detasemen Bomber Strategis yang dimilikinya. Dikenal dengan istilah “V-Force” ; RAF mengirimkan armada pembom jarak jauh Avro Vulcan beserta Handley Page Victor pada fase awal konflik. Karena kendala teknis dialami oleh armada Avro Vulcan yang dikirim, maka peranan kekuatan pemukul strategis ini kemudian diemban secara penuh oleh unit – unit pesawat pembom strategis Handley Page Victor.

Kiprah Detasemen Bomber Nuklir Handley Page Victor RAF Di Masa Konfrontasi RI-Malaysia
Kiprah Detasemen Bomber Nuklir Handley Page Victor RAF Di Masa Konfrontasi RI-Malaysia. RAF Tengah, Singapura, 1965. Tampak Armada Pesawat Dan Helikopter Milik AU Inggris Disiagakan.
Sumber : finesthourwarbirds

Handley Page Victor, Bertugas Di Malaya

Diawali datangnya unit – unit pesawat pembom strategis jarak jauh Handley Page Victor dan Avro Vulcan, maka genaplah sudah upaya AU Inggris melindungi negeri bekas koloni nya ini dari ancaman aset udara kekuatan militer Indonesia. Awalnya, unit pesawat pembom strategis Victor yang datang ke wilayah semenanjung Malaya ini berasal dari Skuadron No. 15 yang bermarkas di Cottesmore. Kemudian saat diadakan rotasi, dikirimkan armada pesawat pembom strategis jarak jauh Avro Vulcan untuk menggantikan posisi Victor sebagai kekuatan “V-Bomber” di semenanjung Malaya.

Pada rotasi tersebut, ditemukan adanya kendala teknis terutama masalah pada mesin yang membuat armada pesawat pembom strategis jarak jauh Avro Vulcan yang merupakan bagian dari Skuadron No. 12 tersebut ditarik. Iklim tropis yang terjadi di Asia Tenggara merupakan kendala yang rupanya cukup untuk memaksa AU Inggris menarik armada Avro Vulcan mereka kembali ke tanah Inggris, untuk selanjutnya kembali mengerahkan Handley Page Victor sebagai kekuatan bomber strategis jarak jauh mereka di Malaysia. Adapun unit Victor yang menggantikan Vulcan di semenanjung Malaya yakni unit pesawat dari Skuadron No. 55 dan 57 yang bermarkas di Honington.

Unit-unit detasemen pesawat pembom strategis asal Inggris ini kemudian ditempatkan di pangkalan udara AU Inggris di RAF Tengah, Singapura dan pangkalan AU Australia di RAAF Butterworth, Penang, Malaysia.

Dalam penugasannya, unit pembom strategis Victor digunakan sebagai “kartu As” Inggris jika daratan Malaysia sampai di bom oleh pesawat – pesawat pembom AURI kala itu (Tu-16 Badger). Selain menjadi penggentar bagi unsur militer Indonesia, unit – unit pembom strategis asal Inggris tersebut juga diberi tugas untuk melakukan patroli pengintaian maritim guna mencegah masuknya unsur sukarelawan dari Indonesia yang melakukan infiltrasi ke wilayah – wilayah Malaysia saat itu melalui jalur laut dan udara.

Dalam masa penugasan di wilayah Konfrontasi, para pengawak pesawat pembom strategis AU Inggris tersebut juga melakukan serangkaian latihan tempur. Termasuk diantaranya latihan tempur yang dilaksanakan untuk menurunkan moral dan semangat juang kubu Indonesia, yakni demonstrasi pengeboman skala besar dengan mempertontonkan kemampuan utama pembom strategis Handley Page Victor ini, membawa beban muatan maksimal 35 unit bom yang masing-masing memiliki berat 1.000 pon. Ini adalah salah satu demonstrasi dari dua kemampuan utama pembom strategis asal Inggris tersebut, selain kemampuan utamanya menjadi pembom nuklir.

Kiprah Detasemen Bomber Nuklir Handley Page Victor RAF Di Masa Konfrontasi RI-Malaysia
Kiprah Detasemen Bomber Nuklir Handley Page Victor RAF Di Masa Konfrontasi RI-Malaysia. Selain Disiagakan Untuk Membom Kota-Kota Strategis Di Indonesia, Handley Page Victor Juga Digunakan Untuk Operasi Pengintaian dan Patroli Maritim.
Sumber : finesthourwarbirds

Maritime Radar Recconnaissance, Misi Tambahan Pembom Inggris Di Malaya

Selain bertindak sebagai elemen balasan jika terjadi invasi besar-besaran atau pengeboman strategis terhadap wilayah daratan Malaya, Detasemen pembom nuklir Handley Page Victor juga melakukan misi pengintaian maritim terhadap adanya kemungkinan penambahan kekuatan militer di perairan Indonesia dan kemungkinan adanya upaya-upaya penyusupan sukarelawan dari Indonesia melalui wilayah laut dan udara. Misi – misi Maritime Radar Recconnaissance atau yang biasa disingkat MRR ini dilaksanakan dengan menerbangkan unit – unit pembom strategis Handley Page Victor menuju wilayah udara yang berbatasan dengan wilayah udara Indonesia.

Para pilot pesawat pembom strategis tersebut dituntut mampu membawa pesawat mendekat sedekat mungkin dengan wilayah RI tanpa terdeteksi sistem pertahanan udara milik Republik Indonesia. Sebuah tantangan yang apabila dapat dilaksanakan dengan baik maka akan membuahkan hasil berupa data intelijen tentang dislokasi, konsentrasi, serta pergerakan unsur militer dan sukarelawan Indonesia.

Pelaksanaan misi MRR dilakukan dengan taktik terbang tinggi dimana sistem pertahanan udara milik Indonesia tidak dapat mendeteksi keberadaan pesawat pembom tersebut melalui pantauan radar dan pantauan visual dari mata. Ini dikarenakan pesawat terbang di ketinggian yang cukup tinggi yakni diatas 50.000 kaki dari permukaan laut.

Dengan melaksanakan misi MRR, pihak Inggris dapat mengetahui dengan mudah apabila terjadi penambahan kekuatan militer Indonesia di sekitar wilayah Konfrontasi. Selain itu, apabila akan terjadi upaya penyusupan sukarelawan dari Indonesia ke daratan Malaysia, juga dapat diketahui lebih cepat melalui misi penerbangan MRR yang dilaksanakan oleh unit – unit Victor dari detasemen bomber ini.

BACA JUGA :  Menhan Pakistan: Jika Perlu, Pakai Senjata Nuklir Untuk Melawan India!

Kiprah Detasemen Bomber Nuklir Handley Page Victor RAF Di Masa Konfrontasi RI-Malaysia
Kiprah Detasemen Bomber Nuklir Handley Page Victor RAF Di Masa Konfrontasi RI-Malaysia. Tampak Dekat (Close Up) Sebuah Pembom Handley Page Victor Selepas Melakukan Misi MRR.
Sumber : finesthourwarbirds

Pitot Static System Membeku Ditengah Badai

Sebuah kisah menarik terjadi pada salah satu unit pembom Victor ini saat sedang dalam perjalanan kembali ke pangkalan setelah melakukan misi MRR tersebut. Suatu ketika saat sebuah pesawat pembom strategis Victor ini selesai melaksanakan MRR dan sedang dalam perjalanan kembali ke pangkalan, di ketinggian lebih dari 50.000 kaki, para pengawak pesawat pembom ini bertemu dengan badai tropis.

Masalah datang bukan hanya dari hadirnya badai tropis yang memaksa pengawak pesawat untuk berusaha lebih keras agar pesawat dapat kembali ke pangkalan dengan selamat, tetapi juga timbulnya pembekuan / icing yang cukup parah pada perangkat Pitot Static System yang dipasang di pesawat tersebut. Perangkat Pitot Static System yang dipasang pada suatu pesawat berguna sebagai alat pendeteksi yang mampu memberikan informasi penting mengenai airspeed / kecepatan udara, altitude / ketinggian, serta Mach number / bilangan Mach. Perangkat Pitot Static System yang dipasang pada pembom Handley Page Victor hanya dipanaskan oleh sistem pemanas bertenaga listrik arus DC saja.

Karena pesawat terjebak dalam badai, maka perangkat Pitot Static System mengalami pembekuan yang parah hingga membuat lubang – lubang pada Pitot Tube tertutup lapisan es. Ini berbahaya bagi pilot dan pengawak pesawat karena mereka tidak dapat mengetahui dengan pasti berapa kecepatan mereka saat ini, berada pada ketinggian berapakah mereka saat ini, yang membuat mereka kesulitan untuk mendaratkan pesawat kembali ke pangkalan. Tanpa informasi yang pasti mengenai kecepatan serta ketinggian mereka, hanya kemampuan dasar dalam menerbangkan pesawat secara manual-lah yang dapat membantu mereka kembali dengan selamat ke pangkalan.

Kiprah Detasemen Bomber Nuklir Handley Page Victor RAF Di Masa Konfrontasi RI-Malaysia
Kiprah Detasemen Bomber Nuklir Handley Page Victor RAF Di Masa Konfrontasi RI-Malaysia. Formasi Avro Lancaster, Handley Page Victor, English Electric Canberra. Ini Adalah Formasi Unik Mengingat Kesemuanya Merupakan Pesawat Pembom Yang Kesemuanya Diproduksi Oleh Industri Pertahanan Asal Inggris.
Sumber : finesthourwarbirds

Tes Instrument Rating Dibantu Avro Lancaster

Sebuah bantuan kecil datang dalam wujud yang unik. Menghadapi adanya kemungkinan kejadian membekunya pitot static system terulang dikemudian hari, para pilot penerbang pesawat pembom Handley Page Victor yang tergabung dalam unsur detasemen pembom yang disiagakan selama Konfrontasi mulai kembali berlatih terbang hanya mengandalkan perangkat instrumentasi yang ada di kokpit pesawat. Sehubungan dengan ini, perlu diadakan serangkaian latihan dan uji terbang Instrument Rating bagi pilot pesawat pembom Victor yang tergabung dalam detasemen bomber tersebut.

Bantuan datang dari sebuah pesawat pembom berat era Perang Dunia ke II, Avro Lancaster. Pada awal bulan Mei 1965, sebuah Avro Lancaster terbang dari RAAF Butterworth dengan tujuan ke Kolkata, India, dalam sebuah perjalanan panjang yang dimulai dari Australia menuju ke bandara Biggin Hill di kota London, Inggris. Pada waktu itu, pesawat itu ialah pesawat pembom Avro Lancaster terakhir di dunia yang masih bisa terbang. Pesawat dengan registrasi G-ASXX tersebut membantu tim pilot dari detasemen pembom nuklir Handley Page Victor yang ditempatkan di semenanjung Malaya tersebut untuk melakukan uji Instrument Rating yakni latihan terbang dengan hanya mengandalkan perangkat instrumentasi di kokpit pesawat.

Dalam penerbangan menuju Kolkata tersebut, Avro Lancaster itu bertindak sebagai observer atau pengawas yang mengukur tingkat keberhasilan uji terbang Instrument Rating yang dilaksanakan oleh pilot pesawat pembom nuklir Handley Page Victor tersebut. Formasi terbang terdiri dari tiga unit pesawat, didepan, adalah Avro Lancaster, sedang di sisi kiri belakang, adalah pembom Handley Page Victor, dan di sebelah kanan belakang, adalah pembom taktis English Electric Canberra.

Kini, sang Avro Lancaster penolong detasemen pembom nuklir RAF di Malaya tersebut telah pensiun dan dapat dilihat di Lincolnshire Aviation Heritage Centre yang berada di East Kirkby, Inggris. Avro Lancaster ini kemudian mendapat nama julukan (Nickname) “Just Jane”.

Kiprah Detasemen Bomber Nuklir Handley Page Victor RAF Di Masa Konfrontasi RI-Malaysia
Kiprah Detasemen Bomber Nuklir Handley Page Victor RAF Di Masa Konfrontasi RI-Malaysia.
Pembom Handley Page Victor Sanggup Membawa 35 Unit Bom 1000 Pon.
Sumber : finesthourwarbirds

Wall Of Water, Ketika Victor Jatuhkan Muatan Bom Maksimal Untuk Terakhir Kalinya

Dalam spesifikasi teknis nya, Handley Page Victor didesain untuk mampu mengangkut dan menjatuhkan sebanyak 35 unit bom konvensional yang masing-masing memiliki bobot 1.000 pon atau setara dengan 453 kilogram per unit nya. Jadi secara keseluruhan satu unit pembom strategis Handley Page Victor mampu membawa dan menjatuhkan muatan bom maksimal hingga 15,8 ton! Sebuah angka yang cukup besar pada masa itu.

RAF (AU Inggris) berkeinginan untuk melemahkan semangat juang Indonesia dengan cara mengadakan suatu demonstrasi kemampuan. Singkatnya, AU Inggris ingin show-off kepada Indonesia. Victor dipilih untuk menjalankan misi Wall Of Water. Misi ini yakni sebuah penerbangan dimana pembom strategis milik AU Inggris tersebut akan menjatuhkan muatan bom maksimalnya (35 unit bom 1.000 pon) secara berurutan dan meledakkannya di permukaan laut untuk membuat sebuah “dinding air” yang ditimbulkan oleh ledakan dari ke-35 unit bom tersebut.

Inggris mengundang banyak wartawan dari media swasta yang berasal dari negara itu sendiri dan juga beberapa negara lainnya. Harapannya, dengan dilakukan demonstrasi kekuatan AU Inggris ini dapat menurunkan tensi di kawasan tersebut dan membuat Indonesia untuk memikirkan kembali keputusan Konfrontasi yang sudah mereka buat. Istilah kerennya, misi ini adalah misi psy war atau perang urat syaraf alias perang psikologis.

Kiprah Detasemen Bomber Nuklir Handley Page Victor RAF Di Masa Konfrontasi RI-Malaysia
Kiprah Detasemen Bomber Nuklir Handley Page Victor RAF Di Masa Konfrontasi RI-Malaysia. Buku Log Pilot Pembom Victor Yang Menunjukkan Kesuksesan Menjatuhkan Muatan 35 Unit Bom Yang Masing-Masing Berbobot 1000 Pon.
Sumber : thefinesthourwarbirds

Sebuah pesawat pembom strategis Handley Page Victor dengan nomor registrasi XH621 terbang menuju ke area demonstrasi kemampuan di perairan China Rock Range, sebuah wilayah tempat diadakannya uji coba penembakan dan latihan tempur, yang berada dekat dengan kota Johor Baru, Malaysia. Setelah dua kali gagal melakukan bombing run atau manuver pengeboman, akhirnya pesawat pembom strategis itu berhasil menjatuhkan sebanyak 35 unit bom secara akurat dan mampu membuat Wall Of Water pada manuver bombing run ketiga.

Ledakan demi ledakan saling bersahutan saat semua 35 unit bom 1.000 pon tersebut menghantam permukaan air. Wall Of Water berhasil diciptakan, para wartawan pun mengabadikan momen bersejarah tersebut. Pesawat pembom strategis Handley Page Victor dengan nomor registrasi XH621 pun berhasil mendarat dengan selamat di Changi, Singapura. Mission Accomplished, ini adalah kali terakhir unit pesawat pembom strategis Handley Page Victor menjatuhkan muatan maksimal yang sanggup dibawanya. Kali pertama pesawat ini menjatuhkan muatan maksimal yang dapat dibawanya adalah pada saat menjalani uji coba sebelum diserahkan ke AU Inggris.

BACA JUGA :  Korut Izinkan CNN Mewawancarai Tahanan Warga Negara AS Mereka

Kiprah Detasemen Bomber Nuklir Handley Page Victor RAF Di Masa Konfrontasi RI-Malaysia
Kiprah Detasemen Bomber Nuklir Handley Page Victor RAF Di Masa Konfrontasi RI-Malaysia. Pangkalan Udara RAF Tengah, Singapura. Pangkalan Ini Digunakan Inggris Secara Rahasia Untuk Menyimpan Bom Nuklir Taktis Red Beard.
Sumber : thefinesthourwarbirds

Bom Nuklir Red Beard, Muatan Utama Handley Page Victor Milik RAF Di Malaya

Satu hal yang menarik, terkait pengiriman detasemen pesawat pembom strategis Handley Page Victor di wilayah Semenanjung Malaya, adalah fakta bahwa pemerintah Inggris bukan hanya mendatangkan pesawat pembom saja, tetapi juga munisi berupa bom nuklir taktis Red Beard. Pemerintah Inggris menganggap bahwa ancaman Sukarno untuk mengganyang Malaysia bukan suatu omong kosong hingga mereka harus menyiapkan bom nuklir taktis tersebut sebagai sebuah “Kartu As” untuk membuat presiden Sukarno berpikir ulang sebelum memutuskan melakukan invasi skala besar.

Tidak tanggung-tanggung, perintah pengerahan bom nuklir taktis Red Beard ini datang langsung dari perdana menteri Inggris kala itu yakni Harold Macmillan. Perintah pengerahan bom nuklir taktis ke semenanjung Malaya itu pun dikeluarkan pada tahun 1962 secara rahasia. Saking rahasianya, hanya Amerika Serikat yang mengetahui akan pengerahan bom nuklir ini ke Semenanjung Malaya, lebih tepatnya ke RAF Tengah, di Singapura.

Jumlah bom nuklir Red Beard yang dikerahkan ke Singapura saat itu sangat simpang siur. Meski demikian banyak pihak menduga RAF Tengah mampu menyimpan hingga 48 unit bom nuklir taktis tersebut. Namun demikian jumlah pasti berapa unit bom nuklir taktis Red Beard yang dikirim ke Singapura masih belum diketahui.

Bom nuklir taktis Red Beard Mk.2 No.2 memiliki daya ledak hingga 25 kiloton TNT. Sebagai pembanding, bom atom yang meluluhlantakkan kota Hiroshima dan Nagasaki memiliki daya ledak antara 12-15 kiloton TNT. Rencananya, bom nuklir taktis ini akan digunakan untuk menghancurkan kota-kota penting di pulau Jawa, seperti Jakarta, dan Surabaya jika Indonesia menjatuhkan bom ke daratan Malaysia pada waktu itu.

Kiprah Detasemen Bomber Nuklir Handley Page Victor RAF Di Masa Konfrontasi RI-Malaysia
Kiprah Detasemen Bomber Nuklir Handley Page Victor RAF Di Masa Konfrontasi RI-Malaysia. Unit – Unit Pembom Victor Saat Tiba Di Darwin, Mereka Berhasil Melintasi Ruang Udara RI Tanpa Terdeteksi.
Sumber : thefinesthourwarbirds

The Big Intruder, Kala Victor RAF Melewati Ruang Udara RI Tanpa Terdeteksi

Selain menjalankan misi MRR, latihan pengeboman, serta demonstrasi kekuatan dihadapan para wartawan, ada satu misi unik yang sukses dijalankan oleh detasemen pembom strategis berkemampuan nuklir Handley Page Victor yang disiagakan di Malaya. Pada awal bulan Juni 1965, sebanyak 4 unit pesawat pembom Victor dari detasemen pembom V-Bomber milik RAF (AU Inggris) yang disiagakan di Malaya pada masa Konfrontasi ini diberi misi rahasia untuk terbang ke Darwin.

Kedatangan 4 unit pesawat ini harus dirahasiakan semaksimal mungkin. Tujuan utama misi rahasia ini adalah menguji sistem radar pertahanan udara yang baru yang mulai digunakan oleh RAAF (AU Australia). Normalnya, sistem radar pertahanan udara milik RAAF (AU Australia) akan mendeteksi kedatangan pesawat Victor ini dan AU Australia akan meluncurkan pesawat jet tempur Mirage III untuk melakukan pencegatan atau intersep. Namun kali ini, keempat pesawat pembom berbadan besar ini harus bisa menghindari deteksi dari sistem radar tersebut.

Selain unsur pendadakan serta kerahasiaan misi, keunikan lain yang membuat misi ini menjadi misi yang cukup bergengsi adalah fakta bahwa mereka harus terbang melalui ruang udara RI, yang mana pada saat itu bisa saja mereka terdeteksi sistem pertahanan udara kita kala itu dan jika mereka terdeteksi maka mereka akan di intersep dan dipaksa mendarat, atau kemungkinan terburuknya, ditembak jatuh oleh jet-jet tempur AURI kala itu. Tanpa rasa takut, keempat pesawat Victor kemudian meluncur dari RAF Butterworth yang berada di wilayah semenanjung Malaya menuju ke Darwin, Australia.

Setelah berhasil menghindari deteksi sistem radar dan sistem senjata pertahanan udara RI dengan terbang di ketinggian yang cukup tinggi, keempat pesawat pembom strategis itu menurunkan ketinggian jelajahnya ke ketinggian yang relatif lebih rendah setelah keluar dari area deteksi radar pertahanan udara RI. Penerbangan di ketinggian yang rendah inilah yang digunakan sebagai manuver utama dari keempat pesawat untuk menghindari sistem deteksi radar pertahanan udara Australia yang baru tersebut.

Misi ini sangat sukses, tidak ada satupun personel pengawak sistem radar yang tahu kapan pesawat ini datang dan para pengawak sistem radar ini baru tahu kalau mereka kedatangan “tamu tak diundang” saat mereka mulai mendengar deru mesin pesawat-pesawat pembom strategis tersebut yang terbang melewati stasiun radar mereka. Pada akhirnya, keempat pesawat tersebut berhasil mendarat dengan selamat  di Darwin, untuk selanjutnya mengikuti latihan bersama dengan unsur pesawat – pesawat dari AU Australia yang bertajuk “Exercise Short Acrux”.

Kiprah Detasemen Bomber Nuklir Handley Page Victor RAF Di Masa Konfrontasi RI-Malaysia
Kiprah Detasemen Bomber Nuklir Handley Page Victor RAF Di Masa Konfrontasi RI-Malaysia. Meski Dipersenjatai Dengan Bom Konvensional Dan Bom Nuklir, Untungnya Detasemen Bomber Strategis Inggris Ini Tidak Sampai Harus Menjatuhkan Muatannya Ke Kota-Kota Strategis Di Indonesia. Tampak Dalam Gambar Proses Pemuatan Munisi Bom Konvensional Kedalam Bomb Bay Pesawat Pembom Strategis Handley Page Victor Dilakukan Di Pangkalan RAF Tengah, Singapura.
Sumber : thefinesthourwarbirds

Akhir Kisah Detasemen Pembom Nuklir Handley Page Victor Di Malaya

Kondisi politik dalam negeri Indonesia yang semakin memburuk di akhir tahun 1965, ditambah adanya insiden 30 September 1965 membuat Konfrontasi sedikit demi sedikit mereda. Ketika diketahui oleh pihak Inggris bahwa pengerahan bomber strategis bersenjata bom nuklir taktis sudah tidak terlalu dibutuhkan, maka detasemen pembom nuklir Handley Page Victor akhirnya ditarik dari wilayah semenanjung Malaya. Detasemem pembom nuklir strategis Handley Page Victor terakhir ditarik dari RAF Tengah, Singapura pada tahun 1970.

Sementara itu, salah satu anggota pesawat yang tergabung dalam detasemen pembom nuklir Victor tersebut, yakni pembom Victor dengan nomor registrasi XH621 mengalami akhir yang kurang baik. Ia di scrap alias dibesitua kan di pangkalan RAF St Athan pada pertengahan hingga akhir tahun 1970-an. Tidak diketahui secara pasti pada masa itu apakah unsur bom nuklir taktis Red Beard juga ikut ditarik dari RAF Tengah atau belum.

Demikianlah kisah detasemen bomber nuklir strategis Handley Page Victor milik AU Inggris (RAF) di semenanjung Malaya pada masa Konfrontasi antara Malaysia dengan Indonesia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

SMX-31, kapal selam masa depan Prancis

SMX-31, kapal selam masa depan Prancis- Hobbymiliter.com. SMX-31 adalah suatu konsep kapal selam masa depan dari negeri Baguette. Konsep ini adalah unik karena memperkenalkan...

STRIL, Sistem koordinasi & datalink AU Swedia

Sejarah STRIL, Sistem Koordinasi & datalink AU Swedia- Hobbymiliter.com.  Bahwa Swedia terkenal sebagai salah satu negara di semenanjung Skandinavia yang bersifat independen atau dalam...

Bagaimana drone menaklukkan pertahanan udara ?

Bagaimana drone menaklukkan pertahanan udara ?- Hobbymiliter.com. Bidang Pertahanan udara dewasa ini memiliki sebuah pertanyaan,  utamanya setelah perang Suriah, Libya, serangan drone AS di...

Barbel Class, kapal selam diesel terakhir AS

Barbel Class, kapal selam diesel terakhir AS- hobbymiliter.com. Bahwa dewasa ini kita mengenal Angkatan laut AS utamanya dari armada kapal selam nuklirnya. Nama-nama seperti...

Recent Comments

black donkey{(revolution mindset)}>???? on MARINIR INDONESIA – AMERIKA BERBAGI ILMU DI SITUBONDO
Thomson Sirait on Kehidupan di KRI Makassar 590
Ananda Andriyo on Patroli di Tanah Papua
HobbyMiliter on Patroli di Tanah Papua